Bumiayu Dilanda Banjir Bandang Terparah Sejak 2018, Ratusan Rumah Terendam

INBERITA.COM, BREBES — Hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bumiayu, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, pada Sabtu (8/11/2025) sore memicu banjir bandang besar yang melumpuhkan aktivitas warga.

Dalam waktu singkat, Sungai Erang di Desa Kalierang meluap deras dan menenggelamkan ratusan rumah. Arus air yang kuat juga menutup total akses jalan nasional penghubung Bumiayu–Purwokerto, membuat transportasi di jalur utama Jawa Tengah bagian selatan itu lumpuh total.

Bencana terjadi secara tiba-tiba sekitar pukul 15.00 WIB. Hujan dengan intensitas tinggi sejak siang hari menyebabkan debit air Sungai Erang meningkat drastis hingga akhirnya tak mampu menampung volume air yang datang dari kawasan hulu.

“Sekitar jam tiga sore air mulai naik, jam empat sudah sampai jalan nasional. Di lapangan Pendawa tingginya sepinggang orang dewasa, sekitar satu meter lebih,” ungkap Supriyanto, Sekretaris Desa Kalierang, saat ditemui di lokasi banjir.

Menurut Supriyanto, arus deras yang datang mendadak itu tidak hanya merendam rumah-rumah warga, tetapi juga menyeret sejumlah kendaraan yang sedang melintas di sekitar lokasi.

“Ada mobil terseret banjir, tiga rumah roboh di RT 3 RW 5. Barang-barang elektronik warga banyak yang rusak, jumlah kerugiannya belum bisa dihitung,” tambahnya.

Luapan air dari Sungai Erang kemudian menyebar cepat ke sejumlah wilayah permukiman, terutama di RT 6, RT 7, dan RT 3 Desa Kalierang. Warga yang panik tidak sempat menyelamatkan barang-barang berharga karena air datang sangat cepat.

Sebagian penduduk bahkan terpaksa memanjat atap rumah demi menghindari arus banjir yang terus meninggi.

“Terakhir banjir sebesar ini terjadi tahun 2018. Sudah tujuh tahun tidak pernah separah ini,” ujar Supriyanto, mengingat kejadian serupa yang sempat melanda desa tersebut.

Ketinggian air di jalur nasional Bumiayu–Purwokerto mencapai sekitar satu meter. Kondisi ini membuat arus lalu lintas di kedua arah terhenti total.

Sejumlah kendaraan dari arah Purwokerto dan Tegal terpaksa berhenti di tengah jalan atau mencari jalur alternatif karena jalan tertutup air sepenuhnya.

“Tadi sempat macet panjang, air menutup seluruh badan jalan,” tutur seorang warga yang menyaksikan derasnya arus banjir di jalur utama itu.

Hingga Sabtu petang, hujan deras masih mengguyur kawasan Bumiayu dan sekitarnya. Tim BPBD Kabupaten Brebes bersama aparat desa setempat terus melakukan asesmen dan mengevakuasi warga terdampak ke tempat yang lebih aman. Petugas juga menyiagakan peralatan darurat untuk membantu warga yang rumahnya terendam.

Pemerintah Desa Kalierang mengimbau warga agar tetap waspada terhadap potensi banjir susulan. Intensitas hujan yang masih tinggi dikhawatirkan dapat kembali meningkatkan debit air Sungai Erang, yang menjadi sumber banjir utama di kawasan tersebut.

Hingga malam hari, ratusan rumah dilaporkan masih tergenang air dengan ketinggian bervariasi antara 50 sentimeter hingga lebih dari satu meter.

Beberapa fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, dan balai desa juga tidak luput dari genangan. Listrik di beberapa titik terpaksa dipadamkan sementara untuk menghindari korsleting.

Meski belum ada laporan korban jiwa, sejumlah warga mengalami kerugian material cukup besar. Peralatan rumah tangga, kendaraan, dan hasil panen yang belum sempat dipindahkan rusak akibat terendam air bercampur lumpur.

Beberapa keluarga memilih mengungsi ke rumah kerabat dan posko darurat yang didirikan oleh pemerintah desa.

Banjir bandang di Bumiayu kali ini menjadi pengingat serius akan pentingnya upaya mitigasi dan perbaikan sistem pengendalian air di wilayah selatan Brebes.

Sungai Erang diketahui beberapa kali meluap saat curah hujan tinggi, namun penanganan struktural seperti pengerukan dasar sungai dan normalisasi aliran belum berjalan optimal.

Tanpa langkah antisipatif yang nyata, ancaman banjir besar serupa dikhawatirkan akan terus menghantui ribuan warga yang bermukim di sepanjang bantaran sungai.

Pemerintah daerah diminta segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem drainase, pengelolaan daerah aliran sungai (DAS), serta tata ruang pemukiman di kawasan rawan banjir tersebut.

Musibah yang menimpa warga Bumiayu ini juga menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan daerah resapan air.

Perubahan tata guna lahan yang tidak terkendali dan penebangan pohon di kawasan hulu sungai kerap menjadi pemicu meningkatnya risiko banjir bandang setiap musim hujan tiba.

Hingga Minggu dini hari, petugas gabungan dari BPBD, TNI, Polri, dan relawan masih terus berjaga di lokasi banjir.

Upaya pembersihan dan penyaluran bantuan logistik tengah dipersiapkan untuk membantu warga yang terdampak langsung.

Pemerintah Kabupaten Brebes menyatakan akan segera menyalurkan bantuan darurat serta melakukan langkah cepat untuk menormalisasi kondisi di Kecamatan Bumiayu.

Peristiwa banjir bandang ini bukan hanya menjadi duka bagi warga Kalierang dan sekitarnya, tetapi juga menjadi peringatan keras bahwa ancaman bencana hidrometeorologi di Brebes semakin nyata di tengah perubahan iklim ekstrem yang melanda berbagai wilayah Indonesia. (mms)