Usai Ambruk dan Tewaskan 63 Orang, Ponpes Al-Khoziny Dibangun Kembali dengan Dana APBN

INBERITA.COM, Pembangunan kembali Pondok Pesantren (Ponpes) Al-Khoziny di Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, resmi dimulai setelah sempat ambruk dan menelan puluhan korban jiwa.

Proyek rekonstruksi pesantren tersebut menggunakan anggaran Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) senilai Rp 125,3 miliar dan ditargetkan rampung pada Juli 2026.

Pembangunan ini menjadi simbol kebangkitan sekaligus komitmen pemerintah dalam memastikan keamanan serta kenyamanan lembaga pendidikan pesantren di Indonesia.

Berdasarkan informasi yang dilansir awak media pada Jumat (12/12/2025), prosesi peletakan batu pertama atau groundbreaking telah dilaksanakan pada Kamis (11/12/2025).

Acara tersebut dihadiri langsung oleh Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau yang akrab disapa Cak Imin.

Kehadiran Cak Imin menandai dimulainya secara resmi pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny yang berlokasi di kawasan Buduran, Sidoarjo.

Proyek rekonstruksi Ponpes Al-Khoziny akan dibangun di atas lahan seluas sekitar 3.700 meter persegi.

Dengan dukungan anggaran negara yang cukup besar, pemerintah menargetkan pembangunan dilakukan secara maksimal, baik dari sisi kualitas bangunan, keselamatan konstruksi, maupun kenyamanan lingkungan belajar bagi para santri.

Pembangunan kembali ini juga diharapkan mampu mengembalikan fungsi pesantren sebagai pusat pendidikan dan pembinaan keagamaan yang aman serta representatif.

Dalam sambutannya saat groundbreaking, Cak Imin menegaskan bahwa peletakan batu pertama tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan momentum penting untuk memperkuat semangat gotong royong antara pemerintah, pengelola pesantren, dan seluruh elemen masyarakat.

Menurutnya, pembangunan Ponpes Al-Khoziny menjadi bagian dari upaya bersama untuk memajukan pendidikan pesantren di Indonesia agar semakin berkualitas dan berdaya saing.

“Tidak ada kata lain kecuali rasa syukur. Hari ini menjadi momentum untuk kita semua-pemerintah, pengasuh, lembaga pendidikan untuk bahu-membahu agar pesantren semakin nyaman dan aman bagi para santri,” kata Cak Imin.

Cak Imin juga mengungkapkan bahwa Presiden Prabowo Subianto memberikan perhatian khusus terhadap pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny.

Perhatian tersebut diberikan setelah terjadinya musibah besar yang mengguncang pesantren tersebut pada akhir September lalu.

Menurut Cak Imin, Presiden Prabowo secara langsung menginstruksikan agar proses pembangunan pesantren dilakukan secara optimal, transparan, dan memperhatikan aspek keselamatan secara menyeluruh.

Ia menegaskan, pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny bukan hanya soal mendirikan bangunan fisik semata, tetapi juga memastikan bahwa tragedi serupa tidak terulang di masa mendatang.

Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen mengawal proyek ini agar sesuai dengan standar konstruksi yang aman dan layak untuk aktivitas pendidikan jangka panjang.

Peristiwa ambruknya bangunan di lingkungan Ponpes Al-Khoziny terjadi pada akhir September 2025 dan menjadi salah satu tragedi paling memilukan di dunia pendidikan pesantren.

Insiden tersebut menyebabkan 63 orang meninggal dunia, sebagian besar merupakan santri dan pihak yang berada di lokasi saat kejadian.

Tragedi ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, civitas pesantren, serta masyarakat luas.

Musibah tersebut juga memicu evaluasi menyeluruh terhadap kondisi bangunan pesantren di berbagai daerah.

Pemerintah pusat maupun daerah mulai menaruh perhatian lebih besar terhadap aspek keselamatan infrastruktur pendidikan, khususnya di lingkungan pesantren yang menampung ribuan santri dari berbagai wilayah.

Pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny pun menjadi salah satu langkah konkret dalam merespons tragedi tersebut.

Dengan dimulainya pembangunan kembali Ponpes Al-Khoziny, diharapkan kepercayaan masyarakat terhadap keamanan dan kualitas pendidikan pesantren dapat kembali pulih.

Pemerintah menilai pesantren memiliki peran strategis dalam pembangunan sumber daya manusia, pembentukan karakter, serta penguatan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan.

Oleh sebab itu, keberadaan fasilitas yang aman dan memadai menjadi hal yang tidak bisa ditawar.

Pembangunan yang ditargetkan selesai pada Juli 2026 ini diharapkan mampu menghadirkan lingkungan belajar yang lebih baik bagi para santri.

Selain sebagai pusat pendidikan, Ponpes Al-Khoziny juga diharapkan kembali menjadi ruang pembinaan sosial dan keagamaan yang memberi manfaat luas bagi masyarakat sekitar.

Pemerintah pun berharap proses rekonstruksi berjalan lancar tanpa hambatan, sehingga pesantren dapat segera beroperasi kembali dan melanjutkan perannya dalam mencerdaskan kehidupan bangsa.