INBERITA.COM, Peta politik menuju Pemilu 2029 mulai memunculkan dinamika baru. Salah satu yang menjadi perhatian adalah perubahan persepsi publik terhadap Presiden ke-7 RI Joko Widodo atau Jokowi.
Jika dalam dua pemilu sebelumnya nama Jokowi dianggap mampu menjadi faktor penentu kemenangan politik, kini sejumlah pengamat melihat pengaruh tersebut mulai mengalami penurunan.
Perubahan itu menjadi sorotan setelah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) secara terbuka menunjukkan kedekatan politik dengan Jokowi. Partai tersebut bahkan disebut siap menjadikan Jokowi sebagai patron politik utama untuk menghadapi kontestasi nasional mendatang.
Namun, langkah tersebut dinilai tidak sepenuhnya menjamin keuntungan elektoral. Pengamat Komunikasi Politik Universitas Esa Unggul, Jamiluddin Ritonga, menilai situasi politik saat ini berbeda dibanding beberapa tahun lalu ketika Jokowi masih berada di puncak popularitas.
Menurut Jamiluddin, daya tarik politik Jokowi tidak lagi sekuat sebelumnya. Ia melihat munculnya perubahan persepsi publik yang membuat dukungan dari mantan presiden itu belum tentu efektif mendongkrak suara partai maupun figur yang didukungnya.
“Jokowi bukan lagi sosok yang mampu menghipnotis anak bangsa untuk berpihak kepadanya,” ujar Jamiluddin dalam keterangannya, Minggu (17/5/2026).
Pernyataan itu memperlihatkan adanya pergeseran cara publik memandang Jokowi setelah lebih dari satu dekade menjadi figur sentral dalam politik nasional.
Pada periode awal pemerintahannya, Jokowi dikenal sebagai simbol kesederhanaan dan pemimpin dekat rakyat. Citra tersebut berhasil membangun loyalitas politik yang kuat di berbagai daerah.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah polemik ikut memengaruhi persepsi masyarakat. Jamiluddin menilai Jokowi kini menjadi sosok yang semakin kontroversial di ruang publik.
“Jokowi saat ini adalah sosok kontroversial, termasuk terkait ijazahnya,” kata dia.
Isu tersebut memang sempat menjadi perdebatan publik dan ramai dibahas di media sosial maupun forum politik nasional. Walau persoalan itu beberapa kali dijawab oleh pihak terkait, diskursus yang terus berulang dinilai ikut memengaruhi citra politik mantan kepala negara tersebut.
Di sisi lain, PSI tampak tetap optimistis terhadap pengaruh Jokowi. Partai yang selama ini dikenal dekat dengan keluarga Jokowi itu meyakini mantan wali kota Solo tersebut masih memiliki basis pendukung yang besar di akar rumput.
Ketua DPP PSI Bestari Barus mengatakan Jokowi akan aktif mendampingi partainya menghadapi agenda politik ke depan. Menurutnya, kehadiran Jokowi di PSI akan menjadi energi baru untuk memperkuat posisi partai menjelang Pemilu 2029.
“Dan semakin menjadi keyakinan publik bahwa Pak Jokowi sudah tidak di mana-mana, dan berada dengan PSI mulai bersama dengan PSI untuk pemenangan Pemilu 2029 tentunya,” ujar Bestari kepada awak media.
Pernyataan tersebut mempertegas sinyal kedekatan politik antara PSI dan Jokowi. Selama beberapa tahun terakhir, hubungan keduanya memang terlihat semakin erat. PSI kerap menjadi partai yang paling vokal membela kebijakan Jokowi, bahkan ketika pemerintah menghadapi kritik tajam dari publik.
Meski demikian, sejumlah analis melihat strategi itu mengandung risiko politik. Ketergantungan berlebihan terhadap figur tertentu bisa membuat partai kehilangan identitas politik yang mandiri.
Dalam konteks PSI, penggunaan nama besar Jokowi memang berpotensi meningkatkan perhatian publik, tetapi belum tentu otomatis mengubahnya menjadi dukungan elektoral.
Fenomena politik Indonesia menunjukkan bahwa efek figur tidak selalu bertahan lama. Setelah seorang pemimpin tidak lagi menjabat, pengaruh politik biasanya akan mengalami penurunan secara bertahap.
Hal ini pernah terjadi pada sejumlah mantan presiden sebelumnya yang perlahan kehilangan dominasi setelah lengser dari kekuasaan.
