đź”´ LIVE Sidang Majelis Umum PBB ke-80, Susunan Acara Lengkap & Pidato Presiden RI Prabowo Subianto

Indonesia ambil bagian di markas besar pbb new york 1Indonesia ambil bagian di markas besar pbb new york 1

INBERITA.COM, Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-80 resmi dibuka dengan atmosfer diplomasi yang kental, di tengah meningkatnya ketegangan global dan krisis kemanusiaan di berbagai belahan dunia.

Forum internasional tahunan ini kembali menjadi ajang strategis bagi para pemimpin dunia untuk menyampaikan pandangan mereka terhadap isu-isu krusial yang mempengaruhi masa depan bersama umat manusia.

Di antara sederet kepala negara dan pemerintahan, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mencuri perhatian sebagai pembicara ketiga dalam Debat Umum Majelis Umum PBB tahun ini.

Pidato perdananya di forum diplomatik tertinggi dunia tersebut menyusul Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam durasi yang dijadwalkan selama 15 menit, Prabowo tampil membawa semangat baru dari Asia Tenggara, menawarkan perspektif Indonesia atas tantangan global yang tengah dihadapi dunia.

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela, mengungkapkan bahwa pidato Presiden Prabowo akan menekankan pentingnya multilateralisme sebagai jalan menuju perdamaian dunia.

Ia menegaskan bahwa inklusivitas dan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina menjadi bagian dari inti pesan yang akan disampaikan kepala negara Indonesia di forum internasional tersebut.

Pidato Prabowo hadir di tengah kompleksitas geopolitik global, termasuk konflik berkepanjangan antara Palestina dan Israel yang kembali memanas.

Dukungan terhadap pengakuan Negara Palestina mengemuka dalam sidang kali ini, dengan sejumlah negara seperti Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal secara terbuka menyatakan dukungan resmi mereka.

Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu merespons dengan penolakan keras, menegaskan bahwa tidak akan ada negara Palestina di sebelah barat Sungai Yordan.

Sikap keras Israel tersebut memicu kritik internasional. Para pakar dari Tiongkok menilai posisi Israel bertentangan dengan konsensus global dan menunjukkan lemahnya tata kelola internasional.

Peran Indonesia sebagai negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia sekaligus pendukung kuat solusi dua negara, menjadi sorotan penting dalam dinamika diplomasi global.

Sidang tahun ini sekaligus menjadi momen reflektif memperingati 80 tahun berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Rangkaian Acara pada Sidang Majelis Umum PBB ke-80

Rangkaian acara pembukaan berlangsung sejak 22 September 2025, di antaranya Momen SDG (Tujuan Pembangunan Berkelanjutan), peringatan 30 tahun Konferensi Dunia Beijing tentang Perempuan, dan konferensi internasional mengenai solusi dua negara untuk Palestina.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres dalam pidatonya menyerukan agar pekan ini menjadi “pekan solusi” terhadap berbagai krisis global, termasuk konflik di Gaza, Ukraina, Sudan, dan kawasan lain.

Seruannya menggema di tengah harapan agar PBB kembali menjadi poros penyelesaian damai di tengah dunia yang semakin terfragmentasi.

Tema UNGA ke-80 tahun ini, “Lebih Baik Bersama: 80 Tahun dan Lebih untuk Perdamaian, Pembangunan, dan Hak Asasi Manusia”, menjadi pengingat atas mandat utama PBB sejak didirikan pasca-Perang Dunia II.

Suasana sidang majelis umum pbb ke 80

Tema ini juga sekaligus menjadi seruan global untuk solidaritas di tengah tantangan kolektif seperti konflik bersenjata, krisis iklim, serta kesenjangan pembangunan yang semakin melebar.

Sepanjang pekan, sidang UNGA diwarnai oleh berbagai agenda tematik yang melibatkan para pemimpin dunia. berikut adalah susunan lengkap acaranya:

22 September – Pembukaan dan Momentum Reflektif 80 Tahun PBB

Sidang UNGA tahun ini menandai peringatan berdirinya PBB yang ke-80. Sejumlah agenda pembuka digelar sebagai bagian dari refleksi global atas peran dan tantangan organisasi multilateral ini.

  • Momen SDG (Sustainable Development Goals) sebagai pengingat pentingnya pembangunan berkelanjutan.
  • Peringatan 30 Tahun Konferensi Dunia Beijing tentang Perempuan yang memperkuat isu kesetaraan gender di forum global.
  • Konferensi Internasional Solusi Dua Negara yang menyoroti urgensi perdamaian Palestina-Israel.

