INBERITA.COM, Pemerintah Indonesia bersiap menerapkan kebijakan mandatori biodiesel B50 secara nasional mulai 1 Juli 2026.
Kebijakan ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong penggunaan bahan bakar yang lebih ramah lingkungan di berbagai sektor, termasuk transportasi publik berbasis rel.
Dalam rangka memastikan kesiapan implementasi tersebut, PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mulai melakukan serangkaian uji coba penggunaan bahan bakar B50 pada lokomotif diesel.
Langkah ini dinilai krusial mengingat sektor perkeretaapian merupakan salah satu tulang punggung mobilitas nasional yang membutuhkan standar keselamatan dan keandalan tinggi.
KAI menegaskan bahwa proses transisi menuju penggunaan biodiesel yang lebih tinggi kandungan nabatinya ini bukan hal baru.
Sebelumnya, perusahaan telah mengimplementasikan penggunaan biodiesel B40 secara bertahap dan konsisten dalam operasional kereta api, khususnya untuk layanan jarak jauh.
Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba, menyampaikan bahwa adopsi B50 merupakan kelanjutan dari komitmen perusahaan dalam mendukung energi berkelanjutan tanpa mengorbankan aspek keselamatan dan kualitas layanan.
“KAI terus melanjutkan penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan melalui biodiesel. Dalam setiap tahapannya, keselamatan perjalanan dan kualitas layanan kepada pelanggan tetap menjadi prioritas utama,” ujar Anne.
Data operasional menunjukkan bahwa penggunaan biodiesel sebelumnya memberikan dampak signifikan terhadap pengendalian emisi.
Sepanjang 2025, penggunaan B40 pada layanan Kereta Api Jarak Jauh mencatat total emisi karbon sebesar 127.315.192 kg CO₂e atau sekitar 127,3 ribu ton dari total 47,4 juta pelanggan.
Memasuki 2026, tren positif ini terus berlanjut. Hingga Triwulan I 2026, jumlah pelanggan kereta api jarak jauh tercatat mencapai 14.515.350 orang dengan estimasi emisi sekitar 38,9 ribu ton CO₂e.
Angka ini menunjukkan bahwa penggunaan biodiesel tetap mampu menjaga tingkat emisi dalam batas terkendali meski mobilitas masyarakat meningkat.
Dalam konteks perbandingan, moda transportasi kereta api terbukti jauh lebih efisien dalam menghasilkan emisi karbon dibandingkan kendaraan pribadi.
Untuk perjalanan jarak menengah, kendaraan pribadi rata-rata menghasilkan emisi sekitar 36 hingga 45 kg CO₂ per penumpang. Sementara itu, kereta api hanya menghasilkan sekitar 2,7 kg CO₂ per penumpang.
Perbandingan ini menunjukkan bahwa penggunaan kereta api mampu menekan emisi hingga sekitar 90 persen dalam satu perjalanan. Dengan volume penumpang yang besar, kontribusi sektor perkeretaapian terhadap pengurangan emisi nasional menjadi signifikan.
Berdasarkan estimasi, penggunaan kereta api telah berkontribusi pada potensi pengurangan emisi sekitar 480 hingga 610 ribu ton CO₂e dibandingkan jika perjalanan yang sama dilakukan menggunakan kendaraan pribadi.
Untuk mendukung implementasi B50, KAI tidak berjalan sendiri. Perusahaan berkolaborasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta LEMIGAS dalam melakukan pengujian teknis secara menyeluruh.
Rangkaian uji coba dilakukan secara bertahap sejak pertengahan April 2026. Tahapan awal dimulai dari proses pencampuran bahan bakar, kemudian dilanjutkan dengan pengecekan kondisi sarana, hingga pengujian langsung penggunaan B50 pada lokomotif.
Pengujian dilakukan di Depo Sidotopo, yang menjadi salah satu titik utama evaluasi performa lokomotif berbasis diesel. Selain itu, pengujian juga dilakukan pada kereta pembangkit di Depo Kereta Yogyakarta untuk melihat kinerja bahan bakar dalam berbagai kondisi operasional.
Metode pengujian dilakukan secara komprehensif, dimulai dari pemeriksaan awal, penggunaan B40 sebagai pembanding, hingga pengujian langsung B50.
Uji ketahanan juga dilakukan untuk mengetahui performa mesin dalam kondisi beban tinggi, yang menjadi indikator penting dalam operasional harian kereta api.
Hingga saat ini, hasil uji coba menunjukkan bahwa penggunaan B50 dapat dijalankan, meskipun masih dalam tahap evaluasi lanjutan. Pengujian jangka panjang juga tengah disiapkan guna memastikan stabilitas performa mesin serta efisiensi bahan bakar dalam penggunaan rutin.
Langkah ini menjadi bagian dari mitigasi risiko agar implementasi B50 tidak mengganggu operasional maupun keselamatan perjalanan. KAI menekankan bahwa seluruh proses dilakukan secara hati-hati dan berbasis data teknis yang terukur.
“KAI memastikan proses percepatan implementasi ini berjalan selaras dengan kesiapan di lapangan. Melalui kolaborasi dengan pemerintah dan pengujian yang dilakukan secara bertahap, kami berkomitmen menghadirkan layanan transportasi yang aman, andal, dan berkelanjutan,” tutup Anne.
Implementasi biodiesel B50 di sektor transportasi, khususnya kereta api, dipandang sebagai langkah penting dalam transisi energi nasional.
Selain mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, kebijakan ini juga diharapkan mampu menekan emisi karbon secara signifikan dan mendukung target pembangunan berkelanjutan.
Dengan hasil uji coba yang terus dipantau dan dievaluasi, publik kini menanti bagaimana efektivitas penggunaan B50 dalam operasional penuh mulai pertengahan tahun ini.
Keberhasilan implementasi ini tidak hanya berdampak pada sektor transportasi, tetapi juga menjadi indikator kesiapan Indonesia dalam mengadopsi energi hijau secara lebih luas.







