INBERITA.COM, Pemerintah kembali memperbarui data korban dalam insiden kecelakaan kereta yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuterline rute Jakarta–Cikarang di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat.
Hingga Selasa siang, jumlah korban tewas tercatat mencapai 15 orang, sementara puluhan lainnya masih menjalani perawatan intensif di sejumlah rumah sakit.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyampaikan perkembangan terbaru tersebut saat meninjau langsung lokasi kejadian.
Ia menegaskan bahwa pemerintah terus memprioritaskan penanganan korban, terutama mereka yang masih dalam kondisi kritis.
“Update sampai dengan jam 1 siang tadi ada 15 orang yang meninggal dunia dan 88 orang yang masih dirawat. Termasuk ada tiga yang tadinya terjepit bisa kita evakuasi dan masih dalam perawatan di rumah sakit,” kata AHY di Stasiun Bekasi Timur, Selasa (18/4) siang.
AHY menambahkan, seluruh upaya medis terus dimaksimalkan guna meningkatkan peluang keselamatan para korban yang masih dirawat.
“Dan, tentunya sekali lagi kita berupaya maksimal untuk melakukan penanganan secara medis agar bisa menyelamatkan saudara-saudara kita yang masih dirawat saat ini,” sambungnya.
Kecelakaan tragis tersebut terjadi pada Senin (27/4) malam ketika rangkaian KRL Commuterline bertabrakan dengan kereta api jarak jauh Argo Bromo Anggrek di area Stasiun Bekasi Timur.
Insiden ini menimbulkan kerusakan signifikan pada rangkaian kereta serta memicu proses evakuasi besar-besaran yang melibatkan berbagai unsur petugas.
Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi menyatakan pihaknya masih menunggu hasil investigasi resmi dari Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Ia menegaskan bahwa investigasi tersebut penting untuk mengungkap penyebab pasti kecelakaan secara objektif dan menyeluruh.
Menurut Dudy, Kementerian Perhubungan memberikan ruang penuh bagi KNKT untuk menjalankan proses investigasi secara independen. Hasil investigasi nantinya akan menjadi dasar evaluasi komprehensif guna meningkatkan keselamatan transportasi kereta api di masa mendatang.
Di sisi lain, ia memastikan bahwa proses evakuasi korban telah dilakukan secara cepat dan terkoordinasi. Penanganan di lapangan juga dilakukan dengan mengedepankan aspek keselamatan, baik bagi korban maupun petugas yang terlibat.
“Mohon doanya dari masyarakat semoga proses evakuasi ini dapat berlangsung dengan cepat, aman, dan tetap mengedepankan keselamatan, serta dapat menyelamatkan korban-korban yang masih ada di dalam kereta api,” ujar Dudy.
Berdasarkan kronologi awal, kecelakaan bermula ketika rangkaian KRL relasi Bekasi–Cikarang mengalami insiden setelah tertemper sebuah mobil di perlintasan sebidang JPL 85. Dampak dari kejadian tersebut membuat rangkaian KRL tidak dapat melanjutkan perjalanan normal dan harus dievakuasi.
Kereta tersebut kemudian ditetapkan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) dengan kode 5181 karena beroperasi di luar jadwal reguler. Situasi ini berdampak pada pengaturan lalu lintas kereta di jalur tersebut.
Sebagai langkah pengamanan, petugas menghentikan satu rangkaian KRL lainnya dengan kode PLB 5568 yang tengah menuju Cikarang di peron Stasiun Bekasi Timur. Namun, dalam kondisi tersebut, KA Argo Bromo Anggrek (KA 4) relasi Jakarta–Surabaya tidak sempat berhenti secara penuh.
Akibatnya, tabrakan tidak dapat dihindari ketika kereta jarak jauh tersebut melaju dan menabrak rangkaian KRL PLB 5568 yang sedang berhenti. Benturan keras ini menjadi penyebab utama jatuhnya korban jiwa dan luka dalam jumlah besar.
Hingga saat ini, fokus utama pemerintah dan seluruh pihak terkait masih tertuju pada penanganan korban serta kelancaran proses investigasi.
Publik pun menantikan hasil penyelidikan KNKT yang diharapkan dapat memberikan kejelasan terkait penyebab kecelakaan serta rekomendasi untuk mencegah kejadian serupa di masa depan.







