INBERITA.COM, Kunjungan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Washington DC kembali diwarnai gelombang demonstrasi.
Ratusan aktivis pro-Palestina menggelar aksi di sejumlah titik, mulai dari hotel tempat Netanyahu menghadiri jamuan makan malam hingga kawasan Gedung Putih, sebagai bentuk protes terhadap operasi militer Israel di Jalur Gaza.
Dalam salah satu aksi yang viral di media sosial, para demonstran telah menunggu kedatangan rombongan Netanyahu di sebuah hotel di kawasan Georgetown pada Senin (27/7/2026).
Mereka meneriakkan berbagai slogan dan kecaman, termasuk menyebut Netanyahu sebagai pelaku genosida serta menuntutnya bertanggung jawab atas krisis kemanusiaan yang terjadi di Gaza.
Video yang beredar memperlihatkan sejumlah pengunjuk rasa berusaha mendekati rombongan Netanyahu ketika memasuki lobi hotel.
Upaya tersebut segera dihalau oleh petugas pengamanan dan aparat kepolisian yang berjaga sehingga tidak terjadi kontak langsung dengan Perdana Menteri Israel.
Dalam rekaman tersebut terdengar demonstran meneriakkan, “Bibi, Bibi, kamu tidak bisa bersembunyi, kamu sedang melakukan genosida.” “Bibi” merupakan nama panggilan yang umum digunakan untuk Benjamin Netanyahu.
Menurut unggahan salah satu peserta aksi di media sosial, demonstrasi digelar setelah mereka mengetahui Netanyahu dijadwalkan makan malam di restoran Bourbon Steak yang berada di kompleks Four Seasons Hotel, Georgetown.
Massa kemudian mendatangi lokasi sebagai bentuk protes terhadap kunjungan pemimpin Israel tersebut.
Pengunggah video menyebut warga tidak dapat menerima Netanyahu menikmati jamuan makan malam di tengah kondisi warga Gaza yang menurut mereka masih menghadapi penderitaan akibat konflik berkepanjangan.
“Kami tidak bisa membiarkan Netanyahu makan dengan tenang tanpa merasakan bahkan sebagian kecil dari kekacauan yang Israel lakukan terhadap Gaza,” tulis pengunggah dalam keterangannya.
Gelombang protes berlanjut ketika Netanyahu menuju Gedung Putih untuk bertemu Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Di lokasi tersebut, sejumlah demonstran membawa spanduk yang menyebut Netanyahu sebagai “penjahat perang”.
Menariknya, aksi itu juga diikuti beberapa rabi Yahudi di Amerika Serikat yang mengenakan kafiyeh sebagai simbol solidaritas terhadap rakyat Palestina.
Kehadiran tokoh agama Yahudi dalam demonstrasi tersebut menunjukkan bahwa kritik terhadap kebijakan pemerintah Israel juga datang dari sebagian komunitas Yahudi sendiri.
Sementara aksi berlangsung di luar kawasan Gedung Putih, Netanyahu tetap melanjutkan agenda resmi bersama Presiden Donald Trump.
Menurut pejabat Gedung Putih, keduanya dijadwalkan membahas sejumlah isu strategis, termasuk perkembangan konflik dengan Iran, keberadaan pasukan Israel di Lebanon selatan, serta upaya memperluas Abraham Accords atau Kesepakatan Abraham.
Laporan media menyebut Netanyahu memasuki kompleks Gedung Putih melalui pintu Executive Avenue yang berada di sisi samping, bukan melalui pintu utama Sayap Barat yang biasanya digunakan dalam kunjungan kenegaraan. Jalur tersebut relatif lebih tertutup dari sorotan publik dan media.
Pertemuan ini menjadi yang kedelapan antara Trump dan Netanyahu sejak masa jabatan kedua Presiden Amerika Serikat tersebut.
Selain membahas dinamika keamanan di Timur Tengah, kedua pemimpin juga disebut mendiskusikan perkembangan hubungan diplomatik Israel dengan sejumlah negara Arab.
Di tengah agenda diplomatik itu, aksi demonstrasi di Washington kembali memperlihatkan bahwa konflik Gaza masih memicu perhatian luas masyarakat internasional.
Berbagai kelompok masyarakat sipil terus mendesak penghentian kekerasan, perlindungan warga sipil, serta penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi sesuai hukum internasional.







