INBERITA.COM, Kasus dosen Fakultas Pertanian Universitas Islam Makassar (UIM), Amal Said atau AS, yang viral usai terekam meludahi seorang kasir swalayan, kini memasuki babak krusial.
Peristiwa yang terjadi hanya dalam hitungan detik itu berdampak besar terhadap reputasi dan karier akademik yang telah ia bangun selama puluhan tahun.
Amal menyebut, satu tindakan spontan telah membuat perjalanan kariernya selama 33 tahun terancam runtuh.
Amal Said merupakan seorang pendidik yang telah mengabdikan diri sebagai dosen selama lebih dari tiga dekade.
Namun, rekaman video yang tersebar luas di berbagai platform media sosial membuat namanya menjadi sorotan publik.
Dalam video tersebut, Amal terlihat meludahi seorang kasir perempuan berinisial N (21), yang kemudian memicu kecaman luas dari masyarakat.
Dalam keterangannya, Amal mengungkapkan penyesalan mendalam atas perbuatannya dan menyebut kejadian tersebut sebagai bentuk kekhilafan.
Ia menilai dampak yang timbul sangat tidak sebanding dengan apa yang terjadi di lokasi kejadian. Menurutnya, satu detik emosi telah menghancurkan reputasi yang dibangun selama puluhan tahun.
“Sekarang ini sudah rusak nama saya, bahkan mungkin juga berakibat ke tempat kerja saya ini. Rusak sekali saya ini. Satu detik saya berbuat itu, 33 tahun saya pegawai, mengajar, ribuan mahasiswa saya selesaikan, masa sedetik itu rusak segalanya, tidak sebanding,” kata Amal dikonfirmasi Media, Minggu (28/12/2025).
Amal menuturkan, sejak video tersebut viral, tekanan yang ia terima sangat besar. Tidak hanya dari masyarakat luas, tetapi juga berpotensi berdampak pada statusnya sebagai dosen dan aparatur sipil negara.
Ia menyadari sepenuhnya bahwa perbuatannya tidak pantas dilakukan oleh seorang pendidik, namun ia berharap publik dapat melihat peristiwa tersebut secara utuh dan proporsional.
Kasus ini sendiri telah dilaporkan ke pihak kepolisian. Meski demikian, Amal menyampaikan harapannya agar persoalan tersebut dapat diselesaikan secara kekeluargaan.
Ia menilai penyelesaian damai akan lebih baik bagi semua pihak dibandingkan proses hukum yang berlarut-larut.
Amal juga meminta agar kasir yang terlibat dalam insiden tersebut turut mengakui adanya kesalahan, sehingga kedua belah pihak dapat saling memahami posisi masing-masing.
Menurutnya, konflik tersebut terjadi karena kesalahpahaman di situasi tertentu.
“Harapan saya, orang itu juga harus sadar, mengakui juga dirinya punya kekhilafan, kita kan manusia bisa saling khilaf dalam kondisi tertentu. Saya tidak mau kasi panjang masalah, kalau bisa diselesaikan baik-baik saja, dosa-dosa saya tanggung sendiri,” ujar Amal.
Lebih lanjut, Amal menjelaskan kronologi kejadian dari sudut pandangnya. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah bermaksud menyerobot antrean saat berada di swalayan tersebut.
Amal mengaku datang hanya untuk membeli camilan dan mengikuti prosedur antrean sebagaimana pelanggan lainnya.
“Awalnya memang saya singgah untuk membeli cemilan, setelah saya ambil belanjaan, turunlah saya ke kasir, saya antre disitu, saya sama sekali tidak menyerobot, saya ikut antrean,” ucap Amal.
Saat sedang mengantre, Amal melihat ada kasir lain yang antreannya kosong dan jaraknya tidak jauh dari posisinya berdiri.
Dengan maksud mempercepat proses pembayaran dan agar tidak menghambat pelanggan lain di belakangnya, ia memutuskan untuk berpindah ke kasir tersebut.
“Saya liat ada kasir yang sudah kosong antreannya, jadi maksud saya supaya lebih ringkas apalagi masih ada orang dibelakang saya, akhirnya saya kesebelah ke kasir yang sudah kosong antreannya,” jelas dia.
Namun, menurut pengakuan Amal, teguran yang disampaikan oleh kasir tersebut membuatnya merasa tidak dihargai.
Ia mengaku tersinggung karena merasa diperlakukan tidak sopan, terlebih mengingat usianya yang sudah lanjut dan latar belakangnya sebagai dosen.
“Setelah saya ditegur itu saya merasa dilecehkan, merasa dihina, saya ini orang tua, masa saya diperlakukan seperti itu. Kalau orang Bugis-Makassar diperbuat begitu kayak seperti tidak hargai, dihinakan, begitu saya rasakan saat itu,” ujarnya.
Amal menyebut bahwa tindakan meludah tersebut terjadi secara spontan sebagai luapan emosi sesaat.
Ia menegaskan tidak pernah berniat merendahkan atau mencederai pihak kasir, dan mengakui bahwa perbuatannya merupakan kesalahan besar yang kini harus ia tanggung konsekuensinya.
Kasus ini menjadi sorotan publik karena melibatkan seorang dosen dan aparatur sipil negara yang seharusnya menjadi teladan di ruang publik.
Banyak pihak menilai peristiwa tersebut sebagai pelajaran penting tentang pengendalian emosi dan etika di ruang publik, terutama bagi figur pendidik.
Sementara proses hukum masih berjalan, Amal berharap ada ruang untuk penyelesaian secara damai.
Ia menegaskan kesiapannya untuk bertanggung jawab atas perbuatannya dan menanggung konsekuensi moral yang timbul, seraya berharap karier dan pengabdiannya selama 33 tahun tidak sepenuhnya terhapus oleh satu kesalahan yang ia sebut sebagai khilaf.