Dalam kasus Jokowi, tantangannya menjadi lebih kompleks karena terjadi di tengah perubahan perilaku pemilih. Generasi muda yang akan mendominasi Pemilu 2029 cenderung lebih cair dalam menentukan pilihan politik.
Mereka tidak selalu loyal pada tokoh tertentu dan lebih kritis terhadap isu-isu yang berkembang di media digital.
Kondisi itu membuat efek dukungan tokoh besar tidak lagi sepenuhnya menentukan. Popularitas tetap penting, tetapi publik kini lebih memperhatikan konsistensi, rekam jejak, serta relevansi gagasan yang ditawarkan partai politik.
Jamiluddin menilai PSI perlu membaca situasi tersebut secara realistis. Menurut dia, dukungan Jokowi justru bisa memunculkan resistensi di sebagian kelompok masyarakat yang memiliki pandangan kritis terhadap pemerintahan sebelumnya.
Dalam politik elektoral, resistensi seperti itu tidak bisa dianggap sepele. Polarisasi politik yang terbentuk sejak beberapa pemilu terakhir masih meninggalkan jejak di masyarakat.
Figur yang terlalu kuat diasosiasikan dengan satu kubu berpotensi menghadapi tantangan ketika mencoba memperluas dukungan ke kelompok lain.
Selain itu, PSI sendiri masih menghadapi pekerjaan rumah besar untuk memperkuat basis pemilihnya. Pada Pemilu sebelumnya, partai tersebut gagal menembus parlemen nasional meski memiliki eksposur media yang cukup tinggi.
Karena itu, mengandalkan faktor Jokowi semata dinilai belum cukup untuk menjamin keberhasilan pada 2029.
Pengamat politik melihat keberhasilan partai ke depan akan lebih ditentukan oleh kemampuan membaca isu publik, membangun jaringan akar rumput, serta menghadirkan kader dengan kapasitas kuat. Figur besar memang dapat membantu membuka jalan, tetapi tidak otomatis menjadi solusi utama.
Di tengah situasi tersebut, nama Jokowi tetap memiliki nilai politik yang signifikan. Basis pendukung loyal masih ada, terutama di kalangan masyarakat yang merasa puas dengan pembangunan infrastruktur dan program sosial selama masa pemerintahannya.
Namun, pengaruh itu kini dianggap tidak lagi dominan seperti ketika ia masih menjabat presiden aktif.
Perubahan lanskap politik nasional juga menjadi faktor penting. Munculnya figur-figur baru dengan basis dukungan digital yang kuat membuat persaingan menuju 2029 diperkirakan jauh lebih terbuka.
Pemilih muda semakin sulit diprediksi dan cenderung cepat berubah mengikuti isu terkini.
Situasi ini membuat semua partai politik harus bekerja lebih keras membangun narasi baru. Mengandalkan nostalgia politik masa lalu dinilai tidak akan cukup untuk memenangkan hati pemilih dalam jangka panjang.
Di sisi lain, Jokowi tampaknya masih akan memainkan peran penting dalam percaturan politik nasional meski tidak lagi berada di kursi kekuasaan. Dukungan dan kedekatannya dengan partai tertentu tetap akan menjadi perhatian publik karena pengaruh simboliknya masih cukup besar.
Namun, apakah pengaruh itu mampu menjadi faktor penentu kemenangan pada Pemilu 2029, masih menjadi tanda tanya besar. Sejumlah pengamat menilai era dominasi satu figur mulai bergeser menuju persaingan yang lebih cair dan dinamis.
Karena itu, partai politik yang ingin bertahan dan berkembang tidak cukup hanya mengandalkan nama besar tokoh nasional.
Mereka dituntut mampu menghadirkan agenda politik yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, terutama generasi muda yang semakin kritis terhadap praktik politik lama.
Perdebatan mengenai pengaruh Jokowi pun diperkirakan akan terus menjadi isu menarik menjelang tahun politik mendatang. Di satu sisi, ia tetap dianggap sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah politik modern Indonesia.
Namun di sisi lain, perubahan persepsi publik menunjukkan bahwa kekuatan politik tidak pernah bersifat permanen.
Dalam demokrasi yang terus bergerak, dukungan masyarakat bisa berubah seiring waktu. Figur yang dulu dianggap tak tergoyahkan pun pada akhirnya tetap harus menghadapi realitas politik yang dinamis dan penuh kejutan.