INBERITA.COM, Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo, baru-baru ini mengungkapkan bahwa lembaga yang ia pimpin tersebut menjadi salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia.
Kontribusi besar ini, menurut Perry, mencerminkan peran Bank Indonesia yang tidak hanya vital dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional, tetapi juga dalam mendukung penerimaan negara melalui kewajiban pajaknya.
Perry Warjiyo mengungkapkan bahwa hingga akhir tahun 2025, BI diperkirakan akan memenuhi kewajiban pajaknya yang mencapai Rp2,95 triliun dari total pagu yang telah disiapkan sebesar Rp2,97 triliun.
Adapun realisasi pembayaran pajak hingga akhir September 2025 telah mencapai sekitar Rp1,56 triliun.
Hal ini menjadikan Bank Indonesia sebagai salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia, yang tidak hanya mencerminkan kinerja fiskal yang solid, tetapi juga transparansi dalam tata kelola keuangan.
“Bank Indonesia menjadi salah satu pembayar pajak terbesar di Indonesia,” ujar Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI pada Kamis (14/11/2025).
Selain kontribusi dalam hal pembayaran pajak, Perry juga memproyeksikan bahwa Anggaran Tahunan Bank Indonesia (ATBI) 2025 akan mencatatkan surplus sebesar Rp68,7 triliun hingga akhir tahun.
Hingga September 2025, surplus anggaran tercatat sebesar Rp77,9 triliun. Proyeksi surplus ini menunjukkan kinerja positif BI dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah ketidakpastian global yang terus menguji perekonomian dunia.
Perry juga menegaskan bahwa keberhasilan BI dalam membayar pajak besar dan mencatatkan surplus anggaran tidak lepas dari tata kelola yang transparan dan kinerja keuangan yang solid.
Dia menambahkan bahwa kontribusi ini menunjukkan bahwa peran BI lebih luas dari sekadar menjalankan kebijakan moneter dan menjaga stabilitas nilai tukar. Bank Indonesia turut berperan aktif dalam mendukung keberlanjutan fiskal negara.
Lebih lanjut, Perry menjelaskan bahwa sinergi antara kebijakan fiskal dan kebijakan moneter harus terus diperkuat untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Hal ini semakin penting mengingat tantangan global yang terus berkembang, seperti tekanan inflasi, fluktuasi pasar keuangan, dan ketidakpastian ekonomi yang timbul dari dinamika politik internasional.
“Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter akan terus diperkuat agar stabilitas ekonomi tetap terjaga di tengah dinamika global yang penuh tantangan,” ungkap Perry.
Penting untuk dicatat bahwa kontribusi besar Bank Indonesia dalam hal pajak juga sejalan dengan peran sejumlah perusahaan besar di Indonesia yang secara konsisten membayar pajak terbesar.
Menurut data dari Direktorat Jenderal Pajak (DJP), pada 2024, ada 20 perusahaan yang tercatat sebagai pembayar pajak terbesar untuk tahun pajak 2023.
Di antaranya adalah beberapa grup konglomerat besar yang beroperasi di berbagai sektor, seperti Grup Djarum, Grup Adaro, dan PT Pertamina (Persero).
Daftar ini menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan besar di Indonesia turut berperan dalam menjaga kesehatan fiskal negara.
Berikut adalah daftar 20 perusahaan pembayar pajak terbesar yang dirilis oleh DJP:
- Grup Djarum – Robert Budi Hartono
- Grup Adaro – Garibaldi Thohir
- Grup Bayan Resources – Low Tuck Kwong
- Grup Indofood – Anthoni Salim
- Grup Sinarmas – Indra Widjaja
- Grup Gudang Garam – Susilo Wonowidjojo
- Grup Indika Energy – Hapsoro
- Grup MedcoEnergi – Ir. Arifin Panigoro
- Grup Musim Mas – Bachtiar Karim
- Grup Wings – Ir. Eddy William Katuari
- Grup Trakindo – Rachmat Mulyana Hamami
- Grup Agung Sedayu – Susanto Kusumo
- Grup CT Corp – Chairul Tanjung
- Grup Harum Energy – Lawrence Barki
- Grup Triputra – Ny. T.P. Racmat L.R. Imanto
- PT Pertamina (Persero)
- PT Perusahaan Listrik Negara (PLN)
- PT Pupuk Indonesia (Persero)
- PT Bank Rakyat Indonesia (BRI)
- PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
Kesimpulan: Peran BI dan Korporasi Besar dalam Perekonomian Nasional
Kontribusi besar Bank Indonesia dalam hal pembayaran pajak serta proyeksi surplus ATBI 2025 semakin memperkuat posisi BI sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga stabilitas ekonomi Indonesia.
Dengan kinerja yang solid dan sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal, BI tidak hanya berfokus pada kebijakan suku bunga dan inflasi, tetapi juga memainkan peran krusial dalam mendukung penerimaan negara dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Begitu pula dengan perusahaan-perusahaan besar yang tercatat dalam daftar pembayar pajak terbesar, yang turut memberikan kontribusi signifikan terhadap keuangan negara.
Kolaborasi antara kebijakan moneter yang dijalankan BI dan kebijakan fiskal yang diambil oleh pemerintah sangat diperlukan untuk memastikan stabilitas ekonomi Indonesia dapat terus terjaga meskipun dihadapkan dengan tantangan global yang tidak pasti. (xpr)







