INBERITA.COM, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang laut sedang di wilayah perairan selatan Jawa Tengah.
Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung selama empat hari dan berpotensi memengaruhi aktivitas pelayaran maupun nelayan yang beroperasi di kawasan pesisir.
Peringatan yang diterbitkan BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap berlaku mulai Kamis, 23 Juli 2026 pukul 07.00 WIB hingga Minggu, 26 Juli 2026 pukul 07.00 WIB.
Masyarakat yang beraktivitas di laut diminta terus memantau perkembangan cuaca dan mengutamakan keselamatan sebelum berlayar.
Berdasarkan analisis prakirawan BMKG, kondisi cuaca di perairan selatan Kabupaten Cilacap, Kebumen, dan Purworejo secara umum diprakirakan cerah berawan hingga berawan.
Meski cuaca relatif mendukung, kondisi angin dan gelombang tetap memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi keselamatan pelayaran.
BMKG mencatat pola angin bertiup dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar antara 3 hingga 20 knot.
Kombinasi arah dan kecepatan angin tersebut berpotensi membentuk gelombang laut dengan ketinggian antara 1,25 meter hingga 2,5 meter yang masuk kategori gelombang sedang.
Wilayah yang berpotensi mengalami kondisi tersebut meliputi:
- Perairan Cilacap
- Perairan Kebumen
- Perairan Purworejo
Meski dikategorikan sebagai gelombang sedang, kondisi tersebut tetap dapat meningkatkan risiko bagi kapal berukuran kecil maupun aktivitas penangkapan ikan di laut.
BMKG mengingatkan bahwa keselamatan pelayaran tidak hanya dipengaruhi tinggi gelombang, tetapi juga kecepatan angin yang terjadi di lokasi.
Oleh karena itu, setiap pengguna jasa transportasi laut diimbau memahami batas aman operasional sesuai jenis kapal yang digunakan.
Untuk perahu nelayan, potensi risiko meningkat apabila kecepatan angin mencapai 15 knot dengan tinggi gelombang sekitar 1,25 meter.
Dalam kondisi tersebut, kapal berukuran kecil lebih mudah kehilangan stabilitas, terutama saat beroperasi di perairan terbuka.
Sementara itu, kapal tongkang memiliki tingkat kerawanan ketika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang sekitar 1,5 meter. Kondisi tersebut dapat mengganggu proses pelayaran maupun aktivitas bongkar muat apabila berlangsung dalam waktu cukup lama.
BMKG mengimbau nelayan tradisional agar mempertimbangkan kondisi cuaca sebelum melaut, terutama jika menggunakan perahu berukuran kecil.
Apabila cuaca memburuk atau gelombang meningkat melebihi prakiraan, aktivitas di laut sebaiknya ditunda hingga kondisi kembali aman.
Selain nelayan, operator kapal, pelaku wisata bahari, serta masyarakat yang beraktivitas di kawasan pesisir juga diminta meningkatkan kewaspadaan.
Gelombang sedang dapat memunculkan arus yang lebih kuat di beberapa titik, sehingga berpotensi membahayakan aktivitas di sekitar pantai maupun pelabuhan.
Perubahan kondisi cuaca di wilayah perairan selatan Jawa sering dipengaruhi oleh pola angin musiman yang bertiup dari Australia menuju Asia.
Pada periode musim kemarau, angin timuran umumnya bertiup lebih konsisten sehingga dapat memicu peningkatan tinggi gelombang di sepanjang pesisir selatan Pulau Jawa.
Karena itu, masyarakat disarankan untuk terus mengikuti pembaruan informasi cuaca dan peringatan dini yang dikeluarkan BMKG. Informasi terbaru sangat penting sebagai dasar pengambilan keputusan sebelum melakukan pelayaran maupun aktivitas lainnya di wilayah perairan.
Dengan memperhatikan prakiraan cuaca dan mengutamakan aspek keselamatan, risiko kecelakaan laut akibat gelombang tinggi maupun perubahan cuaca mendadak diharapkan dapat diminimalkan selama masa berlakunya peringatan dini tersebut.







