INBERITA.COM, Benteng Fort Willem I atau Benteng Pendem Ambarawa kini tampil megah setelah proses revitalisasi tahap pertama resmi rampung.
Obyek wisata sejarah yang berada di Bugisari, Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, itu berubah drastis dari kesan angker menjadi kawasan wisata yang bersih, artistik, dan layak menjadi destinasi unggulan.
Dengan nilai proyek mencapai Rp 156,8 miliar, pengelola diingatkan agar mampu memaksimalkan potensi destinasi bersejarah ini sehingga tidak dikelola dengan setengah hati.
Perubahan wajah Benteng Pendem ini langsung dirasakan masyarakat sekitar. Lintarno (26), warga Tambakboyo, Ambarawa, mengaku bangga melihat peningkatan signifikan pada salah satu ikon sejarah nasional tersebut.
Dulu, kawasan benteng identik dengan suasana gelap dan kurang terawat. Kini, bangunan peninggalan kolonial Belanda yang menjadi saksi sejarah Perang Dunia II itu berdiri kembali dengan nuansa megah dan artistik.
“Sebagai warga Ambarawa saya sangat bangga di kampung kami ada wisata sekelas internasional ini. Benteng Pendem peninggalan sejarah masa Perang Dunia II saat penjajahan kolonial Belanda. Sangat ironi jika ke depan dikelola asal-asalan, seperti peran media sangat penting menggaungkan keindahan wisata ini, tidak setengah-setengah,” ujarnya kepada Awak media, Senin (17/11/2025) siang.
Menurut Lintarno, besarnya dana negara yang digelontorkan untuk revitalisasi harus diimbangi dengan pengelolaan profesional agar potensi wisata sejarah ini benar-benar berdaya saing.
Ia menegaskan promosi, tata kelola kawasan, manajemen keamanan, hingga pelayanan pengunjung harus dilakukan secara optimal agar Benteng Pendem tidak sekadar menjadi proyek besar tanpa dampak.
Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Semarang, Tri Subekso, menjelaskan bahwa revitalisasi dilakukan secara sangat hati-hati agar tidak menghilangkan nilai historis yang melekat pada bangunan berusia ratusan tahun tersebut.
Ia menegaskan pekerjaan revitalisasi bukan sekadar memperindah tampilan, tetapi mengembalikan bentuk otentik Fort Willem I sebagaimana kondisi aslinya.
“Kami berperan sebagai satu di antara tim teknis. Revitalisasi ini tidak sekadar mempercantik, tetapi mengembalikan bentuk otentik Fort Willem I sebagaimana aslinya,” ungkap Tri.
Tri memaparkan, di area Benteng Pendem terdapat sekitar 30 bangunan yang masing-masing memiliki tingkat kerusakan berbeda.
Karena itu, setiap bangunan memerlukan penanganan khusus agar restorasi tidak menyimpang dari karakter awalnya.
Salah satu langkah penting ialah penggunaan bahan plester khusus yang direkomendasikan berdasarkan penelitian lapangan.
“Kami menutup dinding yang terkelupas dengan plester khusus sesuai rekomendasi. Bahannya kami sesuaikan agar menyerupai aslinya, bukan bangunan baru yang meniru,” jelasnya kepada wartawan.
Ia juga menanggapi kritik masyarakat terkait beberapa bangunan yang kini tampak berwarna putih. Tri menegaskan bahwa pemilihan warna bukan keputusan sembarangan, melainkan berdasar hasil riset yang memastikan warna asli tembok benteng pada masa lalu.
“Kalau ada yang mengkritik kenapa ada bangunan yang temboknya berwarna putih, justru hasil penelitian menunjukkan bahwa aslinya memang seperti itu,” pungkas dia.
Revitalisasi Benteng Pendem Tahap I mencakup kawasan cagar budaya dengan luas 27.286,38 meter persegi, termasuk area bangunan benteng seluas 10.392,42 meter persegi.
Lingkup pengerjaan meliputi perlindungan bangunan, pengembangan struktur, hingga penataan lansekap kawasan agar lebih ramah pengunjung tanpa menghilangkan atmosfer historisnya.
Pekerjaan fisik dimulai sejak Desember 2023 oleh PT Waskita Karya sebagai kontraktor pelaksana dengan total anggaran Rp 156,8 miliar.
Selain revitalisasi bangunan inti, penataan dilakukan pada area parkir seluas 6.429,93 meter persegi serta akses jalan seluas 5.873,42 meter persegi demi menunjang kenyamanan wisatawan.
Dari catatan yang dihimpun, pengelolaan wisata Benteng Pendem Ambarawa diserahkan kepada pihak ketiga, yakni PT The Lawu Group – Tourism Management.
Perusahaan ini dikenal mengelola sejumlah destinasi wisata di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Yogyakarta.
Berdasarkan informasi dari profil perusahaan, destinasi yang berada di bawah naungan The Lawu Group antara lain The Lawu Park, Sakura Hills, Tawangmangu Wonder Park, Sate Lawu, Makutoromo Tourism Center, Merbabu Park, Silayur Park, Tuntang Farm House, Baribis Park, The Selasar, dan Bangunkerto Village.
Dengan selesainya revitalisasi tahap pertama, publik berharap Benteng Pendem Ambarawa dapat berkembang menjadi destinasi wisata sejarah berkelas internasional yang tidak hanya menarik pengunjung, tetapi juga menjadi pusat edukasi dan pelestarian warisan budaya.
Tantangan kini berada di tangan pengelola untuk memastikan kawasan ini benar-benar optimal dan memberikan manfaat besar bagi masyarakat serta perekonomian daerah. (mms)