INBERITA.COM, Pasar kripto kembali mengalami penurunan signifikan setelah notulen rapat Federal Open Market Committee (FOMC) Januari 2026 dirilis, yang mengindikasikan sikap kebijakan moneter hawkish.
Bitcoin (BTC) tercatat turun 1,25% dalam 24 jam terakhir, menyentuh US$66.450 atau sekitar Rp1,12 miliar per keping, dengan kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan juga menurun 1,30% menjadi US$2,27 triliun.
Menurut Ajaib Financial Expert, Panji Yudha, tekanan pasar kripto terjadi seiring dengan menguatnya ekspektasi bahwa pengetatan moneter dari The Fed akan berlanjut lebih lama.
“Notulen FOMC menunjukkan adanya perbedaan pandangan di internal The Fed, yang mendorong pelaku pasar untuk lebih defensif dan mengurangi eksposur ke aset berisiko seperti kripto,” ujar Panji dalam analisisnya, Kamis (19/2/2026).
Selain itu, penguatan indeks dolar AS dan imbal hasil obligasi pemerintah AS turut memperburuk sentimen pasar, mencerminkan pergeseran investor menuju aset safe haven. Bitcoin sempat melorot ke bawah level US$67.000 sebelum akhirnya bergerak terbatas.
Dalam rilis notulen FOMC yang dipublikasikan Kamis dini hari (19/2), terlihat adanya perpecahan pandangan di kalangan pejabat Federal Reserve mengenai arah kebijakan suku bunga.
Beberapa pejabat membuka kemungkinan pemangkasan suku bunga jika inflasi AS kembali turun ke target 2%, namun beberapa lainnya justru mendukung kenaikan suku bunga lebih lanjut jika tekanan inflasi tetap bertahan.
Sementara itu, probabilitas suku bunga acuan yang dipertahankan pada kisaran 350–375 basis poin pada Maret 2026 tercatat melonjak menjadi 93,6%.
Angka ini menguatkan prediksi bahwa peluang pemangkasan suku bunga semakin kecil, terutama setelah data ketenagakerjaan AS yang menunjukkan hasil lebih kuat dari perkiraan pekan lalu.
Sebelumnya, inflasi AS pada Januari 2026 yang mencatatkan angka 2,4% sempat memberikan sentimen positif bagi pasar kripto, mendorong harga Bitcoin mendekati US$70.000.
Namun, setelah rilis notulen FOMC, sentimen pasar berbalik menjadi lebih defensif, dengan fokus kini tertuju pada data Personal Consumption Expenditures (PCE) yang akan dirilis pada akhir pekan ini, yang dianggap sebagai indikator utama inflasi acuan bagi The Fed.
Prediksi Pergerakan Harga Bitcoin dan Ethereum
Dalam jangka pendek, pergerakan Bitcoin diperkirakan akan tetap terbatas di kisaran US$64.000 hingga US$68.000, sementara Ethereum (ETH) juga diperkirakan akan bergerak dalam rentang US$1.900 hingga US$2.200.
Volatilitas tinggi di pasar altcoin juga masih terlihat, dengan beberapa altcoin mengalami kenaikan signifikan, seperti Port3 Network (PORT3) yang menguat 44,75%, Swell (SWELL) yang naik 26,00%, dan Naoris Protocol (NAORIS) yang melonjak 25,50%.
Kondisi Pasar Kripto Secara Umum Meskipun pasar utama tertekan, volatilitas yang tinggi masih terlihat di sektor altcoin.
Sebaliknya, beberapa altcoin mengalami penurunan harga, seperti Myx Finance (MYX) yang tergerus 25,75%, Steem (STEEM) yang melemah 21,20%, dan Mubarak (MUBARAK) yang terkoreksi 18,15%.
Dari sisi investor, kewaspadaan semakin meningkat, terutama dengan fluktuasi harga Bitcoin yang bisa menjadi sinyal adanya ketidakpastian ekonomi.
Dengan sikap hawkish dari The Fed, para investor kripto disarankan untuk terus memantau perkembangan pasar, terutama keputusan moneter yang akan datang dan dampaknya terhadap pasar kripto.
Secara keseluruhan, pasar kripto masih dipengaruhi oleh kebijakan moneter AS dan ekspektasi pengetatan lebih lanjut. Investor harus lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi, mengingat potensi ketidakstabilan di pasar akibat perubahan kebijakan yang datang dari Federal Reserve.







