INBERITA.COM, Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan akan melakukan kunjungan ke China pada 20 Mei 2026, hanya berselang beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menuntaskan agenda lawatan resminya di Beijing.
Rencana kunjungan tersebut langsung memicu perhatian internasional karena memperlihatkan posisi strategis China dalam dinamika geopolitik global saat ini.
Informasi mengenai agenda Putin pertama kali dilaporkan awak media South China Morning Post. Dalam laporan itu disebutkan bahwa kunjungan Presiden Rusia ke Beijing diperkirakan berlangsung singkat, yakni hanya satu hari.
Sumber yang mengetahui rencana tersebut menyebut agenda lawatan Putin tidak disiapkan dalam format besar seperti parade kenegaraan maupun penyambutan resmi berskala besar.
Pertemuan itu disebut sebagai bagian dari komunikasi rutin dan hubungan bilateral yang selama ini terus dijaga antara Moskow dan Beijing.
Meski demikian, hingga Jumat, 15 Mei 2026, pemerintah China maupun Rusia belum memberikan konfirmasi resmi terkait tanggal pasti kunjungan tersebut.
Sikap hati-hati kedua negara dinilai menunjukkan sensitivitas tinggi dari agenda diplomatik yang berlangsung di tengah perubahan konstelasi politik dunia.
Dari Moskow, Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov sebelumnya telah mengindikasikan bahwa persiapan perjalanan Vladimir Putin ke China hampir rampung. Ia menyebut proses administrasi dan teknis kunjungan kini hanya tinggal memasuki tahap akhir.
“Kunjungan sedang dipersiapkan dan prosesnya hampir selesai,” ungkap Peskov.
Pernyataan tersebut memperkuat spekulasi bahwa pertemuan langsung antara Putin dan Presiden China Xi Jinping akan segera terlaksana dalam waktu dekat.
Hubungan Rusia dan China sendiri dalam beberapa tahun terakhir terus menjadi perhatian dunia, terutama di tengah rivalitas global yang melibatkan Amerika Serikat.
Ketika ditanya mengenai arah hubungan Rusia dan China setelah kunjungan Donald Trump ke Beijing, Peskov menegaskan komunikasi antara Moskow dan Beijing tetap berjalan erat. Kremlin, kata dia, masih menantikan interaksi lanjutan dengan Xi Jinping.
Di sisi lain, pemerintah China juga memberikan sinyal serupa. Juru bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun mengatakan Beijing dan Moskow masih aktif melakukan komunikasi terkait persiapan pertemuan kedua kepala negara tersebut.
“Rincian lebih lanjut akan diumumkan pada waktu yang tepat,” ujar Guo Jiakun.
Pernyataan itu memperlihatkan bahwa pembicaraan tingkat tinggi antara Putin dan Xi Jinping kemungkinan besar hanya tinggal menunggu pengumuman resmi.
Hubungan personal kedua pemimpin selama ini memang dikenal cukup dekat dalam berbagai forum internasional maupun komunikasi bilateral.
Sebelumnya, Putin dan Xi Jinping terakhir kali melakukan pertemuan melalui sambungan video pada 4 Februari 2026. Pertemuan virtual itu berlangsung di tengah meningkatnya perhatian dunia terhadap keseimbangan kekuatan politik dan ekonomi global.
Rencana kedatangan Putin ke China menjadi semakin menarik karena berlangsung tepat setelah Donald Trump menyelesaikan kunjungan tiga harinya ke negara tersebut pada Jumat, 15 Mei 2026.
Dalam lawatan tersebut, Trump bertemu langsung dengan Xi Jinping untuk membahas sejumlah isu penting yang menjadi perhatian dunia internasional.
Beberapa topik utama yang dibicarakan meliputi perdagangan, Taiwan, konflik Timur Tengah, hingga berbagai isu geopolitik global lainnya.
Kunjungan Trump juga memiliki nilai simbolis yang besar. Agenda tersebut disebut sebagai lawatan pertama Presiden Amerika Serikat ke China dalam sembilan tahun terakhir.
Momentum itu dinilai menandai babak baru hubungan Washington dan Beijing setelah bertahun-tahun mengalami ketegangan di berbagai sektor.
Jika kunjungan Vladimir Putin benar-benar terlaksana sesuai jadwal, maka China akan mencatatkan posisi diplomatik yang sangat penting.
Beijing akan menjadi negara pertama yang menerima kunjungan pemimpin Rusia dan Amerika Serikat dalam bulan yang sama di luar agenda forum multilateral internasional.
Situasi itu menunjukkan bagaimana China kini berada di pusat perhatian diplomasi global. Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing memang aktif menerima kunjungan sejumlah pemimpin negara besar dunia.
Sebelumnya, Presiden Prancis Emmanuel Macron tercatat mengunjungi China pada Desember 2025. Setelah itu, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer juga datang ke Beijing pada Januari 2026.
Apabila Putin benar-benar datang pada Mei 2026, maka China akan menjadi negara pertama yang menjamu seluruh pemimpin dari empat negara anggota tetap Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa selain dirinya sendiri dalam rentang waktu beberapa bulan terakhir.
Adapun anggota tetap Dewan Keamanan PBB terdiri atas Rusia, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan China. Fakta tersebut mempertegas posisi Beijing sebagai salah satu pusat diplomasi paling aktif dan berpengaruh di dunia saat ini.
Di tengah meningkatnya rivalitas geopolitik global, rangkaian kunjungan para pemimpin dunia ke China dinilai bukan sekadar agenda seremonial biasa.
Pertemuan-pertemuan itu menjadi sinyal penting mengenai arah hubungan internasional, keseimbangan kekuatan global, hingga strategi diplomasi yang tengah dibangun masing-masing negara besar.
Kedatangan Trump dan rencana lawatan Putin dalam waktu berdekatan juga dipandang memperlihatkan bagaimana China memainkan peran sentral dalam percaturan politik internasional 2026.
Dunia kini menanti apakah pertemuan Xi Jinping dengan kedua pemimpin negara besar tersebut akan menghasilkan perubahan signifikan terhadap hubungan global, terutama terkait perdagangan, keamanan internasional, dan dinamika kawasan Asia-Pasifik.