Sekretaris Jenderal PBB António Guterres menyerukan agar pekan ini menjadi “pekan solusi” terhadap krisis global yang mencakup Gaza, Ukraina, Sudan, dan wilayah lainnya.

Seruan tersebut menjadi landasan moral bagi para pemimpin dunia untuk bertindak nyata, bukan sekadar beretorika.

23 September – Debat Umum Dimulai: Pidato Prabowo Tampil di Hari Pertama

Hari pertama Debat Umum menjadi sorotan media internasional. Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto tampil sebagai pembicara ketiga dalam sesi tersebut.

  • Pidato Prabowo menyusul Presiden Brasil Luiz Inácio Lula da Silva dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
  • Dalam durasi 15 menit, Prabowo menyuarakan pentingnya multilateralisme sebagai jalan menuju perdamaian dunia.
  • “Peringatan ini menjadi simbol harapan baru dari Asia Tenggara untuk dunia yang lebih adil dan damai,” ujar Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl Achmad Mulachela.

Prabowo juga diperkirakan membawa semangat inklusivitas serta sikap tegas Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina, sebagai bagian dari prinsip luar negeri bebas aktif.

24 September – Isu Iklim dan Konflik Internasional

  • KTT Iklim digelar dengan berbagai kepala negara membahas solusi konkret terhadap krisis iklim yang kian mendesak.
  • Pidato disampaikan oleh Presiden Ukraina, Iran, dan Suriah yang menyoroti dampak konflik terhadap stabilitas kawasan dan global.

25 September – Fokus AI, Kesehatan Mental, dan Palestina

  • Dialog Global tentang Tata Kelola Kecerdasan Buatan (AI) membahas etika dan regulasi teknologi masa depan.
  • Diskusi juga mencakup isu kesehatan mental dan penyakit tidak menular.
  • Palestina hadir secara virtual untuk menyampaikan posisi mereka dalam sidang, memperkuat isu pengakuan internasional.

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menanggapi wacana ini dengan penolakan keras, menegaskan tidak akan ada negara Palestina di sebelah barat Sungai Yordan.

Sementara itu, Inggris, Kanada, Australia, dan Portugal menyatakan dukungan resmi terhadap pengakuan negara Palestina.

26 September – Sorotan pada Tata Kelola Global dan Negara Berkekuatan Besar

  • Pidato dari PM Israel, Tiongkok, Inggris, India, dan perwakilan Nepal menyoroti perbedaan tajam dalam pendekatan terhadap geopolitik global.
  • PM Tiongkok Li Qiang membawa Global Governance Initiative (GGI) sebagai solusi alternatif dalam tatanan dunia yang dinilai tidak adil oleh negara berkembang.

Menurut para pakar Tiongkok, sikap Israel terhadap Palestina menunjukkan defisit dalam tata kelola global dan semakin mendesak reformasi struktur internasional.

27 September – Ketegangan Baru dari Kanada, Rusia, dan Venezuela

  • Ketiga negara tersebut menyampaikan pidato yang mengungkap posisi masing-masing terhadap sanksi internasional, energi, dan geopolitik kawasan.

29 September – Penutupan: Afghanistan dan Sudan Selatan Tutup Sidang

  • Sidang ditutup oleh perwakilan Afghanistan dan Sudan Selatan dengan sorotan pada krisis kemanusiaan dan pembangunan pasca-konflik.

Keterlibatan Regional dan Multilateral

  • Uni Eropa turut memainkan peran penting. Presiden Dewan Eropa AntĂłnio Costa menyampaikan pernyataan pada 25 September.
  • Komisaris UE aktif dalam diskusi mengenai perubahan iklim dan pembiayaan pembangunan.
  • Prancis menjadi ketua bersama konferensi Palestina dan menegaskan dukungan Eropa terhadap solusi dua negara.

Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNGA) ke-80 menjadi panggung strategis bagi para pemimpin dunia untuk menyampaikan sikap dan komitmen mereka dalam merespons krisis global, mulai dari konflik bersenjata, perubahan iklim, hingga tata kelola global yang semakin kompleks.

Dengan tampilnya Presiden Prabowo Subianto di forum ini, Indonesia menunjukkan posisi strategisnya sebagai negara demokratis besar di Asia yang berkomitmen pada perdamaian dunia.

Pidato Prabowo di Majelis Umum PBB ke-80 menjadi simbol diplomasi aktif Indonesia dalam menjaga tatanan dunia yang inklusif, damai, dan adil.

Dunia kini menanti tindak lanjut nyata dari berbagai komitmen yang telah disuarakan dalam forum global ini. (xpr)