INBERITA.COM, Saham dua emiten papan pemantauan khusus, PT Diamond Citra Propertindo Tbk (DADA) dan PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), kembali mencuri perhatian pasar dengan lonjakan harga yang menembus batas kewajaran teknikal.
Pergerakan liar keduanya, yang berlangsung dalam beberapa pekan terakhir, menjadi perbincangan pelaku pasar seiring dengan status keduanya yang masuk dalam papan full call auction (FCA) di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pada perdagangan Selasa, 23 September 2025, saham DADA melonjak 9,73% hingga menyentuh batas auto reject atas (ARA) di level Rp 124 per saham. Ini menandai kelanjutan reli saham perusahaan properti ini, yang tercatat selalu berada di zona hijau sejak 11 Agustus 2025.
Dalam satu bulan, saham DADA telah meroket sebesar 520%. Lebih mencengangkan lagi, selama tiga bulan terakhir, nilai sahamnya melonjak 1.966,67% atau hampir 2.000%.
Kendati demikian, manajemen DADA menegaskan bahwa pergerakan signifikan ini sepenuhnya merupakan bagian dari mekanisme pasar yang wajar.
Dalam paparan publik tahunan yang digelar pada 4 September 2025, Direktur DADA Bayu Setiawan menegaskan tidak ada informasi material yang wajib diumumkan kepada publik terkait lonjakan saham tersebut.
“Fluktuasi harga saham merupakan hasil dari mekanisme pasar yang dinamis dipengaruhi oleh dinamika permintaan dan penawaran,” ujar Bayu dalam laporan resmi yang dipublikasikan perseroan.
Ia juga mengungkapkan bahwa perusahaan terbuka terhadap masuknya investor baru, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, sebagai bagian dari strategi ekspansi jangka panjang DADA.
“Potensi masuknya investor lokal maupun asing tentunya menjadi langkah positif yang sejalan dengan strategi pengembangan jangka panjang perusahaan. Namun demikian belum ada informasi material yang wajib diumumkan,” katanya.
Lebih jauh, Bayu menuturkan bahwa saat ini perseroan memang tengah menjajaki kerja sama dengan calon investor asing yang memiliki reputasi baik secara internasional.
“Proses pembahasan berjalan konstruktif, namun masih berada pada tahap penjajakan dan belum menghasilkan perjanjian yang bersifat mengikat,” jelasnya.
Sementara itu, emiten lainnya, PT Cakra Buana Resources Energi Tbk (CBRE), juga mencatatkan performa harga saham yang luar biasa dalam beberapa bulan terakhir.
Saham CBRE resmi kembali diperdagangkan pada sesi I, Rabu 24 September 2025, setelah sebelumnya disuspensi oleh BEI sejak 12 September 2025 karena kenaikan harga yang signifikan.
Sebelum suspensi, harga saham CBRE berada di level Rp 620 per saham per 11 September 2025. Dalam kurun waktu satu bulan, saham CBRE sudah melonjak 408%.
Dalam tiga bulan terakhir, kenaikannya menembus 638%. Dan secara year to date (YtD), saham ini mencetak kenaikan menakjubkan lebih dari 3.000% dari posisi Rp 19 di awal tahun.
Kendati mengalami lonjakan tajam, manajemen CBRE menyampaikan adanya perubahan dalam rencana aksi korporasi mereka.
Pada 19 Agustus 2025, perseroan sempat mengumumkan rencana penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue, dengan target penerbitan sebanyak-banyaknya 48 miliar saham baru.
Rencana ini awalnya dijadwalkan untuk dimintai persetujuannya dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada 25 September 2025.
Namun dalam pemanggilan resmi RUPSLB, mata acara rights issue tidak lagi tercantum. Direktur sekaligus Sekretaris Perusahaan CBRE, Amanda Octania, menyatakan bahwa agenda tersebut resmi ditunda.
“Agenda persetujuan rights issue dihapus dari mata acara RUPSLB tanggal 25 September 2025. Pasalnya, perseroan menunda pelaksanaan rights issue dan akan memberitahukan kembali kepada pemegang saham apabila waktu pelaksanaan telah ditetapkan perseroan di kemudian hari,” ujar Amanda.
Meskipun rights issue ditunda, CBRE tetap menggelar RUPSLB dengan dua agenda utama. Pertama, persetujuan rencana transaksi material dengan nilai lebih dari 50% dari ekuitas perusahaan. Kedua, persetujuan atas rencana penambahan kegiatan usaha.
Yang paling mencolok adalah rencana pembelian kapal pipe-laying & lifting vessel bernama Hai Long 106.
CBRE berencana mengakuisisi kapal tersebut dengan nilai transaksi sebesar US$ 100 juta atau setara Rp 1,61 triliun.
Langkah ini mengindikasikan arah strategis baru bagi perusahaan yang selama ini dikenal di sektor energi, sekaligus menunjukkan ambisi ekspansi ke lini bisnis yang lebih kompleks dan bernilai tambah tinggi.
Lonjakan harga saham DADA dan CBRE yang terjadi dalam waktu berdekatan menunjukkan bagaimana euforia pasar bisa terjadi, bahkan terhadap saham-saham yang berada di bawah pengawasan ketat BEI melalui papan pemantauan khusus.
Investor tetap diimbau untuk mencermati fundamental emiten dan perkembangan aksi korporasi ke depan, mengingat pergerakan saham yang sangat fluktuatif sering kali tidak mencerminkan kondisi bisnis riil dalam jangka pendek. (xpr)