INBERITA.COM, Aksi demonstrasi yang digelar oleh Roy Suryo bersama sejumlah kelompok di depan Gedung DPR RI menuai beragam respons. Aksi yang mengusung tuntutan agar Presiden ke-7 RI Joko Widodo diadili itu bahkan dinilai sebagai upaya mencari perhatian publik.
Penilaian tersebut disampaikan oleh Ketua Umum Jokowi Mania, Andi Azwan, yang menilai langkah Roy Suryo dan kelompoknya lebih didorong rasa putus asa dalam menghadapi polemik ijazah Jokowi yang sebelumnya ramai diperbincangkan.
Menurut Andi Azwan, aksi demonstrasi tersebut tidak lebih dari upaya membangun sorotan publik setelah berbagai pernyataan yang disampaikan sebelumnya tidak mendapat respons luas.
“Desperate, putus asa untuk itu. Menurut saya, bosan lah dia (Roy Suryo) di Polda teriak-teriak enggak didengar, dicuekin gitu. Tukang nasi uduk aja ngelihatnya ngeleos kok,” kata Andi Azwan, Jumat (17/4/2026).
Ia juga menilai pemilihan lokasi aksi di depan Gedung DPR RI sebagai strategi untuk menarik perhatian, meski menurutnya tidak mendapatkan respons dari kalangan legislatif.
“Sekarang dia mencari perhatian publik, mengadakan (demo) di depan DPR. Apakah diterima oleh anggota dewan? Kan enggak,” sambungnya.
Selain itu, Andi Azwan turut menyoroti jumlah massa yang hadir dalam aksi tersebut. Ia mengklaim jumlah peserta tidak sebanyak yang terlihat, bahkan sebagian besar justru merupakan aparat keamanan yang berjaga.
“Mungkin ya, kalau saya lihat tuh hampir 3.000 orang yang hadir, 3.000 orang yang hadir itu, 2.500 tidak kelihatan orangnya,” ujarnya.
“Yang ada cuma 500, dan 500 juga petugas-petugas kepolisian,” imbuhnya.
Ia kembali menegaskan bahwa aksi yang dilakukan Roy Suryo dan kelompoknya lebih condong sebagai upaya mencari sorotan media agar tetap menjadi perbincangan publik.
“Menurut saya, apa yang dilakukan itu adalah mencari sensasi di DPR, biar tetap menjadi spotlight dari media yang lain,” tuturnya.
Sebelumnya, Roy Suryo bersama sejumlah elemen massa, termasuk kelompok Gerakan Aksi Ummat Melawan Ketidakadilan dan UI Watch, menggelar aksi bertajuk “1 Tahun membongkar ijazah palsu Jokowi”.
Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan sejumlah tuntutan, termasuk mendesak proses hukum terhadap Jokowi.
Tak hanya itu, tuntutan juga diarahkan kepada Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Sejumlah atribut aksi seperti spanduk dan poster besar bertuliskan “TANGKAP dan ADILI JOKOWI!” serta “MAKZULKAN GIBRAN” dibentangkan di lokasi.
Melalui baliho yang dipasang di mobil komando, massa menyampaikan berbagai poin keberatan, mulai dari isu kerusakan sumber daya alam, regulasi yang dinilai berpihak pada kekuasaan, hingga tudingan pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan persoalan pendidikan nasional.
Di tengah polemik tersebut, dinamika baru juga muncul dari pernyataan Rismon Sianipar, yang sebelumnya sempat menjadi salah satu pihak yang meragukan keaslian ijazah Jokowi.
Kini, Rismon justru berbalik arah dan menyatakan keyakinannya bahwa ijazah tersebut asli.
Ia bahkan telah menyampaikan permintaan maaf secara langsung kepada Jokowi dan keluarganya setelah melakukan klarifikasi.
“Sejak bertemu dengan keluarga Pak Jokowi dan Mas Gibran ya sudah tidur nyenyak ya. Yang gak tidur nyenyak kan yang di sana,” kata dia sambil tertawa.
Rismon juga menegaskan bahwa proses perdamaian yang terjadi tidak berkaitan dengan imbalan uang, sekaligus menepis berbagai spekulasi yang beredar di publik.
“Jadi semua ini jangan digiring bahwa ada faktor duit atau apapun. Kalau ada yang berpikir seperti itu, berarti dialah yang menginginkan duit itu. Mereka sajalah yang memikirkan duit itu,” kata dia.
Ia bahkan menyatakan secara logika, pihak yang meminta maaf seharusnya memberikan ganti rugi, bukan sebaliknya.
“Orang meminta maaf seharusnya yang membayar ganti rugi itu pihak yang meminta maaf, logikanya jangan jongkok. Kita selesaikan isu liar itu,” tandas Rismon.
Lebih jauh, Rismon juga menyatakan kesiapannya membantu aparat penegak hukum dalam mengungkap berbagai pihak yang terlibat dalam polemik tersebut.
“Saya akan membantu pihak kejaksaan untuk menelanjangi siapa sebenarnya Roy Suryo itu, sebenarnya tanpa saya pun gampang,” kata dia.
Ia juga mengkritik isi buku yang dikaitkan dengan Roy Suryo, dengan menyebut bahwa sebagian besar klaim di dalamnya tidak memiliki dasar ilmiah.
“Klaim bohong 99,99 persen palsu itu kan kebohongan yang terus diulang-ulang sehingga publik percaya kalau Roy Rusyo peneliti,” kata dia.
Tak berhenti di situ, Rismon bahkan secara terbuka menantang Roy Suryo untuk melakukan debat langsung tanpa melibatkan pihak lain.
“Roy Suryo saya tantang, gak usah bawa cheers leader-nya, dua orang aja. Di sebuah podcast atau tv, biar jangan ngelantur,” pungkasnya.