INBERITA.COM, Pada Sabtu, 3 Januari 2025, operasi militer Amerika Serikat (AS) berhasil menangkap Presiden Venezuela Nicolás Maduro dalam aksi yang dipimpin oleh pasukan militer AS.
Penangkapan ini segera memicu reaksi keras dari berbagai negara di dunia, dengan beberapa mendukung tindakan tersebut, sementara yang lainnya mengutuknya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional.
Tindakan militer AS ini mengundang banyak perhatian internasional karena melibatkan penggunaan kekerasan terhadap kepala negara Venezuela, serta memicu ketegangan di kawasan Amerika Latin. Berikut adalah berbagai reaksi yang muncul setelah peristiwa ini.
Tanggapan China: Kecaman Keras terhadap Tindakan AS
China menjadi salah satu negara pertama yang mengutuk keras tindakan AS tersebut. Pemerintah China menyatakan bahwa penangkapan Presiden Maduro dengan cara militer merupakan bentuk agresi terhadap negara berdaulat yang melanggar prinsip-prinsip hukum internasional.
“China sangat terkejut dan mengutuk keras penggunaan kekerasan oleh AS terhadap negara berdaulat dan penggunaan kekerasan terhadap presiden suatu negara,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri China pada Minggu, 4 Januari 2026.
China menegaskan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan Piagam PBB yang mengatur hubungan antar negara yang harus dilandasi oleh prinsip-prinsip dasar hukum internasional.
“Tindakan AS jelas melanggar hukum internasional, norma-norma dasar dalam hubungan internasional, tujuan dan prinsip-prinsip Piagam PBB,” tambah Kementerian Luar Negeri China .
Reaksi dari Presiden Prancis: Transisi Damai untuk Venezuela
Presiden Prancis Emmanuel Macron juga memberikan tanggapan yang cukup tegas. Macron menekankan bahwa proses transisi politik di Venezuela harus dilaksanakan secara damai, demokratis, dan mengedepankan kehendak rakyat Venezuela.
“Transisi yang akan datang harus damai, demokratis, dan menghormati kehendak rakyat Venezuela. Kami berharap Presiden Edmundo Gonzalez Urrutia, yang terpilih pada tahun 2024, dapat memastikan transisi ini secepat mungkin,” tulis Macron melalui media sosial X (dulu Twitter).
Macron mengingatkan bahwa situasi ini harus dijaga dengan penuh hati-hati agar tidak menambah ketidakstabilan di kawasan tersebut.
Kanselir Jerman Friedrich Merz: Prinsip Hukum Internasional Harus Ditegakkan
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan bahwa operasi militer yang dilaksanakan oleh AS cukup kompleks dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
Meski demikian, Merz menekankan bahwa prinsip-prinsip hukum internasional harus dihormati dan diterapkan dalam proses transisi politik di Venezuela.
“Kami akan meluangkan waktu untuk mengevaluasinya,” ujar Merz dalam pernyataannya, menambahkan bahwa prinsip-prinsip hukum internasional harus diterapkan dalam situasi ini.
Merz juga menegaskan pentingnya memastikan transisi yang sah melalui pemilihan yang dilaksanakan secara demokratis, yang akan menghindarkan Venezuela dari ketidakstabilan politik lebih lanjut.
Reaksi Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez: Menolak Intervensi AS
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez, meskipun tidak mengakui rezim Maduro, mengingatkan bahwa intervensi militer AS yang dilakukan di Venezuela tidak dapat dibenarkan secara hukum internasional.
Sanchez menegaskan bahwa tindakan ini berisiko meningkatkan ketidakpastian dan permusuhan di kawasan.
“Spanyol juga tidak akan mengakui intervensi yang melanggar hukum internasional dan mendorong kawasan ini menuju cakrawala ketidakpastian dan permusuhan,” tulis Sanchez di X.
Israel Mendukung Tindakan AS: Netanyahu Memuji Keberanian Trump
Sebaliknya, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu memberikan dukungan penuh terhadap tindakan AS. Netanyahu memuji kepemimpinan Presiden Donald Trump serta keberanian pasukan AS yang terlibat dalam operasi tersebut.
“Selamat, Presiden @realDonaldTrump atas kepemimpinan Anda yang berani dan bersejarah atas nama kebebasan dan keadilan. Saya salut atas tekad Anda yang tegas dan tindakan brilian para prajurit pemberani Anda,” ujar Netanyahu, memberikan dukungan penuh terhadap langkah AS.
Tanggapan Negara-Negara Lain
Berikut adalah reaksi dari beberapa negara dan blok internasional lainnya:
Rusia: Kecaman Terhadap Agresi Militer AS
Rusia juga memberikan reaksi yang sangat keras terhadap penangkapan Maduro. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut bahwa tindakan militer AS tersebut sebagai bentuk agresi bersenjata yang melanggar kedaulatan Venezuela.
“Pagi ini, Amerika Serikat melakukan tindakan agresi bersenjata terhadap Venezuela. Ini sangat mengkhawatirkan dan patut dikutuk,” kata Kementerian Luar Negeri Rusia dalam pernyataannya.
Rusia menganggap alasan yang digunakan AS untuk membenarkan tindakan ini tidak berdasar dan menyebutkan bahwa ini adalah contoh dari ketidakpedulian terhadap hubungan internasional yang berbasis kepercayaan dan pragmatisme.
