INBERITA.COM, Wacana aturan baru Liga Inggris mencuat menyusul kontroversi taktik sepak pojok Arsenal yang dinilai sulit diantisipasi dan berpotensi merusak keseimbangan permainan.
Skema yang membuat The Gunners dijuluki “Corner FC” itu kini menjadi sorotan, setelah terbukti sangat efektif mendulang gol sepanjang musim 2025/2026.
Dalam laga Liga Inggris di Emirates Stadium, London, 1 Maret 2026, momen gol Jurrien Timber ke gawang Chelsea menjadi salah satu contoh bagaimana strategi bola mati Arsenal berjalan optimal.
Skema sepak pojok dengan menumpuk sejumlah pemain di kotak kecil kiper membuat ruang gerak penjaga gawang lawan menjadi sangat terbatas.
Taktik ini bukan sekadar variasi biasa. Arsenal tercatat telah mencetak 16 gol dari situasi sepak pojok di Liga Inggris musim ini.
Jumlah tersebut menjadikan mereka sebagai tim dengan koleksi gol terbanyak dari skema tendangan sudut pada musim 2025/2026.
Produktivitas itu sekaligus mempertegas efektivitas pendekatan taktik yang diterapkan.
Namun, dominasi Arsenal dari bola mati justru memicu kontroversi. Sejumlah pihak menilai skema tersebut mengeksploitasi celah regulasi.
Para pemain Arsenal kerap terlihat sudah melakukan perebutan posisi dan kontak fisik di depan gawang bahkan sebelum bola ditendang.
Situasi ini dianggap menyulitkan wasit untuk mengambil keputusan pelanggaran.
Mantan asisten wasit Liga Inggris, Darren Cann, menyoroti fenomena tersebut. Menurutnya, pergumulan pemain sering kali sudah terjadi sebelum tendangan sudut dilakukan.
Dalam kondisi itu, perangkat pertandingan tidak memiliki dasar kuat untuk meniup peluit karena bola belum dianggap dalam permainan.
“Perebutan bola sering dimulai sebelum tendangan sudut dilakukan. Tidak mungkin memberikan pelanggaran ketika bola tidak sedang dimainkan,” ujar Cann dikutip dari BBC.
Ia juga menilai, dalam praktiknya, Liga Inggris cukup jarang memberikan pelanggaran untuk aksi saling menahan atau menghalangi pergerakan lawan di kotak penalti.
Akibatnya, tim yang mampu memaksimalkan situasi tersebut mendapatkan keuntungan signifikan.
Keberhasilan Arsenal lantas mulai diikuti klub-klub lain. Beberapa tim Liga Inggris mencoba meniru pola menumpuk pemain di kotak kecil saat sepak pojok.
Jika tren ini terus berkembang, bukan tidak mungkin pertandingan akan semakin sering ditentukan lewat skema bola mati serupa.
Kondisi itulah yang memunculkan kekhawatiran bahwa Liga Inggris bisa kehilangan daya tarik permainan terbuka jika terlalu banyak gol lahir dari pola identik di situasi sepak pojok.
Cann pun menilai perlu ada penyesuaian regulasi untuk mencegah praktik tersebut semakin meluas.
Ia mengaku sempat berdiskusi dengan legenda Timnas Inggris, Allan Shearer, terkait solusi yang bisa
diterapkan. Salah satu gagasan yang muncul adalah memberikan kewenangan lebih besar kepada wasit sebelum bola benar-benar ditendang.
“Ide Alan, yang menurut saya memiliki beberapa kelebihan, adalah mengubah Peraturan sehingga begitu wasit meniup peluitnya untuk memulai kembali permainan, wasit kemudian dapat memberikan pelanggaran pada tindakan selanjutnya,” ujar Cann dikutip dari BBC.
“Anda tidak perlu menunggu bola berada dalam permainan untuk memberikan pelanggaran,” jelasnya.
Menurut usulan tersebut, begitu wasit meniup peluit sebagai tanda persiapan eksekusi sepak pojok, segala bentuk dorongan atau pelanggaran di kotak penalti bisa langsung ditindak.
Dengan demikian, potensi kerumunan berlebihan dan kontak fisik yang merugikan kiper dapat diminimalkan.
Tak hanya mengutip ide Shearer, Cann juga melontarkan gagasan pribadi. Ia menyarankan agar penyerang dilarang berada di kotak kecil kiper sebelum bola sepak pojok ditendang.
Aturan ini diyakini dapat mengurai kepadatan di area enam yard yang selama ini menjadi sumber masalah.
“Penyerang harus memulai dari luar area gawang (kotak enam yard) sebelum tendangan sudut diambil. Ini akan menyelesaikan masalah area gawang yang ramai dan penjaga gawang yang dikelilingi, dihalangi, dan dihambat,” jelasnya.
Wacana aturan baru Liga Inggris ini masih sebatas ide dan belum menjadi keputusan resmi.
Namun, perdebatan soal taktik sepak pojok Arsenal menunjukkan bahwa inovasi strategi di lapangan kerap berjalan lebih cepat dibanding pembaruan regulasi.
Jika tren “Corner FC” terus berlanjut, bukan tidak mungkin otoritas kompetisi akan benar-benar mempertimbangkan revisi aturan demi menjaga keseimbangan dan daya tarik Liga Inggris.







