INBERITA.COM, Presiden Turkiye Recep Tayyip Erdogan kembali mencuri perhatian panggung geopolitik dengan rencana ambisiusnya membeli ratusan pesawat buatan Amerika Serikat (AS).
Tak hanya sekadar belanja, Erdogan juga menuntut agar sebagian komponen pesawat tersebut diproduksi langsung di Turkiye, sebagai bagian dari strategi memperkuat industri pertahanan dalam negeri sekaligus memperbaiki hubungan yang sempat memburuk dengan Washington.
Dalam rencana yang masih dibahas intensif ini, Erdogan mengincar pesawat komersial Boeing serta jet tempur produksi Lockheed Martin.
Langkah tersebut dikabarkan akan dibarengi dengan permintaan transfer produksi bernilai lebih dari 10 miliar dolar AS atau setara dengan Rp166 triliun.
Dana sebesar itu diarahkan untuk menjamin keterlibatan industri dalam negeri Turkiye dalam rantai pasok global alutsista dan pesawat komersial AS.
Sumber yang mengetahui langsung perundingan ini menyebut, rencana pembelian dan kerja sama strategis ini masih menunggu lampu hijau dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Erdogan dijadwalkan bertemu langsung dengan Trump di Gedung Putih pada Kamis mendatang untuk membahas kesepakatan tersebut secara lebih rinci.
Pertemuan ini bukan hanya penting dari sisi ekonomi, tetapi juga strategis secara diplomatik.
Hubungan Turkiye–Amerika Serikat sempat berada di titik nadir sejak 2019, ketika Ankara memutuskan membeli sistem pertahanan rudal S-400 dari Rusia.
Keputusan itu memicu respons keras Washington yang kemudian menjatuhkan sanksi berdasarkan Undang-Undang CAATSA (Countering America’s Adversaries Through Sanctions Act).
Tak hanya itu, Turkiye juga dikeluarkan dari program jet siluman F-35, meski sebelumnya turut menyuplai sejumlah komponen penting bagi pesawat generasi kelima tersebut.
Namun kini, Erdogan tampaknya mencoba membuka kembali pintu yang tertutup. Menurut informasi yang dilansir dari Bloomberg, Turkiye berharap Trump bersedia melonggarkan sanksi CAATSA.
Bila berhasil, Ankara akan kembali diizinkan membeli 40 unit jet F-35A, serta memungkinkan 10 perusahaan Turkiye yang sebelumnya terlibat dalam produksi komponen F-35 senilai total sekitar 12 miliar dolar AS untuk kembali beroperasi.
Salah satu perusahaan itu, Turkish Aerospace Industries, diketahui bertanggung jawab atas pembuatan bagian fuselage atau badan utama pesawat.
Tak berhenti di F-35, Erdogan juga tengah memfinalisasi pembelian 40 unit jet tempur generasi terbaru F-16 Viper dari Amerika Serikat. Paket pembelian ini juga mencakup ratusan bom pintar, rudal, serta mesin cadangan.
Kesepakatan pengadaan F-16 ini sebenarnya telah disetujui Washington sejak tahun lalu, tak lama setelah Turkiye meratifikasi keanggotaan Swedia di NATO sebagai bagian dari kompromi politik yang lebih luas.
Saat ini, Turkiye mengoperasikan sekitar 240 unit F-16, jumlah terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat.
Masuknya F-16 Viper terbaru ini akan menjadi pengganti bagi armada F-4 yang sudah uzur, sembari menunggu kesiapan penuh jet tempur generasi baru buatan lokal seperti Kaan dan pesawat latih tempur Hurjet.
Selain pesawat tempur, Turkiye juga sedang mengupayakan izin untuk mendapatkan serta merakit mesin GE Aerospace F110 dan F404.
Kedua jenis mesin ini tidak hanya digunakan oleh pesawat tempur Amerika, tetapi juga oleh produk militer Turkiye sendiri.
Jika berhasil, langkah ini akan memperkuat kapabilitas Turkiye dalam produksi pesawat tempur secara mandiri dan berkelanjutan.
Sumber internal menyebut bahwa sejumlah perusahaan teknologi dan elektronik di Turkiye juga berpeluang kembali masuk dalam rantai pasok global, terutama untuk komponen perangkat lunak penting.
Mereka juga disebut-sebut akan mengambil peran strategis dalam menavigasi peraturan ketat Uni Eropa terkait bahan kimia dalam proses produksi komponen pesawat.
Sampai berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari Washington terkait permintaan Erdogan. Namun jika disetujui, kerja sama pertahanan antara Turkiye dan Amerika Serikat diyakini akan mengalami peningkatan signifikan.
Langkah ini tidak hanya memperkuat posisi industri pertahanan Turkiye di tingkat global, tetapi juga membuka jalan bagi rekonsiliasi yang lebih luas antara Ankara dan Washington.
Kesepakatan ini bisa menjadi batu loncatan penting bagi Turkiye untuk menjadikan dirinya sebagai pemain kunci dalam industri kedirgantaraan internasional.
Sementara bagi Amerika Serikat, kesepakatan ini berpotensi menghidupkan kembali hubungan bilateral yang strategis di tengah peta konflik dan ketegangan global yang terus berkembang. (xpr)







