INBERITA.COM, Artis Malaysia Zizi Kirana akhirnya dibebaskan bersama 22 relawan asal negaranya setelah sempat ditawan secara tidak sah oleh tentara Israel dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF). Penahanan itu berlangsung selama beberapa hari dan sempat memicu kekhawatiran publik, terutama di Malaysia.
Misi kemanusiaan ini merupakan bagian dari inisiatif maritim internasional untuk menyalurkan bantuan kemanusiaan bagi warga Palestina di Jalur Gaza, yang selama ini diblokade ketat oleh militer Israel.
Rombongan relawan terdiri dari berbagai elemen masyarakat sipil, termasuk artis, politisi, aktivis, hingga tenaga medis, dari berbagai negara seperti Malaysia, Indonesia, Turki, dan beberapa negara Eropa.
Zizi Kirana, penyanyi dan aktris asal Malaysia, menjadi sorotan setelah dilaporkan ikut serta dalam misi tersebut. Ia bersama ratusan relawan lainnya bergerak melalui jalur laut dengan harapan menyalurkan bantuan kemanusiaan secara langsung kepada masyarakat Gaza.
Namun, situasi berubah menjadi tegang saat kapal yang mereka tumpangi berhasil menembus zona merah perairan Palestina pada Kamis, 2 Oktober 2025.
Militer Israel segera mengambil langkah represif dengan menghadang dan menghentikan sejumlah kapal dalam rombongan GSF.
Kapal Huga, yang membawa Zizi Kirana dan rombongan Malaysia, termasuk salah satu yang dihentikan paksa sekitar 70 mil laut atau 130 kilometer dari Pantai Gaza. Dalam insiden itu, seluruh penumpang, termasuk Zizi, ditahan dan disandera oleh otoritas Israel.
Setelah melalui proses diplomasi internasional yang intens, akhirnya seluruh relawan asal Malaysia berhasil dibebaskan dan dipastikan dalam keadaan selamat.
Mereka saat ini sedang dalam perjalanan menuju Bandara Ramon di Israel untuk diterbangkan ke Istanbul, Turki, sebagai titik transit sebelum dipulangkan ke Malaysia.
Perdana Menteri Malaysia, Datuk Seri Anwar Ibrahim, dalam pernyataan resminya mengumumkan kabar baik tersebut kepada publik.
Ia menyampaikan bahwa pembebasan relawan Malaysia adalah hasil dari kerja sama diplomatik antara berbagai negara, termasuk intervensi langsung dari Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, serta dukungan dari Indonesia dan sejumlah negara Eropa yang turut mengirimkan warganya dalam misi GSF.
“Upaya pembebasan ini merupakan hasil solidaritas kemanusiaan global dan kerja sama erat antarnegara,” ujar Anwar Ibrahim dalam pernyataannya.
Setelah tiba di Turki, para relawan akan menjalani pemeriksaan medis menyeluruh, termasuk pemulihan fisik dan psikologis.
Pihak berwenang akan memastikan bahwa seluruh relawan dalam kondisi aman, sehat, dan mendapatkan pendampingan trauma secara profesional sebelum kembali ke tanah air.
Ketua rombongan GSF dari Malaysia, Datuk Sani Araby Al-Kahery, membagikan kesaksiannya mengenai perlakuan tidak manusiawi yang dialami para relawan selama ditahan oleh tentara Israel.
Ia menyebut para relawan dipaksa berlutut selama lima jam tanpa akses terhadap air minum, fasilitas toilet, atau obat-obatan yang mereka butuhkan.
Para relawan sempat ditahan di Penjara Ketziot, yang dikenal sebagai salah satu fasilitas penahanan imigrasi paling ketat di Israel.
“Israel memperlakukan kami dengan kejam, meski kami datang membawa misi damai. Tapi penderitaan kami berakhir berkat tekanan diplomatik internasional,” ujar Sani.

Sebelumnya, otoritas Israel dilaporkan menghentikan paksa total 42 kapal dalam rombongan Global Sumud Flotilla.
Mereka menahan 201 aktivis dari 36 negara, termasuk Zizi Kirana dan relawan dari Asia Tenggara. Penahanan ini menuai kecaman internasional, mengingat misi GSF bersifat sipil dan bertujuan kemanusiaan.
Adapun Global Sumud Flotilla (GSF) adalah konvoi bantuan kemanusiaan terbesar melalui jalur laut yang bertujuan untuk mendobrak blokade Israel atas Jalur Gaza.
Misi ini diikuti oleh lebih dari 500 partisipan dari 44 negara, yang terdiri dari berbagai kalangan seperti anggota parlemen, dokter, seniman, pengacara, dan aktivis kemanusiaan global. Salah satu yang ikut bergabung adalah aktivis lingkungan terkenal Greta Thunberg.
GSF merupakan gabungan dari berbagai gerakan sipil dunia, seperti Freedom Flotilla Coalition, Global Movement to Gaza, Maghreb Sumud Flotilla, dan Sumud Nusantara, yang menjadi wadah representasi dari negara-negara Asia Tenggara, termasuk Malaysia dan Indonesia.
Hingga saat ini, insiden penahanan para relawan GSF oleh militer Israel masih menjadi sorotan dunia internasional. Banyak pihak mengecam tindakan represif Israel terhadap konvoi kemanusiaan damai. Misi GSF sendiri digambarkan sebagai simbol perlawanan sipil terhadap blokade Gaza yang sudah berlangsung selama lebih dari satu dekade.
Dengan dibebaskannya para relawan Malaysia, termasuk Zizi Kirana, fokus kini beralih pada proses pemulangan mereka serta upaya lanjutan untuk memastikan bahwa hak-hak kemanusiaan tetap dijunjung tinggi di wilayah konflik. (xpr)