“Dalih yang digunakan untuk membenarkan tindakan tersebut tidak berdasar,” tambah Kemenlu Rusia.
“Dalam situasi saat ini, yang terpenting adalah mencegah eskalasi lebih lanjut dan fokus pada pencarian jalan keluar dari situasi ini melalui dialog,” tegas mereka.
Afrika Selatan: Seruan untuk Dewan Keamanan PBB
Afrika Selatan menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB untuk segera turun tangan guna mengatasi situasi di Venezuela. Mereka mendesak agar PBB menjadi mediator dalam proses penyelesaian konflik yang terjadi.
“Afrika Selatan menyerukan kepada Dewan Keamanan PBB, badan yang diberi mandat untuk menjaga perdamaian dan keamanan internasional, untuk segera mengadakan sidang guna mengatasi situasi ini,” kata Departemen Hubungan Internasional Afrika Selatan.
Argentina: Menyebut Penangkapan Maduro sebagai Kabar Baik
Presiden Argentina Javier Milei memberikan komentar positif mengenai penangkapan Maduro, dengan menyebutnya sebagai kabar baik untuk dunia bebas, mengingat bahwa Maduro dianggap sebagai diktator yang menahan kehendak rakyat Venezuela.
“Yang harus kita pahami adalah runtuhnya rezim seorang diktator yang memanipulasi pemilihan, yang dalam pemilihan terakhir kalah telak dan, meskipun demikian, tetap berkuasa,” ungkap Milei dalam sebuah wawancara media.
Meksiko: Penolakan Terhadap Intervensi Militer
Pemerintah Meksiko mengutuk keras tindakan militer sepihak yang dilakukan oleh AS di Venezuela. Mereka menegaskan bahwa serangan ini melanggar Pasal 2 Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa yang mengatur tentang kedaulatan negara.
“Pemerintah Meksiko mengutuk keras dan menolak tindakan militer yang dilakukan secara sepihak dalam beberapa jam terakhir oleh angkatan bersenjata Amerika Serikat,” demikian pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Meksiko.
Kanada, Paraguay, Bolivia, dan Uruguay: Seruan untuk Proses Demokratis
Negara-negara seperti Kanada, Paraguay, Bolivia, dan Uruguay juga memberikan tanggapan dengan menekankan bahwa proses transisi di Venezuela harus dilakukan secara damai dan sesuai dengan hukum internasional. Mereka menginginkan agar aspirasi rakyat Venezuela dihormati melalui jalur demokratis.
Denmark: Hukum Internasional Harus Ditegakkan
Pemerintah Denmark mengimbau agar hukum internasional dihormati dan menyarankan agar de-eskalasi dilakukan segera.
Perdana Menteri Mette Frederiksen menyatakan bahwa transisi damai ke pemerintahan demokratis adalah solusi yang terbaik bagi Venezuela.
“Pemerintah Denmark memantau situasi di Venezuela dengan cermat bersama sekutu kami. Sekarang saatnya untuk de-eskalasi. Hukum internasional harus dihormati,” ujar Frederiksen.
Slovakia: Aksi Militer AS Sebagai Bukti Runtuhnya Tatanan Dunia Pasca-Perang Dunia II
Perdana Menteri Slovakia, Robert Fico, mengkritik aksi militer AS yang ia sebut sebagai bukti runtuhnya tatanan dunia yang telah dibentuk setelah Perang Dunia II.
Fico menyatakan bahwa tindakan ini adalah contoh dari ketidakstabilan yang semakin meningkat di dunia internasional.
“Aksi militer AS di Venezuela adalah bukti lebih lanjut dari runtuhnya tatanan dunia yang diciptakan setelah Perang Dunia II,” ujar Fico.
Belarus: Kecaman Terhadap Agresi AS
Presiden Belarus, Alexander Lukashenko, melalui juru bicara Natalia Eismont, mengutuk keras tindakan agresi militer AS terhadap Venezuela dan menyebutnya sebagai penghinaan terhadap kedaulatan negara tersebut.
“Presiden Belarusia secara tegas mengutuk tindakan agresi Amerika terhadap Venezuela,” ungkap Eismont.
Iran: Mengutuk Agresi dan Menuntut Tindakan PBB
Iran juga mengutuk keras penangkapan Maduro dan meminta Dewan Keamanan PBB untuk segera bertindak. Kementerian Luar Negeri Iran menyebut tindakan AS sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional Venezuela.
“Serangan AS terhadap Venezuela adalah pelanggaran terang-terangan terhadap kedaulatan nasional dan integritas teritorialnya,” kata Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataannya.
Dalam situasi yang sangat tegang ini, banyak negara yang mengutuk aksi militer AS terhadap Venezuela, sementara negara-negara sekutu AS memberikan dukungan.
Reaksi yang berbeda ini menunjukkan bagaimana kompleksnya dinamika geopolitik yang melibatkan Venezuela dan peran AS di kawasan tersebut.
Proses transisi menuju pemerintahan yang lebih stabil dan sah di Venezuela kini menjadi sorotan utama dunia, dengan harapan agar transisi tersebut dapat berjalan dengan damai, menghormati hak asasi manusia, dan mengutamakan prinsip-prinsip hukum internasional. (*)







