Dedolarisasi oleh Anggota BRICS, 65 Persen Transaksi Sudah Gunakan Mata Uang Lokal

Transaksi BRICS mulai tinggalkan dolar amerikaTransaksi BRICS mulai tinggalkan dolar amerika
Dedolarisasi BRICS memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi regional dan mengurangi risiko fluktuasi dolar AS.

INBERITA.COM, Blok ekonomi BRICS semakin tegas meninggalkan ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan internasional.

Data terbaru menunjukkan hanya 35 persen transaksi lintas batas antarnegara anggota yang masih diselesaikan menggunakan mata uang dolar AS. Sementara itu, 65 persen lainnya telah beralih menggunakan mata uang lokal masing-masing.

“Aliansi BRICS telah menggunakan dolar AS hanya untuk 35 persen perdagangan lintas batas, sementara 65 persen transaksi lainnya dilakukan menggunakan mata uang lokal,” ungkap Direktur Pranan Consulting Pradip Dhir dalam laporan yang dikutip awak media dari EuroSchool India pada Sabtu, 22 Juni 2026.

Langkah ini menjadi bagian dari agenda dedolarisasi yang semakin masif sejak tahun 2022.

Negara-negara anggota BRICS mendorong penggunaan mata uang lokal untuk menekan biaya transaksi ekspor dan impor sekaligus mengurangi risiko fluktuasi dolar AS.

China dan Rusia menjadi pelopor dengan intensif menggunakan yuan dan rubel dalam perdagangan bilateral sejak 2022. Transaksi bilateral kedua negara mencakup perdagangan energi dan komoditas strategis.

India turut berkontribusi dengan memanfaatkan kombinasi rupee, rubel, dan dirham dalam sejumlah transaksi dengan sesama anggota BRICS.

Sementara Iran memanfaatkan yuan China untuk menghindari dampak sanksi ekonomi dari Amerika Serikat. Peralihan ini menunjukkan upaya kolektif untuk membangun sistem pembayaran alternatif yang lebih stabil.

Penggunaan mata uang lokal juga merambah sektor energi, termasuk minyak. Arab Saudi, anggota BRICS terbaru, diketahui telah menerima yuan dalam sejumlah transaksi minyak.

Langkah ini sejalan dengan upaya China memperluas penggunaan mata uangnya dalam perdagangan global sejak 2024.

Strategi dedolarisasi ini dinilai memperkuat posisi mata uang negara-negara BRICS di panggung internasional. Sistem perdagangan yang lebih beragam memungkinkan negara-negara anggota mengurangi paparan terhadap gejolak ekonomi yang dipicu oleh kebijakan moneter Amerika Serikat.

Dengan demikian, ketergantungan terhadap sistem keuangan global yang didominasi dolar AS dapat ditekan secara signifikan.

Namun, agenda dedolarisasi BRICS menghadapi tantangan serius sejak Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali menjabat. Ancaman penerapan tarif hingga 100 persen terhadap negara-negara yang mengurangi penggunaan dolar AS membuat beberapa anggota BRICS berhati-hati.

Meskipun demikian, tren penggunaan mata uang lokal tetap menunjukkan perkembangan yang positif.

Penggunaan yuan, rubel, rupee, dan mata uang lokal lainnya dalam perdagangan BRICS terus meningkat. Upaya ini menunjukkan komitmen untuk membangun sistem pembayaran lintas batas yang lebih independen dan berkelanjutan.

Dengan semakin banyaknya transaksi yang diselesaikan tanpa melibatkan dolar AS, BRICS bergerak menuju tatanan ekonomi global yang lebih seimbang.

Dedolarisasi juga memberikan dampak positif bagi stabilitas ekonomi regional. Negara-negara anggota dapat mengurangi risiko yang timbul akibat kebijakan moneter Amerika Serikat yang seringkali tidak stabil.

Selain itu, sistem perdagangan berbasis mata uang lokal dapat memperkuat kerja sama ekonomi antarnegara berkembang.

Meskipun menghadapi tekanan dari Amerika Serikat, BRICS tetap konsisten menjalankan agenda dedolarisasi.

Langkah ini dianggap sebagai strategi jangka panjang untuk membangun ketahanan ekonomi regional. Dengan demikian, blok ekonomi ini dapat menjadi pemain utama dalam sistem keuangan global yang lebih inklusif.

Perkembangan ini juga menjadi sinyal bagi negara-negara lain untuk mempertimbangkan diversifikasi mata uang dalam perdagangan internasional.

Sistem keuangan global yang lebih beragam dapat mengurangi risiko sistemik yang diakibatkan oleh dominasi satu mata uang. BRICS menunjukkan bahwa alternatif sistem pembayaran lintas batas bukan lagi sekadar wacana.

Ke depan, BRICS diperkirakan akan terus mendorong penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional. Upaya ini tidak hanya untuk mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS, tetapi juga untuk membangun sistem ekonomi yang lebih adil dan berkelanjutan.

Dengan dukungan dari negara-negara anggota, dedolarisasi dapat menjadi tonggak penting dalam sejarah ekonomi global.