INBERITA.COM, Angin politik di Amerika Serikat kembali bergemuruh. Di tengah ketegangan global yang memuncak dan kebijakan luar negeri yang semakin disorot, Presiden Donald Trump kini menghadapi ancaman besar dari dalam negeri.
Anggota DPR dari Partai Demokrat semakin keras menuntut langkah ekstrem berupa pemakzulan terhadap presiden, dengan alasan dugaan penurunan kognitif yang dapat memengaruhi kapasitasnya sebagai pemimpin negara.
Pemerintah Trump kembali berada dalam sorotan tajam. Jamie Raskin, seorang anggota DPR dari Partai Demokrat, menuntut agar Trump segera menjalani tes kognitif setelah beberapa pernyataan dan tindakan kontroversial yang diambilnya baru-baru ini.
Raskin bahkan meminta agar tes tersebut dilakukan oleh dokter Gedung Putih dan hasilnya disampaikan kepada Kongres untuk penilaian lebih lanjut.
Raskin menyebutkan bahwa beberapa pernyataan Trump dalam beberapa hari terakhir semakin tidak koheren dan semakin mengkhawatirkan.
Terutama dalam hal kebijakan luar negeri terkait Iran, Trump beberapa kali membuat komentar yang sangat emosional dan tidak terkontrol.
Salah satu pernyataan yang menjadi sorotan adalah saat Trump mengungkapkan dalam sebuah acara Easter Egg Roll di Gedung Putih bahwa “seluruh peradaban akan mati” jika Iran tidak memenuhi syarat kesepakatan yang ia ajukan.
“Pernyataan-pernyataan yang semakin tidak masuk akal dan mengancam seperti ini tidak bisa dianggap enteng. Kami butuh tes kognitif yang transparan untuk memastikan bahwa kondisi Presiden Trump tidak mengganggu stabilitas negara,” kata Raskin dalam sebuah pernyataan pada Senin, 13 April 2026.
Tidak hanya Partai Demokrat yang melontarkan kekhawatiran ini. Beberapa tokoh konservatif pun ikut menyuarakan keprihatinannya tentang kemampuan Trump dalam memimpin negara.
Beberapa di antara mereka bahkan mengusulkan penerapan Amandemen ke-25 yang memungkinkan presiden dicopot dari jabatannya jika terbukti tidak mampu menjalankan tugasnya.
Namun, langkah ini membutuhkan persetujuan dari mayoritas kabinet serta wakil presiden, yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mendukung langkah tersebut.
Meskipun desakan pemakzulan dan tes kognitif semakin memanas, Gedung Putih membantah tuduhan tersebut.
Juru bicara Gedung Putih, Davis Ingle, menegaskan bahwa Presiden Trump dalam kondisi sehat dan penuh energi, dengan kemampuan yang sangat tajam dan keterbukaan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kondisi Presiden Joe Biden yang pernah diabaikan oleh Demokrat.
“Presiden Trump memiliki energi yang tak tertandingi, dan ketajamannya sangat berbeda dengan empat tahun terakhir, di mana Demokrat seperti Raskin justru menutupi penurunan mental dan fisik yang serius dari Joe Biden,” ujar Ingle dalam sebuah pernyataan.
Sementara itu, kondisi kesehatan Trump juga turut menjadi perhatian publik. Presiden yang kini berusia 79 tahun diketahui menderita insufisiensi vena kronis, sebuah kondisi umum pada lansia yang menyebabkan pembengkakan kaki.
Beberapa kali Trump juga terlihat memiliki memar di tangan, meskipun seringkali memakainya dengan riasan.
Namun, meskipun ada kekhawatiran tentang kondisi kesehatannya, dokter Gedung Putih sebelumnya menyatakan bahwa Trump dalam kondisi sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan terkait kemampuannya untuk menjalankan tugasnya sebagai presiden.
Apakah Trump Akan Menghadapi Pemakzulan? Saat ini, situasi politik di AS semakin memanas, dengan ketegangan yang melibatkan pemakzulan dan dugaan penurunan kognitif.
Partai Demokrat tetap menuntut transparansi dalam hal kesehatan mental Trump, sementara Gedung Putih terus membela presiden.
Sementara itu, Amandemen ke-25 masih menjadi opsi yang dipertimbangkan oleh sejumlah pihak yang merasa khawatir akan kemampuan Trump untuk tetap memimpin negara.
Kondisi ini menunjukkan bahwa tekanan politik terhadap Presiden Trump semakin meningkat, dan arah kebijakan serta kepemimpinannya di masa depan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan situasi ini.







