INBERITA.COM, Kabupaten Bandung kembali diguncang rangkaian gempa bumi tektonik yang berpusat di darat dan dirasakan kuat oleh warga di wilayah selatan, terutama Kecamatan Pangalengan dan Kertasari.
Total tujuh kali gempa tercatat dalam rentang waktu kurang dari sehari, dimulai dari guncangan utama pada pagi hari hingga serangkaian aftershock yang terjadi beruntun tengah malam.
Informasi tersebut dikutip dari laporan real-time akun X @infobmkg yang memantau aktivitas seismik di Jawa Barat.
Guncangan pertama terjadi pada pagi hari melalui gempa tektonik berkekuatan magnitudo M3.1 yang kemudian diperbarui menjadi M2.9.
Gempa ini terjadi pukul 10.10 WIB dengan pusat gempa berada di darat pada kedalaman 5 kilometer—sebelumnya dilaporkan 10 kilometer—dan berjarak 21 kilometer ke arah Tenggara dari pusat Kota Kabupaten Bandung.
Getaran dirasakan cukup jelas oleh warga di Kecamatan Kertasari dan Pangalengan, bahkan merambat hingga Banjaran dengan intensitas II hingga III MMI.
Intensitas tersebut menunjukkan bahwa getaran dapat dirasakan di dalam rumah dan sebagian warga sempat merasakan benda-benda ringan bergoyang.
Belum hilang dari ingatan warga, gempa kedua kembali terjadi pada pukul 22.54 WIB dengan kekuatan magnitudo M3.2 yang kemudian direvisi menjadi M3.1.
Gempa ini juga berpusat di darat pada kedalaman 5 kilometer dan berada 22 kilometer ke arah Tenggara pusat Kota Kabupaten Bandung.
Guncangan kembali dirasakan di wilayah Kecamatan Kertasari, Pangalengan, Cimaung hingga mencapai Pameungpeuk. Banyak warga mengaku terbangun akibat getaran yang cukup kuat pada malam hari ini.
Setelah gempa kedua tersebut, aktivitas seismik tidak berhenti. Gempa susulan pertama atau aftershock terjadi pada pukul 23.50 WIB dengan magnitudo M2.3 yang kemudian diperbarui menjadi M2.2.
Pusat gempa berada 24 kilometer ke arah Tenggara dari pusat Kabupaten Bandung pada kedalaman 4 kilometer.
Meski berkekuatan kecil, getarannya tetap dirasakan sebagian warga karena pusat gempa berada di darat dan cukup dekat dengan permukiman.
Belum satu jam berselang, gempa susulan kedua mengguncang pada Kamis, 20 November 2025 pukul 00.26 WIB. Gempa berkekuatan M3.3 yang direvisi menjadi M3.2 ini berpusat di darat pada kedalaman 10 kilometer dan berada 23 kilometer ke arah Tenggara dari pusat Kabupaten Bandung.
Guncangan kali ini terasa lebih kuat dibanding gempa-gempa sebelumnya. Warga di Kecamatan Pangalengan dan Kertasari merasakan getaran dengan intensitas III hingga IV MMI.
Skala IV menunjukkan bahwa guncangan cukup kuat hingga membuat benda-benda bergoyang dan sebagian warga kemungkinan keluar rumah.
Wilayah lain seperti Ibun, Banjaran, Pasirjambu, Baleendah, hingga Margaasih juga merasakan getaran dengan intensitas II hingga III MMI.
Serangkaian gempa belum berhenti. Lima menit setelahnya, pukul 00.31 WIB, gempa susulan ketiga kembali tercatat dengan magnitudo M3.3.
Gempa ini berpusat di darat pada kedalaman 5 kilometer, berjarak 23 kilometer ke arah Tenggara pusat Kabupaten Bandung. Getarannya kembali membuat warga di wilayah pegunungan selatan terjaga dan sebagian melaporkan getaran serupa gempa sebelumnya.
Hanya empat menit kemudian, pada pukul 00.35 WIB, gempa susulan keempat terjadi dengan magnitudo M2.5. Meski tergolong kecil, pusat gempa yang berada pada kedalaman 0 kilometer membuat getarannya tetap bisa dirasakan.
Titik pusat gempa berlokasi 23 kilometer ke arah Tenggara pusat Kabupaten Bandung, menunjukkan pola aktivitas seismik yang berulang dari sumber yang sama.
Gempa susulan kelima sekaligus yang terakhir dalam rangkaian ini tercatat pada Kamis, 20 November 2025 pukul 00.40 WIB.
Gempa berpusat 22 kilometer ke arah Tenggara pusat Kabupaten Bandung dengan kedalaman 5 kilometer. Guncangan ini menutup rangkaian gempa susulan yang terjadi dalam kurun waktu kurang dari satu jam.
BMKG meminta masyarakat tetap tenang namun waspada terhadap potensi gempa susulan berikutnya.
“Data bisa berubah seiring kelengkapan data karena informasi yang disampaikan mengutamakan kecepatan sehingga hasil pengolahan data belum stabil,” demikian peringatan BMKG.
Warga diminta tetap mengikuti informasi resmi untuk memastikan validitas perkembangan aktivitas gempa di wilayah Kabupaten Bandung dan sekitarnya.
Rangkaian tujuh gempa yang terjadi dalam waktu berdekatan ini menjadi pengingat kuat akan aktivitas seismik di kawasan selatan Bandung yang dikenal memiliki struktur geologi kompleks.
Meski belum ada laporan kerusakan, frekuensi gempa beruntun membuat banyak warga memilih berjaga dan tetap siaga sepanjang malam.
Meningkatnya perhatian publik terhadap aktivitas tektonik ini juga menegaskan pentingnya literasi mitigasi bencana, terutama bagi masyarakat yang tinggal di wilayah rawan gempa. (mms)