INBERITA.COM, Sejumlah pengemudi ojek online (ojol) di Jakarta mengungkapkan keluhan mereka terkait penurunan pendapatan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Pendapatan yang dulunya menjanjikan kini terasa semakin sulit diraih.
Seiring dengan berkembangnya layanan transportasi berbasis aplikasi ini, jumlah pengemudi yang semakin banyak turut mempengaruhi pendapatan mereka.
Hendi (35), salah satu pengemudi ojol, mengungkapkan betapa menjanjikannya profesi ini pada awal kemunculannya. Ia yang sudah menjadi pengemudi ojol sejak 2015 mengatakan bahwa pada masa-masa awal, pekerjaan ini cukup menguntungkan.
“Dulu, sangat menjanjikan. Bahkan orang yang punya posisi tinggi seperti manajer sekalipun banyak yang berhenti kerja dan jadi pengemudi ojol,” ujarnya saat ditemui di Jalan Yos Sudarso, Jakarta Utara, Rabu (4/2/2026).
Di tahun-tahun pertama bergabung, Hendi mengungkapkan bahwa ia bisa menghasilkan penghasilan yang cukup besar, bahkan dalam satu hari bisa mendapatkan hingga Rp 500.000–Rp 1 juta.
“Saya bersyukur waktu itu, sehari bisa dapat Rp 500.000, Rp 1 juta. Alhamdulillah banget tuh,” tuturnya mengenang masa-masa tersebut.
Namun, kondisi mulai berubah setelah beberapa tahun. Hendi mengatakan bahwa penghasilannya mulai menurun drastis sekitar tahun 2017-2018 seiring dengan semakin banyaknya pengemudi ojol yang bergabung.
“Setelah dua tahun, penghasilan mulai turun, makin lama makin menurun, sampai lebih banyak potongan biaya yang harus dibayar,” ungkapnya.
Hal serupa juga dirasakan oleh Aming (42), pengemudi ojol lainnya di daerah yang sama. Menurutnya, untuk mendapatkan Rp 100.000 sehari kini sudah terasa sangat sulit.
“Rp 100.000 saja susah. Mencari segitu saja sudah berat,” ujar Aming, menggambarkan betapa sulitnya kondisi saat ini.
Menurut para pengemudi, ada beberapa faktor yang menjadi penyebab utama penurunan pendapatan mereka.
Salah satunya adalah jumlah pengemudi yang semakin banyak, membuat persaingan menjadi semakin ketat. Selain itu, mereka juga menyoroti besarnya potongan yang diberlakukan oleh platform aplikasi yang semakin membebani pengemudi.
“Potongan dari aplikasi makin besar. Dulu ada potongan 20 persen, sekarang ada paket hemat, yang mana itu membuat penghasilan semakin berkurang,” kata Hendi.
Tak hanya itu, para pengemudi juga harus menanggung biaya operasional secara mandiri, seperti bahan bakar, perawatan kendaraan, dan pulsa internet.
“Motor kita modal sendiri, servis sendiri, bensin sendiri,” ujar Aming, menjelaskan beban tambahan yang mereka hadapi selain biaya operasional harian.
Dengan semakin beratnya kondisi yang mereka hadapi, pengemudi ojol pun berharap ada kebijakan yang lebih berpihak kepada mereka. Aming mengungkapkan harapannya agar platform aplikasi menghapus paket hemat yang dinilai merugikan para pengemudi.
“Harapannya sih mendingan hilangin namanya Paket Hemat. Hilangin itu aja. Kalau yang potongan 20 persen itu udah oke lah,” kata Aming dengan harapan adanya kebijakan yang lebih adil.
Para pengemudi ojol di Jakarta berharap agar ada perubahan dalam kebijakan yang dapat meningkatkan kesejahteraan mereka. Mereka tidak hanya berharap pada pengurangan potongan biaya yang dibebankan oleh platform, tetapi juga pada perhatian lebih dari pemerintah dan perusahaan untuk membantu memperbaiki kondisi yang ada.
Pendapatan yang terus menurun ini juga menunjukkan bahwa banyak pengemudi yang menghadapi tantangan berat dalam menjalani profesi ini.
Oleh karena itu, penting bagi pihak terkait untuk mempertimbangkan faktor kesejahteraan pengemudi ojol dalam setiap kebijakan yang diterapkan, agar profesi ini tidak hanya menguntungkan bagi platform, tetapi juga memberi kehidupan yang layak bagi pengemudi yang berperan penting dalam layanan transportasi ini.
Mereka berharap ada kebijakan yang lebih manusiawi yang dapat memperbaiki kehidupan para pengemudi dan memberikan rasa keadilan bagi mereka yang telah bekerja keras setiap hari.