INBERITA.COM, Pengamat politik, Profesor Ikrar Nusa Bakti, kembali mengemukakan kritik keras terhadap kinerja Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia.
Menurut Ikrar, kinerja Bahlil dalam mengatasi pemulihan listrik di wilayah terdampak bencana, khususnya di Provinsi Aceh, sangat mengecewakan. Bahkan, Ikrar mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengganti Bahlil sebagai Menteri ESDM.
Dalam sebuah pernyataan yang disampaikan di dalam siniar “Abraham Samad Speak Up”, Ikrar menyebutkan bahwa klaim Bahlil tentang pemulihan listrik di Sumatra, khususnya Aceh, jauh dari kenyataan.
Menteri Bahlil sempat melaporkan kepada Presiden Prabowo pada Desember 2025 bahwa lebih dari 90 persen wilayah yang terdampak bencana di Sumatra sudah mendapatkan pasokan listrik. Namun, kenyataannya, masih banyak daerah yang gelap gulita dan belum bisa mengakses listrik hingga saat itu.
“Bahlil berbicara dengan sangat percaya diri, mengatakan 93 persen wilayah sudah menyala, namun pada kenyataannya, banyak daerah yang tetap padam. Bahkan, sebagian besar wilayah Aceh yang terdampak bencana masih dalam keadaan gelap,” jelas Ikrar dengan nada kecewa.
Ia juga mengkritik cara Bahlil menyampaikan solusi dengan mengandalkan genset berbahan bakar minyak yang justru menambah masalah, karena banyak warga Aceh kesulitan membeli bahan bakar tersebut.
Bahlil sempat melaporkan pada 7-8 Desember 2025 bahwa listrik di Aceh sudah menyala hingga 93 hingga 97 persen. Namun, klaim tersebut ditanggapi dengan keras oleh warga setempat yang mengungkapkan kenyataan berbeda.
Pada malam 8 Desember 2025, banyak wilayah di Aceh, seperti Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Jaya, Bireuen, dan Gayo Lues, masih mengalami pemadaman listrik total. Masyarakat yang terkena dampak bencana membantah klaim yang disampaikan Bahlil di depan Presiden Prabowo tersebut.
Hilmi Irsyadi, seorang warga Gampong Pango Deah, Banda Aceh, melaporkan bahwa listrik di desanya telah padam sejak Minggu pagi hingga Senin malam, sementara di Bireuen, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika M Zubair MH juga menyatakan bahwa seluruh wilayah Bireuen gelap gulita pada malam yang sama.
Seorang sukarelawan asal Banda Aceh, Syarifah Aini, yang berada di Gayo Lues, juga mengungkapkan bahwa wilayah tersebut masih tanpa listrik, dan ia terpaksa pergi ke masjid setempat untuk mencari sinyal dan mandi, karena genset hanya dioperasikan pada waktu-waktu shalat.
“Ini bertolak belakang dengan klaim Bahlil yang mengatakan bahwa semua daerah sudah kembali menyala. Kenyataannya, banyak yang masih gelap,” ujar Aini dengan kesal.
Menanggapi hal ini, Ikrar Nusa Bakti menilai bahwa Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, gagal dalam menangani permasalahan pemulihan listrik di wilayah bencana. Ia pun menganggap bahwa sudah saatnya Presiden Prabowo mengganti Bahlil dengan sosok yang lebih kompeten.
“Kenapa tidak diganti saja? Cari orang yang lebih pandai dan mampu mengatasi permasalahan yang ada,” ujar Ikrar tegas.
Menurutnya, seorang menteri harus bertanggung jawab atas kebijakan yang disampaikan, terutama ketika berkaitan dengan pemulihan pasokan listrik pascabencana yang sangat penting bagi kehidupan masyarakat.
Ikrar menilai bahwa Bahlil telah gagal memberikan solusi yang efektif, dan klaimnya yang tidak sesuai dengan fakta di lapangan justru menciptakan kebingungannya di masyarakat.
Tidak hanya masyarakat, protes keras juga datang dari Pemerintah Aceh. Juru Bicara Pemerintah Aceh, Muhammad MTA, turut menanggapi klaim Bahlil yang disampaikan kepada Presiden Prabowo.
Menurutnya, klaim yang disampaikan tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di lapangan, dan hal ini bisa berdampak buruk pada psikologi masyarakat yang sudah mengalami kesulitan akibat bencana alam.
Muhammad MTA berharap agar pihak-pihak terkait lebih hati-hati dalam menyampaikan informasi, terutama ketika berhubungan dengan bencana yang berdampak besar terhadap masyarakat.
“Harapannya, semua pihak lebih berhati-hati dalam memberikan informasi. Terutama di tengah kondisi seperti ini yang sangat mempengaruhi psikologi masyarakat dan pemerintah,” ujar Muhammad MTA.
Sejumlah laporan yang diterima dari warga Aceh, seperti yang disampaikan oleh dosen Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Aceh, Ichsan MSn, menunjukkan bahwa banyak wilayah yang masih dalam kondisi gelap.
“Listrik mati sejak magrib, nyala sebentar, tapi tidak sampai lima jam sudah mati lagi. Sudah dua hari mati,” ujar Ichsan, yang tinggal di Meunasah Krueng, Kecamatan Ingin Jaya, Aceh Besar.
Menurut Sukma, seorang dosen di Banda Aceh, kenyataan ini sangat menyedihkan.
“Sudah dirundung bencana, tetapi masih saja ditipu dengan klaim palsu. Ini membuat masyarakat semakin terpuruk,” ujarnya.
Dengan banyaknya ketidaksesuaian antara klaim dan kenyataan, warga Aceh dan berbagai pihak mendesak agar pemerintah lebih transparan dalam memberikan laporan, khususnya terkait penanganan bencana.
Mereka juga meminta agar Bahlil Lahadalia memberikan pertanggungjawaban atas klaim yang telah menyesatkan masyarakat dan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Ikrar Nusa Bakti pun menegaskan bahwa negara harus lebih serius menangani persoalan bencana dan pemulihan pasokan listrik, terutama di daerah yang paling terdampak.
“Jangan sampai masyarakat yang sudah menghadapi bencana justru menjadi korban kedua akibat kegagalan komunikasi dan manajemen yang buruk,” kata Ikrar menutup pernyataannya.
Kesimpulan Klaim Menteri Bahlil Lahadalia yang menyebutkan bahwa 97 persen listrik di Aceh telah menyala setelah bencana pada Desember 2025 terbukti tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.
Sejumlah warga dan pejabat daerah mengungkapkan bahwa banyak wilayah di Aceh yang masih gelap gulita. Pengamat politik Ikrar Nusa Bakti pun mendesak Presiden Prabowo Subianto untuk segera mengganti Bahlil karena dianggap gagal menjalankan tugasnya dengan baik. (**)