Pertama Kalinya dalam Sejarah! Indonesia Tersingkir dari Fase Grup Piala Thomas 2026, Rekor Buruk Picu Kritik Netizen

Indonesia tersingkir dari thomas cupIndonesia tersingkir dari thomas cup
Sejarah Kelam! Tim Thomas Indonesia Gugur di Fase Grup Usai Dihajar Prancis 1-4

INBERITA.COM, Kegagalan tim bulu tangkis Indonesia di Piala Thomas 2026 menjadi pukulan telak yang langsung memicu gelombang kritik luas dari publik.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah keikutsertaan, Indonesia harus tersingkir di fase grup, sebuah hasil yang dinilai sebagai kemunduran besar bagi negara yang selama ini dikenal sebagai salah satu raksasa bulu tangkis dunia.

Langkah Indonesia terhenti setelah menelan kekalahan telak 1-4 dari Prancis dalam laga penentuan Grup D.

Hasil ini sekaligus mencatatkan rekor terburuk sepanjang sejarah tim Merah Putih di ajang tersebut, melampaui pencapaian terendah sebelumnya saat hanya mampu mencapai perempat final pada edisi 2012.

Sejak partai pembuka, tekanan sudah terasa. Jonatan Christie gagal menyumbangkan poin setelah takluk dari Christo Popov dengan skor 19-21, 14-21. Kekalahan ini langsung menempatkan Indonesia dalam posisi tertinggal.

Situasi semakin sulit ketika Alwi Farhan juga tidak mampu membendung permainan Alex Lanier. Alwi kalah dua gim langsung 16-21, 19-21, membuat Prancis memperlebar keunggulan menjadi 0-2.

Harapan untuk bangkit pupus di sektor ganda putra. Pasangan Sabar Karyaman Gutama / Moh Reza Pahlevi Isfahani harus mengakui keunggulan duet Eloi Adam / Leo Rossi dengan skor identik 19-21, 19-21.

Kekalahan ini memastikan Indonesia tertinggal 0-3 sekaligus dipastikan tersingkir bahkan sebelum seluruh partai selesai.

Dominasi Prancis berlanjut hingga skor menjadi 0-4. Di partai terakhir, pasangan Fajar Alfian / Muhammad Shohibul Fikri berhasil mempersembahkan satu-satunya poin bagi Indonesia setelah mengalahkan pasangan Popov bersaudara dengan skor 21-18, 19-21, 21-11. Hasil akhir pun ditutup dengan kekalahan 1-4.

Selain kekalahan di laga penentuan, hasil minor juga datang dari partai lain, termasuk kekalahan dramatis Anthony Sinisuka Ginting dari Toma Junior Popov dengan skor 22-20, 15-21, 20-22 yang semakin mempertegas kegagalan Indonesia di fase grup.

Kekalahan ini menjadi catatan kelam dalam sejarah panjang kejayaan Indonesia di Piala Thomas. Dengan koleksi 14 gelar, Indonesia selama ini dikenal sebagai tim tersukses di ajang tersebut.

Bahkan dalam tiga edisi terakhir sebelum 2026, Indonesia selalu mampu menembus partai final. Namun, realita di lapangan kali ini menunjukkan penurunan performa yang signifikan.

Kekecewaan publik pun meluap di media sosial. Banyak warganet mempertanyakan arah pembinaan atlet dan performa tim dalam beberapa tahun terakhir.

“Bayangkan peraih terbanyak Piala Thomas gagal lolos fase grup. Sejak gagal raih emas di Olimpiade harusnya berbenah, ini malah semakin mundur,” tulis akun @widodocahblora.

“Inilah Indonesia, negara yang paling sering menggondol Piala Thomas, mungkin pertama kali dalam sejarah gugur di fase grup dan dikalahkan Prancis 4-1. Bahkan 10 tahun lalu hal ini tak terpikirkan,” tulis akun @spektrumku.

“Tim Thomas Indonesia gagal lolos fase grup itu mungkin seperti Italia gagal ke Piala Dunia,” cuit akun @mtheresia26.

Reaksi tersebut mencerminkan tingginya ekspektasi publik terhadap tim bulu tangkis nasional yang selama ini menjadi salah satu simbol kebanggaan olahraga Indonesia di kancah internasional.

Di sisi lain, kekecewaan juga terlihat dari para pemain. Fajar Alfian bahkan tampak tak kuasa menahan air mata saat berjalan menuju lapangan, menggambarkan betapa berat hasil ini bagi tim.

Gelombang kritik yang muncul kini menjadi tekanan sekaligus pengingat bagi PBSI untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh. Sejumlah aspek menjadi sorotan, mulai dari sistem pembinaan atlet, regenerasi pemain, hingga kesiapan mental saat menghadapi tekanan di level elite.

Kegagalan ini memang menjadi pekerjaan rumah besar, tetapi juga berpotensi menjadi titik balik bagi kebangkitan bulu tangkis Indonesia.

Publik kini menanti langkah konkret dan strategi baru agar Indonesia dapat kembali ke jalur juara dan mempertahankan reputasinya sebagai kekuatan utama di panggung dunia.