Dokter Ingatkan Bahaya Makan Daging Berlebihan Saat Idul Adha, Awas! Hipertensi Bisa Kambuh

Konsumsi daging kurban idul adhaKonsumsi daging kurban idul adha
Dokter mengingatkan penderita hipertensi untuk membatasi makanan tinggi garam dan lemak saat Idul Adha.

INBERITA.COM, Perayaan Idul Adha hampir selalu identik dengan melimpahnya olahan daging di meja makan. Mulai dari sate, gulai, tongseng, rendang, hingga aneka masakan bersantan lainnya menjadi sajian utama yang dinanti banyak keluarga.

Namun di balik suasana hangat dan penuh kebersamaan itu, para tenaga kesehatan mengingatkan pentingnya menjaga pola konsumsi agar momen hari raya tidak berujung pada gangguan kesehatan.

Lonjakan konsumsi daging merah saat Idul Adha kerap memicu peningkatan kasus tekanan darah tinggi, kolesterol, hingga gangguan pencernaan.

Kondisi tersebut umumnya terjadi karena masyarakat cenderung makan berlebihan selama beberapa hari berturut-turut, apalagi stok daging kurban di rumah biasanya cukup melimpah.

Dokter umum dr. Irwan Heriyanto mengingatkan bahwa pengendalian diri menjadi kunci utama agar tubuh tetap sehat selama perayaan Idul Adha.

Menurutnya, masyarakat perlu lebih sadar terhadap kondisi kesehatan masing-masing sebelum menikmati berbagai hidangan khas hari raya.

“Kalau berkaitan menjalani Idul Adha, saya pikir itu kembali kepada diri masing-masing. Jadi kita harus kontrol juga terhadap apa yang harus diperhatikan dan difokuskan dengan kebutuhan kita sendiri,” kata Irwan, dikutip dari laporan media, Selasa (26/5/2026).

Ia menilai kebiasaan “balas dendam makan” saat Idul Adha masih sering terjadi di masyarakat. Banyak orang tergoda menyantap daging dalam jumlah besar sejak pagi hingga malam karena merasa momentum tersebut hanya datang setahun sekali.

Padahal, konsumsi daging secara berlebihan terutama yang tinggi lemak dan diolah dengan banyak santan maupun garam dapat meningkatkan risiko gangguan metabolik. Kondisi ini lebih berbahaya bagi penderita hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, maupun penyakit jantung.

“Pokoknya apa pun yang serba berlebihan itu kalau bisa dihindari,” ujarnya.

Menurut Irwan, salah satu hal yang paling perlu diperhatikan adalah kandungan garam dalam masakan khas Idul Adha.

Banyak hidangan tradisional menggunakan bumbu dengan kadar natrium tinggi untuk memperkuat rasa, terutama pada gulai, rendang, dan olahan daging berkuah santan.

Bagi penderita hipertensi, pola makan seperti itu bisa memperburuk kondisi tekanan darah. Natrium dalam garam memiliki sifat menarik cairan dalam tubuh sehingga volume darah meningkat dan membuat tekanan pada pembuluh darah menjadi lebih tinggi.

“Karena garam itu mengandung natrium. Natrium menarik air dari tubuh sehingga tekanan di dalam pembuluh darah meningkat. Itu bisa memperburuk hipertensi,” jelasnya.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat mulai mempertimbangkan penggunaan garam rendah natrium, terutama bagi mereka yang sudah memiliki riwayat tekanan darah tinggi.

Selain lebih aman, langkah sederhana tersebut dinilai dapat membantu mengurangi risiko lonjakan tekanan darah setelah menyantap makanan berat saat hari raya.

Tak hanya garam, kandungan lemak dalam daging kurban juga perlu menjadi perhatian. Bagian daging berlemak yang sering dianggap paling nikmat justru dapat meningkatkan kadar kolesterol jika dikonsumsi terlalu banyak.

Irwan menyarankan masyarakat memilih bagian daging yang lebih rendah lemak dan mengurangi konsumsi jeroan. Pengolahan makanan juga sebaiknya tidak selalu menggunakan santan pekat atau minyak berlebihan.

“Kalau memang ingin makan agak banyak, lemaknya yang dikurangi,” katanya.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga pola makan seimbang selama Idul Adha. Banyak keluarga memasak dalam porsi besar untuk menjamu tamu dan kerabat, tetapi bukan berarti seluruh hidangan harus dihabiskan sekaligus dalam satu hari.

Fenomena “lapar mata” menurutnya menjadi salah satu penyebab utama masyarakat kehilangan kontrol saat menyantap hidangan hari raya. Keinginan mencoba semua menu sekaligus sering membuat asupan kalori dan lemak harian melonjak drastis tanpa disadari.

“Intinya tipsnya menahan diri, jangan lapar mata,” ujar Irwan.

Selain mengatur porsi makan, masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi sayur, buah, dan air putih untuk membantu menjaga keseimbangan nutrisi tubuh.

Aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki setelah makan juga dapat membantu proses metabolisme serta mencegah rasa begah akibat terlalu banyak mengonsumsi makanan berlemak.

Di sisi lain, para ahli gizi mengingatkan bahwa daging merah sebenarnya tetap memiliki manfaat bagi tubuh jika dikonsumsi dalam jumlah wajar.

Daging sapi dan kambing mengandung protein, zat besi, serta vitamin B12 yang penting untuk menjaga energi dan pembentukan sel darah merah.

Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan sekadar jenis makanannya, melainkan cara pengolahan dan jumlah konsumsi. Pola makan yang seimbang dinilai jauh lebih penting dibanding larangan total terhadap makanan tertentu.

Momentum Idul Adha sejatinya bukan hanya tentang menikmati hidangan lezat, tetapi juga tentang berbagi, kebersamaan, dan menjaga kesehatan agar tetap bisa menikmati waktu bersama keluarga tanpa gangguan fisik.

Dengan pengendalian diri dan pola makan yang lebih bijak, masyarakat tetap dapat menikmati sajian khas Idul Adha tanpa harus khawatir tekanan darah naik atau kolesterol melonjak setelah hari raya usai.