INBERITA.COM, Polemik utang proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh yang mencapai Rp 116 triliun masih terus bergulir. Namun, di tengah sorotan publik terkait besarnya utang ini, pemerintah memastikan bahwa pembangunan jalur kereta cepat ke Surabaya tetap akan dilanjutkan.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menegaskan bahwa masalah utang yang ada harus segera diselesaikan agar tidak menghalangi ekspansi proyek besar ini menuju Surabaya.
“Kami harus segera menyelesaikan masalah utang ini agar tidak menghambat rencana besar kita untuk mengembangkan konektivitas berikutnya, dari Jakarta hingga Surabaya,” ujar AHY dalam konferensi pers di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, pada Senin (20/10/2025).
Meski masalah utang menjadi sorotan utama, ia menegaskan bahwa proyek kereta cepat yang sudah dimulai dari Jakarta ke Bandung ini akan tetap berjalan sesuai rencana.
Pemerintah, lanjut AHY, saat ini tengah melakukan koordinasi intensif antar kementerian dan lembaga untuk mencari solusi terbaik terkait pembayaran utang tersebut.
Salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan adalah apakah utang ini sepenuhnya akan dibebankan pada Danantara, ataukah akan melibatkan Kementerian Keuangan.
“Kami masih terus menunggu arahan dari Presiden, sambil mengembangkan berbagai opsi yang paling baik dan berkelanjutan,” tambahnya.
Hingga saat ini, jalur kereta cepat Whoosh baru beroperasi di rute Jakarta-Bandung. Proyek yang menelan biaya besar ini diperkirakan mencapai US$ 7,26 miliar, atau setara dengan Rp 119,79 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.500 per US$ 1.
Pembangunan Kereta Cepat Jakarta-Bandung (KCJB) dimulai pada 2016 dan telah selesai pada 2023, dengan sebagian besar pendanaan berasal dari utang pinjaman yang diberikan oleh China Development Bank (CDB).
Menanggapi isu pembiayaan dan utang proyek ini, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa utang Whoosh tidak akan ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia menyarankan agar penyelesaian utang tersebut menjadi tanggung jawab Danantara, sebagai badan yang menaungi proyek KCIC.
Danantara, menurut Purbaya, memiliki kapasitas finansial yang cukup untuk menyelesaikan kewajiban ini, karena badan tersebut menguasai dividen dari BUMN yang diperkirakan mencapai sekitar Rp 90 triliun. Dana tersebut dinilai bisa dimanfaatkan untuk mendukung pelunasan utang Whoosh.
Meski demikian, Purbaya mengungkapkan bahwa pihaknya masih menunggu hasil studi yang sedang disusun oleh Danantara mengenai skema penyelesaian utang tersebut.
Ia mengapresiasi langkah Danantara yang berkomitmen untuk memperbaiki tata kelola dan memastikan penggunaan dana yang transparan dan akuntabel.
“Mereka bilang akan mempelajarinya lagi dan mengusulkan hasilnya pada kami. Kita tunggu saja,” ungkap Purbaya di Wisma Danantara pada Rabu (15/10/2025).
Walaupun permasalahan utang menjadi isu besar, pemerintah tetap berkomitmen untuk mengembangkan proyek kereta cepat ini lebih lanjut. Rencana untuk memperluas rute Whoosh hingga Surabaya tetap menjadi prioritas.
Pengembangan jalur kereta cepat ini bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antar kota besar di Pulau Jawa, serta mendukung pertumbuhan ekonomi regional melalui transportasi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Sementara itu, rencana ekspansi proyek Whoosh ke Surabaya diharapkan dapat menjadi pendorong penting bagi pengembangan infrastruktur transportasi massal di Indonesia.
Dengan beroperasinya jalur kereta cepat Jakarta-Surabaya, diharapkan dapat mempermudah mobilitas masyarakat dan barang antar dua kota besar ini, sekaligus mengurangi ketergantungan pada transportasi darat yang lebih lambat.
Namun, meskipun proyek ini mendapat dukungan dari pemerintah, tantangan besar masih harus dihadapi terkait dengan penyelesaian utang yang terus menjadi perhatian utama.
Pemerintah harus memastikan bahwa semua aspek keuangan proyek ini dapat dikelola dengan baik, sehingga utang tidak menjadi penghalang bagi pengembangan lebih lanjut.
Selain itu, keterbukaan dan transparansi dalam pengelolaan proyek juga sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik dan investor.
Dalam beberapa bulan ke depan, banyak pihak yang akan mengamati dengan seksama bagaimana pemerintah dan Danantara akan menyelesaikan masalah utang Whoosh dan memastikan kelanjutan proyek kereta cepat ini.
Mengingat pentingnya proyek ini bagi masa depan transportasi Indonesia, keberhasilan penyelesaian masalah utang ini akan menjadi indikator keberhasilan kebijakan infrastruktur pemerintah di masa mendatang.
Proyek Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh yang kini tengah mengalami polemik utang mencapai Rp 116 triliun tetap akan dilanjutkan, dengan rencana perluasan jalur hingga Surabaya.
Pemerintah terus berkoordinasi untuk menyelesaikan masalah utang ini melalui berbagai opsi, termasuk kemungkinan pembebanan utang pada Danantara.
Sementara itu, meski utang tersebut tidak akan dibebankan pada APBN, Danantara memiliki kapasitas untuk menyelesaikan kewajiban tersebut dengan memanfaatkan dana dari BUMN.







