INBERITA.COM, Serangan udara terbaru yang dilancarkan oleh Israel di Jalur Gaza, Palestina, pada Minggu (5/4/2026) kembali menambah korban jiwa.
Empat warga sipil dilaporkan tewas, dan beberapa lainnya terluka akibat serangan drone yang menargetkan sekelompok warga di kawasan tersebut.
Menurut laporan dari Badan Pertahanan Sipil Gaza dan Rumah Sakit Al Shifa, serangan dilakukan sekitar fajar, dengan dua rudal ditembakkan dari sebuah drone Israel yang mengarah pada kerumunan warga sipil.
Empat korban yang gugur, bersama lima lainnya yang terluka, dibawa ke Rumah Sakit Al Shifa untuk mendapatkan perawatan.
Sebelumnya, kantor berita Palestina Wafa juga memberitakan bahwa serangan udara Israel terhadap warga sipil terjadi pada pagi hari di sebelah timur Kota Gaza.
Pesawat tempur Israel menargetkan kerumunan warga di dekat Lapangan Al-Shawwa, yang mengakibatkan tiga orang lainnya tewas.
Dengan adanya serangan-serangan ini, total korban tewas sejak gencatan senjata diumumkan pada Oktober 2025 kini mencapai 720 orang, dengan lebih dari 1.900 orang lainnya terluka.
Gencatan senjata yang seharusnya berlaku sejak 10 Oktober 2025 telah terlanggar berkali-kali oleh Israel.
Dalam laporan yang diterbitkan oleh Al Jazeera, tercatat bahwa Israel telah melakukan setidaknya 2.073 pelanggaran gencatan senjata antara 10 Oktober 2025 hingga 18 Maret 2026.
Beberapa pelanggaran utama yang terjadi termasuk serangan udara, penembakan langsung, dan serangan artileri yang menyasar warga sipil.
Israel tercatat telah menembaki warga sebanyak 750 kali dan menyerbu pemukiman di luar zona yang disepakati sebanyak 87 kali.
Selain itu, lebih dari 970 serangan udara dan penembakan juga terjadi, menghancurkan rumah dan infrastruktur warga Gaza.
Tak hanya itu, Israel juga dilaporkan menahan sekitar 50 warga Palestina dari Gaza, serta memblokir pengiriman bantuan kemanusiaan yang sangat dibutuhkan oleh warga sipil di wilayah yang terkepung ini.
Pelanggaran gencatan senjata yang terus-menerus ini memperburuk kondisi kehidupan warga Gaza yang sudah terhimpit oleh blokade dan serangan militer selama bertahun-tahun.
Masyarakat Gaza kini harus menghadapi serangan rutin, kelangkaan pasokan medis, dan penghancuran rumah serta fasilitas penting lainnya.
Ini memperburuk kesulitan yang dialami warga, yang sudah lama terjebak dalam konflik berkepanjangan dengan Israel.
Sementara itu, respons internasional terhadap serangan-serangan ini semakin gencar, dengan banyak negara dan organisasi hak asasi manusia mengecam pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi di Gaza.
Namun, hingga kini, upaya untuk menghentikan kekerasan dan mengembalikan perdamaian di wilayah tersebut masih menghadapi banyak hambatan, baik dari pihak internasional maupun dari dalam negeri.
Dengan serangan-serangan yang terus berlanjut dan gencatan senjata yang tak dihormati, masa depan Gaza masih penuh ketidakpastian, dengan harapan akan perdamaian yang semakin memudar.







