INBERITA.COM, Pernyataan terbaru Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu kembali memicu perhatian internasional terhadap masa depan Jalur Gaza.
Di tengah proses negosiasi damai yang belum menunjukkan kemajuan berarti, Netanyahu secara terbuka mengungkapkan rencana untuk memperluas penguasaan wilayah Israel di Gaza hingga mencapai 70 persen.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah konferensi pada akhir Mei 2026. Dalam kesempatan itu, Netanyahu menegaskan bahwa operasi militer yang dijalankan Pasukan Pertahanan Israel (IDF) masih terus berlangsung dan berhasil memperluas area yang berada di bawah kendali Israel.
Menurut Netanyahu, pasukan Israel saat ini telah menguasai sekitar 60 persen wilayah Jalur Gaza. Angka tersebut, kata dia, meningkat dibandingkan tahap-tahap sebelumnya yang berada di kisaran 50 persen.
“Kami sekarang sedang menekan Hamas. Kami kini menguasai 60 persen wilayah Jalur Gaza. Sebelumnya 50 persen, lalu meningkat menjadi 60 persen,” ujar Netanyahu dalam pidatonya.
Saat seorang peserta acara meneriakkan angka 100 persen dari audiens, Netanyahu menanggapi dengan nada yang mengindikasikan pendekatan bertahap dalam operasi yang sedang berlangsung.
“Kita lakukan bertahap. Pertama-tama 70 persen dulu. Kita mulai dari sana. Kami menekan mereka dari segala sisi, dan kami akan menangani sisanya,” katanya.
Pernyataan tersebut segera memunculkan reaksi karena dianggap tidak sejalan dengan kerangka gencatan senjata yang sebelumnya dimediasi Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan disepakati oleh Israel serta Hamas pada Oktober 2025.
Dalam kesepakatan tersebut, Israel dan Hamas menyetujui sejumlah tahapan yang bertujuan mengurangi eskalasi konflik dan membuka jalan menuju penyelesaian politik yang lebih permanen.
Salah satu poin penting dalam perjanjian adalah pengaturan wilayah yang dikuasai pasukan Israel melalui garis demarkasi yang dikenal sebagai “yellow line”.
Berdasarkan kesepakatan itu, Israel seharusnya mempertahankan kendali atas sekitar 53 persen wilayah Gaza sambil menjalankan proses negosiasi lanjutan.
Namun pernyataan Netanyahu mengenai penguasaan 60 persen wilayah, bahkan target peningkatan menjadi 70 persen, dinilai melampaui parameter yang telah disepakati sebelumnya.
Situasi tersebut memperlihatkan masih besarnya jarak antara proses diplomasi dan realitas di lapangan. Hingga kini, pembicaraan tidak langsung antara Israel dan Hamas yang dimediasi Amerika Serikat belum berhasil menghasilkan terobosan signifikan.
Tahapan lanjutan dari proposal perdamaian yang terdiri dari 20 poin sejatinya mencakup dua agenda utama, yakni pelucutan senjata kelompok Hamas serta penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza. Namun kedua isu tersebut masih menjadi titik perbedaan mendasar yang belum menemukan jalan keluar.
Di tengah kebuntuan diplomatik, operasi militer di lapangan tetap berlangsung. Serangan udara dan operasi keamanan terus dilakukan oleh militer Israel dengan alasan memburu anggota serta infrastruktur milik Hamas yang masih dianggap sebagai ancaman keamanan.
Konsekuensinya, situasi kemanusiaan di Gaza masih menjadi perhatian dunia internasional. Data yang dirilis Kementerian Kesehatan Gaza menyebutkan sedikitnya 738 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata diberlakukan pada Oktober 2025.
Meski angka tersebut berasal dari otoritas kesehatan yang berada di bawah administrasi Hamas, data korban sipil dari lembaga tersebut selama ini kerap dijadikan rujukan oleh sejumlah organisasi internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dalam memantau perkembangan konflik.
Salah satu insiden terbaru terjadi pada malam 27 Mei 2026 di Kota Gaza. Sedikitnya 10 orang dilaporkan meninggal dunia setelah sebuah bangunan menjadi sasaran serangan udara.
Di antara korban terdapat lima anak-anak yang berada di lokasi saat serangan berlangsung.
Militer Israel menyatakan operasi tersebut ditujukan kepada dua tokoh penting Hamas yang beroperasi di wilayah Gaza utara. Namun pihak militer tidak mengungkap identitas lengkap seluruh target yang dimaksud.
Dalam laporan yang berkembang kemudian, salah satu target utama disebut merupakan komandan batalion Hamas bernama Imad Asleem. Ia dilaporkan tewas dalam serangan tersebut bersama putri remajanya, Israa.
Perkembangan terbaru ini memperlihatkan bahwa meskipun istilah gencatan senjata masih digunakan dalam kerangka diplomasi, realitas di lapangan menunjukkan konflik belum benar-benar berhenti. Operasi militer, serangan udara, serta perebutan kendali wilayah masih terus terjadi di berbagai titik.
Bagi komunitas internasional, pernyataan Netanyahu mengenai target penguasaan 70 persen wilayah Gaza berpotensi menjadi faktor baru yang mempersulit proses negosiasi.
Di satu sisi, Israel menegaskan langkah tersebut diperlukan untuk menekan Hamas. Namun di sisi lain, perluasan kendali wilayah dapat memicu kekhawatiran mengenai masa depan perjanjian damai yang selama ini menjadi harapan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan di kawasan tersebut.
Dengan kondisi yang masih jauh dari stabil, perhatian dunia kini tertuju pada langkah berikutnya yang akan diambil para mediator internasional.
Keberhasilan atau kegagalan upaya diplomasi dalam beberapa pekan ke depan diyakini akan sangat menentukan arah konflik Gaza dan nasib jutaan warga sipil yang masih hidup di tengah ketidakpastian.







