Resmi! Superbank Siap Melantai di BEI, IPO Dijadwalkan 17 Desember 2025

Superbank IPO 17 DesemberSuperbank IPO 17 Desember
Superbank Targetkan IPO Besar dengan Pendanaan Hingga Rp 3 Triliun pada Desember 2025

INBERITA.COM, PT Super Bank Indonesia, atau Superbank, akan segera melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) melalui pencatatan saham perdana (IPO) yang dijadwalkan pada 17 Desember 2025 mendatang.

Bank digital yang berada di bawah naungan PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK) ini sebelumnya dikenal dengan nama PT Bank Fama International dan memiliki sejarah panjang di sektor perbankan Indonesia. Namun, sejak 2021, Superbank telah memulai transformasi besar-besaran menjadi bank digital.

Superbank, yang pada awalnya beroperasi sebagai bank konvensional sejak 1993 di Bandung, melakukan perubahan signifikan setelah Emtek Group menjadi pemegang saham pengendali pada akhir 2021.

Langkah ini semakin diperkuat dengan masuknya Grab, Singtel, dan KakaoBank pada tahun 2022 dan 2023, membentuk konsorsium strategis yang mendukung Superbank dalam peralihan menuju bank digital.

Pada awal 2023, Bank Fama resmi berganti nama menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusatnya ke Jakarta, dengan cabang-cabang yang kini tersedia di Jakarta dan Bandung.

Dengan memanfaatkan teknologi terbaru dan transformasi digital, Superbank kini menawarkan berbagai produk layanan keuangan berbasis aplikasi, seperti Saku by Superbank, Celengan by Superbank, dan deposito dengan bunga yang kompetitif.

Ekspansi digital ini menunjukkan kesiapan Superbank untuk bersaing di pasar perbankan digital yang berkembang pesat di Indonesia.

Melalui proses IPO, Superbank berencana untuk melepas sekitar 4,40 juta saham baru atau setara dengan 13% dari total modal yang disetor penuh setelah IPO.

Harga penawaran saham berkisar antara Rp 525 hingga Rp 695 per saham, yang memungkinkan Superbank meraup dana segar hingga Rp 3,06 triliun dari publik. Setiap saham yang ditawarkan memiliki nilai nominal sebesar Rp 100.

Proses IPO ini akan didampingi oleh empat sekuritas yang bertindak sebagai penjamin emisi, yaitu PT Mandiri Sekuritas, PT CLSA Sekuritas Indonesia, PT Trimegah Sekuritas Indonesia Tbk, dan PT Sucor Sekuritas.

Pada masa sebelum IPO, modal disetor Superbank tercatat sebanyak 29,49 miliar saham, yang akan meningkat menjadi 33,89 miliar saham setelah pencatatan saham perdana.

Setelah IPO, komposisi pemegang saham Superbank tetap didominasi oleh PT Elang Media Visitama (EMV), yang memegang 27,07% saham.

Diikuti oleh PT Kudo Teknologi Indonesia (KTI) dengan porsi 16,67%, GXS Bank Pte., Lte. (10,44%), A5DB Holdings (10,03%), dan KakaoBank Corp (8,66%).

Sebagai bagian dari proses IPO, sekitar 13% saham atau 4,40 miliar saham akan diperuntukkan bagi masyarakat umum.

Setelah IPO, Superbank berkomitmen untuk membagikan dividen kepada pemegang saham apabila perusahaan mencatatkan saldo laba positif.

Porsi dividen yang akan dibagikan mencapai maksimal 85% dari laba bersih yang dihasilkan tahun berjalan.

Namun, keputusan pembagian dividen akan didasarkan pada sejumlah indikator fundamental dan strategi bisnis yang berfokus pada pertumbuhan jangka panjang perusahaan.

Manajemen Superbank menjelaskan bahwa faktor-faktor yang akan memengaruhi pembagian dividen meliputi kinerja keuangan, rasio KPMM, kesehatan bank, kebutuhan permodalan untuk ekspansi, serta kondisi ekonomi dan pasar.

Superbank percaya bahwa potensi pasar sektor keuangan digital Indonesia sangat besar, khususnya dalam hal perluasan pasar dan adopsi layanan perbankan digital.

Dalam prospektusnya, perusahaan menekankan pentingnya penggunaan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) dan big data untuk mendorong inovasi dan memperluas jangkauan produk dan layanan ke nasabah.

Dengan fokus pada efisiensi operasional, Superbank bertujuan mengelola biaya lebih efisien melalui penerapan teknologi yang mendorong skalabilitas dan efisiensi dalam seluruh proses bisnis.

Salah satu strategi utama Superbank adalah mengembangkan portofolio pinjaman secara strategis, mendorong pendanaan, serta meningkatkan loyalitas nasabah melalui keterlibatan dalam ekosistem keuangan yang lebih luas.

Dengan pendekatan berbasis teknologi dan inovasi, Superbank berkomitmen untuk menghadirkan solusi keuangan yang relevan dan mudah diakses oleh nasabah.

Superbank mencatatkan kinerja keuangan yang solid hingga kuartal ketiga 2025. Laba sebelum pajak (PBT) tercatat sebesar Rp 80,9 miliar, dengan pendapatan bunga bersih tumbuh 176% YoY menjadi Rp 1,1 triliun.

Kinerja yang signifikan ini didorong oleh strategi “digital-first” yang berhasil menarik lebih dari 5 juta nasabah sejak peluncuran aplikasi digital pada Juni 2024.

Pertumbuhan ini juga tercermin dalam data keuangan lainnya, seperti pertumbuhan kredit yang mencapai 84% YoY menjadi Rp 9,04 triliun dan dana pihak ketiga (DPK) yang melonjak 203% YoY menjadi Rp 9,8 triliun.

Kinerja efisiensi juga terlihat dengan turunnya Cost to Income Ratio (CIR) yang signifikan, dari 149,65% menjadi 70,14%, dan meningkatnya Net Interest Margin (NIM) menjadi 10,64%.

Dengan kinerja yang solid dan ekosistem digital yang semakin berkembang, Superbank siap melangkah ke pasar modal Indonesia.

Berbagai keunggulan teknologinya, sinergi dengan Grab, OVO, dan Emtek, serta strategi digital-first yang telah terbukti efektif, membuat Superbank optimis dalam mencapai kesuksesan di pasar saham.

Dengan rencana IPO yang sudah jelas, dan memperhatikan kondisi pasar yang semakin stabil, Superbank berpotensi menjadi salah satu IPO terbesar di sektor finansial Indonesia pada 2025, dengan peluang besar untuk memperluas inklusi keuangan di tanah air. (xpr)