INBERITA.COM, Ribuan calon penumpang harus merelakan waktu istirahat mereka di lantai dan kursi Terminal 1 Bandara Internasional Soekarno Hatta pada hari Senin. Aktivitas penerbangan di bandara terbesar Indonesia itu lumpuh total akibat sebaran abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau.
Awak media melaporkan situasi darurat ini terjadi sejak Senin pagi pukul 06.50 WIB. Banyak penumpang terlihat tidur melintang di deretan kursi ruang tunggu koridor terminal.
Beberapa warga bahkan menjadikan tumpukan koper bawaan mereka sebagai sandaran tidur darurat. Pengelola bandara bertindak cepat dengan mengoperasikan armada bus gratis untuk mengangkut para penumpang terlantar.
Bus fasilitas Service Recovery Activation ini disiapkan menuju sejumlah kota tujuan darurat seperti Yogyakarta, Solo, Semarang, hingga Surabaya.
Penutupan bandara ini merupakan perpanjangan lanjutan setelah hari sebelumnya dihentikan sampai tengah malam.
Assistant Deputy Communication and Legal Bandara Internasional Soekarno Hatta, Yudistiawan, mengonfirmasi kebijakan perpanjangan penutupan tersebut. Penghentian operasional penerbangan ini resmi diperpanjang hingga pukul 08.59 WIB.
“Sehubungan dengan meningkatnya aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau, Bandara Internasional Soekarno-Hatta melakukan penghentian operasional penerbangan sampai pukul 08.59 WIB,” ujar Yudistiawan dalam keterangan resmi yang diterima wartawan, Senin (7/9/2026).
Dampak pembatalan massal ini dirasakan langsung oleh rombongan keluarga Marni yang berjumlah delapan orang. Mereka tertahan di bandara sejak Minggu malam setelah menghadiri acara pernikahan kerabat.
Rencana kepulangan mereka menuju Pekanbaru gagal total dan memaksa mereka tidur di area publik terminal. Marni mengaku sangat kelelahan menghadapi ketidakpastian jadwal keberangkatan pesawat.
“Perasaan ibu enggak bisa tidur. Anak-anak ibu besok mau kerja, itu tiga orang. Ini (cucu) sekolah SMA, enggak bisa masuk hari ini,” ujar Marni kepada wartawan saat ditemui di Bandara Internasional Soekarno-Hatta.
Keluarga ini sempat mendapat informasi jadwal baru pada pukul satu siang. Namun mereka meragukan kepastian informasi tersebut akibat penundaan yang terus berulang.
“Semuanya terlantar tuh delapan orang. Infonya udah ada, nanti katanya bergeser lagi. Katanya tadi udah ada jadwalnya jam satu tapi ya kita enggak tahu apakah akan digeser lagi atau tidak,” tuturnya.
Keluhan serupa datang dari Brian yang harus merelakan kewajibannya bekerja karena terjebak di bandara. Ia pasrah melewatkan jam kerja demi mengutamakan aspek keselamatan perjalanan.
“Waduh ini saya juga jadi izin karena enggak bisa masuk kerja. Harusnya kan berangkat kemarin sore, tapi ya sudahlah demi keselamatan kita juga,” kata Brian.
Penumpang lain bernama Fira mengambil langkah tegas dengan membatalkan tiket perjalanannya. Ia sudah tertahan sejak hari Minggu subuh pukul 04.00 WIB akibat gangguan cuaca buruk ini.
Fira awalnya memilih opsi penjadwalan ulang penerbangan menuju Bima, Nusa Tenggara Barat. Namun maskapai akhirnya menyarankannya untuk melakukan pembatalan penuh.
“Harusnya terbang hari Minggu subuh jam 4. Kemarin tuh reschedule, katanya mungkin terbangnya hari ini. Jadi hari ini ke bandara lagi, ternyata enggak bisa terbang juga. Pagi ini tadi udah disuruh cancel sama pihak Lion. Cuma aku kan mau ke Bima, NTB, nah makanya masih pilih rute lewat mana,” ungkap Fira kepada wartawan.
Ribuan penumpang lain masih memadati berbagai sudut bandara untuk memantau kejelasan status penerbangan mereka. Erupsi Gunung Anak Krakatau terbukti memberikan dampak lumpuh yang masif pada sektor transportasi udara nasional.







