Curhatan Ojol: Potongan Aplikasi Makin Memberatkan, Pengemudi Ojol Pasrah dan Kehilangan Harapan, Percuma Demo Berkali-kali

Curhatan ojol semakin mirisCurhatan ojol semakin miris
Pendapatan Tergerus Potongan Aplikasi, Pengemudi Ojol: Demo Tak Pernah Mengubah Apa-apa

INBERITA.COM, Keluhan soal potongan aplikasi yang semakin besar kembali mencuat dari para pengemudi ojek online di Jakarta. Di tengah meningkatnya biaya hidup dan jam kerja yang panjang, para pengemudi mengaku semakin terhimpit oleh kebijakan aplikator yang dinilai kian memberatkan.

Seorang pengemudi ojol bernama Dwi (40) menyampaikan rasa pasrahnya terhadap kondisi yang kini ia alami. Ia menilai potongan aplikasi yang besar, ditambah skema program berbayar per perjalanan, membuat penghasilan harian semakin sulit diandalkan.

Menurut Dwi, situasi tersebut bukan hal baru, namun hingga kini tidak pernah ada perubahan berarti. Berbagai keluhan, aksi protes, hingga demonstrasi dinilainya tidak berdampak pada kebijakan aplikator.

“Capek sekarang, percuma mau demo, mau apa aja, dibikin aturan, suka-suka mereka. Ya artinya demo enggak ngaruh-ngaruh banget,” ujar Dwi saat ditemui awak media di kawasan Cawang, Jakarta Timur, Selasa (3/2/2026).

Ia juga menyinggung peran pemerintah yang menurutnya tidak pernah benar-benar berpihak kepada pengemudi ojol. Aspirasi yang disampaikan, kata Dwi, hanya berhenti di tahap penerimaan tanpa tindak lanjut nyata.

“Pemerintah pun sama. Pemerintah dari mana? Aspirasi kita cuma ditampung, ditampung, habis ditampung baru dibuang kan sama mereka kan? Enggak ada tindak lanjut dari pemerintah. Pemerintah, DPR, enggak ada semua,” sambungnya.

Karena berulang kali merasa diabaikan, Dwi mengaku tidak lagi menaruh harapan kepada siapa pun. Ia menyebut berbagai jalur sudah ditempuh, namun hasilnya tetap nihil.

“Enggak ada harapan. Biarin aja. Suka-suka mereka aja lah. Lah sekarang kita mau berharap sama siapa? DPR? sudah, kita dulu waktu itu kan ke DPR sudah, sudah diterima anggota dewan, sudah. Pemerintah sudah. Lapor ke Presiden (Prabowo) sudah,” jelasnya.

Nada pesimistis Dwi mencerminkan kelelahan psikologis yang dirasakan banyak pengemudi ojol. Ketidakpastian kebijakan dan minimnya perlindungan membuat mereka merasa berjalan sendiri tanpa sandaran.

Berbeda dengan Dwi, pengemudi ojol lainnya, Dicky (23), masih menyimpan sedikit harapan terhadap perubahan. Ia berharap potongan aplikasi dapat dikembalikan ke skema yang lebih adil seperti saat awal layanan ojol hadir di Indonesia.

“Harapannya sih ya lebih fair aja gitu. Kayak awal-awal hadir aja gitu, potongan enggak terlalu besar, cuma sedikit. 5 atau sampai 10 persen gitu, enggak kayak sekarang 20 persen,” ujar Dicky saat ditemui terpisah di lokasi yang sama.

Menurut Dicky, besarnya potongan aplikator membuat hasil kerja seharian terasa tidak sebanding dengan tenaga dan waktu yang dihabiskan di jalan. Kondisi tersebut diperparah dengan persaingan yang semakin ketat dan jumlah pengemudi yang terus bertambah.

Ia mengakui bahwa dari tahun ke tahun, potongan aplikasi memang terus meningkat. Upaya untuk mengadu atau menyampaikan keberatan juga dinilai tidak pernah mendapatkan respons yang memadai.

“Ya dari tahun ke tahun memang besar sih potongannya. Mau di manapun juga percuma kita ke sana juga enggak bakal direspons,” ungkapnya.

Dampak paling terasa dari kebijakan tersebut adalah penurunan pendapatan bulanan. Dicky mengungkapkan, penghasilannya kini hanya berkisar Rp 2 juta per bulan, jauh di bawah pendapatan yang pernah ia raih beberapa tahun lalu.

“Jauh sih (pendapatan saat ini dengan dulu). Kita dulu pagi nih keluar sampai sore itu megang Rp 200.000 masih bisa. Kalau sekarang mentok-mentok di Rp 100.000 sih,” katanya.

Ia menambahkan bahwa jika dihitung secara bulanan, pendapatan sebagai pengemudi ojol kini sulit untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar. “Sebulan di ojol aja rata-rata paling ya Rp 2 juta lah,” ucapnya.

Kisah Dwi dan Dicky menggambarkan realitas yang tengah dihadapi banyak pengemudi ojol saat ini. Di satu sisi, layanan ojek online terus berkembang dan menjadi kebutuhan masyarakat, namun di sisi lain para pengemudinya justru merasa semakin terpinggirkan.

Potongan aplikasi yang mencapai 20 persen dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menggerus pendapatan. Belum lagi berbagai skema tambahan berbayar yang membuat pengemudi harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan hasil yang sama.

Kondisi ini memunculkan pertanyaan besar soal keberpihakan regulasi dan peran negara dalam melindungi pekerja di sektor ekonomi digital. Tanpa kejelasan dan pengawasan yang tegas, para pengemudi ojol khawatir nasib mereka akan terus berada di posisi yang lemah.

Bagi sebagian pengemudi, harapan mungkin masih ada, namun bagi sebagian lainnya, rasa pasrah sudah lebih dulu menguasai. Suara-suara dari jalanan ini menjadi potret nyata ketimpangan yang belum menemukan jalan keluar.