INBERITA.COM, Timnas Italia mencatat sejarah suram setelah gagal lolos ke putaran final Piala Dunia 2026.
Gli Azzurri tumbang dalam adu penalti 1-4 melawan Bosnia & Herzegovina di babak playoff kualifikasi, sehingga Italia dipastikan absen dari ajang terbesar sepak bola dunia untuk tiga edisi berturut-turut.
Sebelumnya, skuad asuhan Italia juga gagal melaju ke Piala Dunia 2018 dan 2022.
Keputusan ini menjadi pukulan telak bagi negara yang memiliki tradisi sepak bola gemilang. Italia merupakan juara Piala Dunia empat kali dan pernah melahirkan sederet pemain top dunia.
Namun, kegagalan beruntun ini menimbulkan pertanyaan besar: apa yang membuat Timnas Italia kesulitan tampil di level tertinggi secara konsisten?
Salah satu penyebab utama adalah minimnya pemain Italia dengan kualitas papan atas. Italia telah melewati masa kejayaan saat diperkuat bintang seperti Andrea Pirlo, Alessandro Nesta, Francesco Totti, hingga Alessandro Del Piero.
Namun, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) gagal melakukan regenerasi yang efektif setelah para legenda pensiun.
Kebijakan klub Serie A yang lebih sering mendatangkan pemain asing turut berperan memperlemah kualitas lokal.
Lini depan menjadi titik lemah yang paling terlihat. Italia kini tak memiliki striker tajam seperti Luca Toni, Filippo Inzaghi, atau Christian Vieri.
Penyerang saat ini, seperti Andrea Belotti dan Ciro Immobile, gagal menunjukkan ketajamannya di kualifikasi Piala Dunia sebelumnya.
Sementara itu, striker muda seperti Gianluca Scamacca, Moise Kean, Mateo Retegui, dan Pio Esposito belum cukup mentereng untuk memimpin lini serang Italia.
Faktor lain yang memperburuk performa Italia adalah dominasi pemain asing di klub-klub Serie A.
Data Transfermarkt menunjukkan dari 534 pemain yang bermain di liga, 366 di antaranya berasal dari luar Italia.
Artinya, 68,5 persen pemain Serie A bukan lokal. Inter Milan tercatat sebagai klub dengan pemain asing terbanyak, yakni 16 pemain, sementara hanya delapan pemain lokal tersedia di tim utama, termasuk Alessandro Bastoni dan Nicolo Barella.
AC Milan bahkan hanya memiliki lima pemain lokal, dengan tiga pemain reguler seperti Samuele Ricci.
Seringnya klub-klub Serie A mengandalkan veteran asing, termasuk nama besar yang telah melewati puncak karier, seperti Luka Modric, Franck Ribery, Kevin De Bruyne, dan Pedro Rodriguez, juga berdampak pada proses regenerasi talenta lokal.
Hal ini menyebabkan Timnas Italia kesulitan menemukan pemain muda berbakat untuk mengisi skuad utama.
Minimnya pelatih berkualitas untuk menangani Timnas Italia juga menjadi faktor penting. FIGC beberapa kali membuat keputusan kontroversial.
Gian Piero Ventura gagal membawa Italia ke Piala Dunia 2018, sementara Roberto Mancini yang sempat menjuarai Euro 2020, gagal lolos ke Piala Dunia 2022.
Luciano Spalletti yang sukses bersama Napoli di Serie A 2022/2023, tidak mampu mengangkat performa tim di Euro 2024, dan akhirnya digantikan Gennaro Gattuso, yang rekam jejaknya kurang mentereng di level klub.
Selain itu, gaya bermain Italia yang terlalu taktis dan tempo lambat, ketiadaan filosofi sepak bola berkelanjutan, serta konflik internal dalam manajemen FIGC memperparah penurunan performa.
Kegagalan ini menjadi peringatan serius: tanpa perubahan mendasar dalam pembinaan pemain muda, aturan ketat terkait kuota pemain asing di Serie A, serta pembangunan fasilitas klub yang memadai, Italia akan terus kesulitan bersaing di level dunia.
Absennya Italia di Piala Dunia 2026 menandai periode krisis bagi Gli Azzurri. Para penggemar dan pecinta sepak bola Italia berharap FIGC segera mengambil langkah konkret agar tradisi dan prestise sepak bola negeri ini tidak terus menurun.







