INBERITA.COM, Teka-teki mengenai kondisi Syafiq Ridhan Ali Razan akhirnya terungkap setelah hasil visum luar dilakukan oleh tim medis RSUD Goeteng Taroenadibrata, Purbalingga.
Pendaki muda asal Magelang itu diperkirakan telah meninggal dunia sekitar 15 hari sebelum jenazahnya ditemukan oleh tim SAR gabungan di kawasan Gunung Slamet.
Fakta tersebut sekaligus menjawab pertanyaan publik terkait lamanya Syafiq dinyatakan hilang hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi tidak bernyawa.
Syafiq Ridhan Ali Razan, 18 tahun, diketahui merupakan siswa SMA Negeri 5 Magelang. Ia dilaporkan hilang saat melakukan pendakian di Gunung Slamet dan baru ditemukan setelah 17 hari pencarian intensif.
Jenazah korban ditemukan di jalur punggungan Gunung Malang, tepatnya di sekitar area Batu Watu Langgar, wilayah yang masih berada di sekitar Pos 9 jalur pendakian Gunung Slamet.
Penemuan jenazah tersebut menjadi titik akhir dari operasi pencarian yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari Basarnas, relawan, hingga masyarakat setempat.
Lokasi penemuan yang berada di medan sulit membuat proses evakuasi berjalan penuh tantangan dan memerlukan strategi khusus dari tim penyelamat.
Proses evakuasi jenazah Syafiq berlangsung dramatis karena kondisi alam yang tidak bersahabat.
Medan terjal, curam, hujan, serta kabut tebal menjadi hambatan utama bagi tim SAR gabungan.
Demi mempertimbangkan keselamatan personel dan efektivitas waktu, rencana awal evakuasi akhirnya mengalami perubahan.
Semula, jenazah Syafiq direncanakan dievakuasi melalui jalur Dipajaya, Pemalang.
Namun setelah dilakukan kajian lapangan, jalur evakuasi digeser melalui jalur Purbalingga yang dinilai lebih memungkinkan meski tetap memiliki tingkat kesulitan tinggi.
Keputusan tersebut diambil setelah mempertimbangkan berbagai faktor teknis di lapangan.
Rescuer Kantor SAR Semarang Unit Siaga Semarang, Handika Hengki, menjelaskan alasan perubahan jalur tersebut.
“Dengan berbagai pertimbangan, tim evakuasi akhirnya menggeser evakuasi jenazah pendaki Syafiq Ridhan Ali Razan melalui jalur Purbalingga, apalagi kondisi cukup medan yang cukup berat, terjal dan disertai hujan serta kabut tebal,” ujar Handika.
Setelah melalui perjalanan panjang dan melelahkan, rombongan tim evakuasi akhirnya berhasil mencapai Pos 1 jalur pendakian Purbalingga pada Kamis (15/1) sekitar pukul 14.20 WIB.
Kedatangan jenazah Syafiq disambut ratusan warga, relawan, serta keluarga korban yang sejak pagi menunggu dengan penuh harap dan emosi. Suasana haru tak terbendung ketika jenazah berhasil diturunkan dari gunung.
Dari Pos 1, jenazah kemudian dibawa ke RSUD Goeteng Taroenadibrata Purbalingga untuk menjalani pemeriksaan medis. Tim forensik segera melakukan visum luar guna memastikan identitas serta kondisi fisik korban.
Dokter Forensik RSUD Goeteng Taroenadibrata, dr. Gunawan, menjelaskan bahwa pemeriksaan yang dilakukan adalah visum luar karena kondisi jenazah yang sudah mengalami pembusukan lanjut.
“Hari ini pemeriksaan yang kami lakukan adalah visum luar yakni dari kepala hingga ujung kaki, identifikasi awal, korban berjenis kelamin laki-laki,” kata Gunawan.
Berdasarkan hasil pemeriksaan, tim medis menemukan tanda-tanda pembusukan yang cukup signifikan, terutama di area kepala hingga perut.
Keberadaan belatung dengan ukuran mencapai sekitar 1,5 sentimeter menjadi salah satu indikator utama dalam memperkirakan waktu kematian korban.
Dari temuan tersebut, dokter menyimpulkan bahwa Syafiq diperkirakan telah meninggal dunia sekitar dua minggu sebelum pemeriksaan dilakukan atau sekitar 15 hari sebelum jenazah ditemukan.
Meski demikian, dr. Gunawan menegaskan bahwa tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan maupun penganiayaan pada tubuh korban.
Hal ini sekaligus menepis spekulasi terkait kemungkinan tindak kriminal dalam kasus meninggalnya pendaki muda tersebut.
Namun, hasil visum juga mengungkap adanya cedera fisik yang cukup serius pada bagian kaki korban. Tim medis menemukan adanya perubahan bentuk pada paha kiri Syafiq yang mengindikasikan patah tulang.
“Secara visual terlihat adanya deformitas atau perubahan bentuk bila dibandingkan dengan kaki kanan dan saat diraba memang terdapat tanda patah tulang,” tambahnya.
Luka pada paha kiri tersebut berukuran sekitar 6 x 5 sentimeter. Kendati demikian, dr. Gunawan menyampaikan bahwa pihaknya belum dapat memastikan apakah patah tulang tersebut menjadi penyebab langsung kematian korban.
Hal ini dikarenakan pemeriksaan yang dilakukan hanya sebatas visum luar tanpa dilakukan autopsi lanjutan.
Setelah seluruh rangkaian pemeriksaan medis selesai, jenazah Syafiq Ridhan Ali Razan kemudian diserahkan kepada pihak keluarga.
Jenazah dibawa pulang ke rumah duka yang berada di Kelurahan Kramat Utara, Kecamatan Magelang Utara, Kota Magelang.
Hingga Kamis (15/1) malam, suasana duka masih menyelimuti kediaman korban. Para pelayat terus berdatangan untuk memberikan doa dan penghormatan terakhir kepada Syafiq, pendaki muda yang dikenal memiliki semangat petualangan tinggi.
Kepergian Syafiq menjadi duka mendalam tidak hanya bagi keluarga, tetapi juga bagi dunia pendakian di Tanah Air, sekaligus menjadi pengingat akan risiko besar yang selalu mengiringi aktivitas pendakian gunung.







