INBERITA.COM, Permintaan sewa pabrik dan gudang di Indonesia mengalami lonjakan tajam sepanjang tahun ini, dengan 90% permintaan datang dari perusahaan-perusahaan asal China.
Data ini menunjukkan tren peningkatan signifikan dalam sektor industri dan pergudangan di Indonesia, seiring dengan semakin berkembangnya dinamika global dan ekspansi investor China ke pasar Asia Tenggara.
Menurut Head of Industrial Services Leads Property, Esti Susanti, permintaan sewa pabrik dan gudang sebagian besar berasal dari sektor-sektor elektronik, komponen otomotif, termasuk kendaraan listrik, dan fashion premium.
Esti mencatat, meski pasar Indonesia merupakan pasar konsumsi yang besar, faktor lain yang turut memicu lonjakan ini adalah tekanan ekspor China akibat perang dagang dengan AS dan negara-negara maju lainnya.
“Permintaan ini terus meningkat, hingga akhir tahun ini, sekitar 90% permintaan sewa pabrik dan gudang datang dari perusahaan China. Sisanya, 10%, berasal dari Eropa,” ujar Esti dalam wawancara dengan Bisnis Indonesia, Senin (24/11/2025).
Sebagian besar investor China lebih memilih untuk menyewa bangunan siap pakai daripada membeli tanah atau pabrik bekas. Pilihan ini memungkinkan mereka untuk memulai produksi lebih cepat tanpa harus menunggu proses pembangunan.
Kebutuhan mendesak ini juga mendorong permintaan terhadap gudang berukuran fleksibel, mulai dari 2.000 meter hingga lebih dari 10.000 meter persegi.
Sejak awal tahun, Leads Property mencatat permintaan sewa gudang dan pabrik di wilayah Jawa mencapai 310.000 meter persegi.
Sementara itu, pasokan gudang dan pabrik sewa di Jakarta dan sekitarnya hingga akhir tahun diperkirakan mencapai lebih dari 2,5 juta meter persegi. Tingkat hunian pasokan gudang dan pabrik sewa di kawasan ini cukup tinggi, berkisar antara 90% hingga 92%.
“Permintaan ini menunjukkan bahwa sektor pergudangan dan pabrik sewa di Indonesia sangat menarik bagi investor asing, terutama dari China yang melihat potensi besar di pasar Indonesia dan Asia Tenggara,” tambah Esti.
Esti juga menjelaskan bahwa meskipun Indonesia diuntungkan dengan tingginya permintaan, ada potensi risiko jangka panjang akibat ketidakpastian geopolitik dan kecenderungan investor China yang dapat berpindah lokasi secara cepat.
Perusahaan-perusahaan China, dengan teknologi canggih dan biaya investasi yang lebih rendah dibandingkan pabrik tradisional, memiliki kemampuan untuk memindahkan pabrik hanya dengan kontrak sewa lima tahun.
Mereka bisa memanfaatkan lahan yang lebih kecil dengan tingkat efisiensi tinggi, yang memungkinkan mereka untuk berpindah ke lokasi yang lebih murah jika dibutuhkan.
“Karakteristik investor China ini menuntut pengembang kawasan industri untuk mengantisipasi potensi investasi yang tidak menetap dalam jangka panjang,” ujar Esti.
Sektor industri dan logistik Indonesia melihat potensi pertumbuhan yang besar. Pengembang kawasan industri di Indonesia kini aktif melakukan promosi langsung ke China dan menjalin hubungan dengan sektor-sektor yang belum memiliki basis produksi di Indonesia.
Melalui upaya ini, mereka mencoba menarik perusahaan-perusahaan China yang membutuhkan lokasi produksi strategis di Asia Tenggara.
Menurut Managing Director Asia Tenggara JLL, Michael Glancy, sektor logistik dan industri tetap menjadi area dengan potensi pertumbuhan besar.
Pasokan gudang logistik modern di wilayah Jabodetabek telah meningkat tiga kali lipat dalam sepuluh tahun terakhir, dengan tingkat hunian mencapai 94%, jauh lebih tinggi dibandingkan kawasan Asia Pasifik lainnya yang hanya mencapai 86%.
“Permintaan gudang logistik dan pabrik sewa di Indonesia, terutama dari perusahaan China, adalah tren signifikan yang tidak hanya berlaku untuk Indonesia, tetapi juga untuk seluruh kawasan Asia Tenggara,” ujar Glancy.
Glancy juga mencatat bahwa semakin banyak produsen dari China yang mendiversifikasi rantai pasokan mereka dan melihat sektor industri Indonesia sebagai tujuan utama dalam jaringan manufaktur dan distribusi yang berkembang.
Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai tujuan utama bagi investor China yang mencari lokasi strategis untuk produksi dan distribusi.
Meski ada tantangan dan potensi risiko jangka panjang terkait karakteristik investor asing, terutama dari China, lonjakan permintaan sewa pabrik dan gudang ini membawa peluang besar bagi pengembang kawasan industri dan logistik Indonesia.
Negara dengan populasi besar dan pasar domestik yang berkembang pesat menjadi pilihan menarik bagi perusahaan asing yang ingin memperluas jaringan produksi dan distribusi mereka di Asia Tenggara.
Indonesia, dengan infrastruktur yang terus berkembang dan stabilitas pasar yang relatif lebih baik, diharapkan dapat terus menjadi lokasi strategis dalam ekosistem manufaktur global. (xpr)