INBERITA.COM, Gunung Semeru di Lumajang Jawa Timur kembali menunjukkan aktivitas vulkanik yang signifikan pada malam hari, Selasa (6/1/2026).
Letusan besar terjadi dengan kolom abu yang teramati mencapai ketinggian 800 meter di atas puncak, menambah kekhawatiran di wilayah sekitar. Erupsi ini disertai dengan lontaran lava pijar yang mengarah ke lereng gunung, yang merupakan peringatan kuat bagi masyarakat untuk lebih waspada.
Pada pukul 20.29 WIB, petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Liswanto, mengkonfirmasi terjadinya erupsi besar yang menyebabkan kolom letusan setinggi 800 meter di atas puncak, atau sekitar 4.476 meter di atas permukaan laut.
Kolom abu yang muncul berwarna putih hingga kelabu dengan intensitas sedang, bergerak ke arah utara. Erupsi ini terekam dengan amplitudo maksimum sebesar 22 mm pada seismogram, dan berlangsung sekitar dua menit delapan detik.
“Erupsi masih berlangsung saat laporan ini dibuat oleh petugas,” ujar Liswanto dalam keterangannya.
Selama hari tersebut, Gunung Semeru tercatat mengalami 12 kali erupsi, dengan letusan pertama terjadi pada pukul 08.07 WIB dan yang terakhir pada pukul 20.29 WIB.
Ketinggian letusan bervariasi antara 400 hingga 800 meter. Dengan adanya letusan yang terjadi berulang kali sepanjang hari, aktivitas Gunung Semeru menjadi semakin intensif, menambah potensi bahaya yang mengancam kawasan sekitar.
Menurut Liswanto, meskipun terkadang tertutup kabut, asap kawah utama Semeru terus teramati dengan intensitas rendah hingga sedang, membubung setinggi 200-300 meter dari puncak gunung.
Kondisi ini menunjukkan bahwa aktivitas gunung yang terletak di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang ini masih sangat aktif dan dapat menyebabkan erupsi yang lebih besar.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) telah menetapkan status Gunung Semeru pada Level III (Siaga), yang menunjukkan bahwa potensi bahaya masih sangat tinggi.
Dalam peringatan resmi, PVMBG mengeluarkan serangkaian rekomendasi yang harus dipatuhi oleh masyarakat sekitar untuk mengurangi risiko bahaya yang bisa timbul akibat aktivitas vulkanik yang intens ini.
Pertama, PVMBG mengimbau agar masyarakat tidak melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga sejauh 13 km dari puncak.
Kawasan ini diprediksi menjadi jalur utama bagi potensi awan panas dan aliran lahar yang dapat bergerak dengan cepat, membahayakan keselamatan warga.
Di luar jarak tersebut, PVMBG juga mengingatkan agar masyarakat tidak beraktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) yang ada di sepanjang Besuk Kobokan. Kawasan ini berisiko tinggi karena aliran lahar yang dapat meluas hingga 17 km dari puncak gunung.
Lebih jauh lagi, PVMBG juga melarang segala aktivitas di dalam radius 5 km dari kawah/puncak Gunung Semeru.
Wilayah ini rawan terhadap lontaran batu pijar yang bisa terjadi akibat aktivitas vulkanik. Masyarakat diminta untuk terus waspada dan tidak mengambil risiko beraktivitas di area yang berpotensi berbahaya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Lumajang, Isnugroho, memastikan bahwa petugas terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Semeru melalui laporan dari Pos Pengamatan dan pengawasan dengan menggunakan CCTV.
Menurutnya, pada malam hari ini, selain terjadinya erupsi besar, gunung juga mengeluarkan lontaran lava pijar yang terlihat hingga ketinggian 3.676 mdpl, mencapai sekitar 3/4 dari ketinggian total gunung.
Isnugroho menambahkan bahwa masyarakat di sekitar kawasan Gunung Semeru diminta untuk tetap waspada, mematuhi semua instruksi dan rekomendasi dari pihak berwenang, serta tidak melakukan perjalanan ke daerah-daerah yang sudah dipetakan sebagai kawasan rawan bahaya.
Dengan meningkatnya intensitas aktivitas vulkanik, letusan yang terus terjadi, serta lontaran lava pijar yang berbahaya, Gunung Semeru semakin menunjukkan potensi bahaya besar bagi masyarakat sekitar.
Semua pihak, baik PVMBG, BPBD, dan petugas lainnya, terus bekerja sama untuk memantau situasi dan memberikan informasi terbaru mengenai perkembangan aktivitas gunung.
Masyarakat diminta untuk tidak terpancing spekulasi dan tetap mengikuti instruksi dari pihak berwenang, agar dapat menjaga keselamatan diri dan keluarga.
Sebagai langkah preventif, masyarakat juga harus memperhatikan dan menjauhi zona-zona yang berpotensi membahayakan, termasuk daerah sekitar kawah dan sepanjang aliran sungai yang terhubung dengan puncak Gunung Semeru. (**)







