Mojtaba Khamenei Deklarasikan Kemenangan Iran atas AS-Israel, Tetap Janjikan Pembalasan dan Pertahankan Hak atas Selat Hormuz

Mojtaba KhameneiMojtaba Khamenei
Mojtaba Khamenei Deklarasikan Kemenangan Iran

INBERITA.COM, Setelah hampir empat puluh hari menghadapi agresi dari aliansi AS-Israel, Pemimpin Tertinggi baru Iran, Mojtaba Khamenei, secara resmi mengumumkan kemenangan besar dalam konflik yang telah mengguncang Timur Tengah.

Deklarasi tersebut disampaikan dalam pesan yang disiarkan di televisi nasional Iran pada Kamis (9/4/2026).

Dalam pidatonya, Khamenei menegaskan bahwa perlawanan Iran selama hampir enam minggu tidak hanya menunjukkan ketangguhan bangsa Persia, tetapi juga menjadi simbol perlawanan global.

“Meski kami harus kehilangan banyak tokoh penting, termasuk ayah saya, Ayatollah Ali Khamenei, yang gugur pada awal agresi ini, kami tidak pernah surut. Bahkan duka kami telah bertransformasi menjadi kekuatan keberanian yang tidak terduga di medan pertempuran,” ujar Khamenei.

Menurut Khamenei, meski agresi musuh mengakibatkan kerugian yang besar, Iran tidak hanya berhasil bertahan, tetapi juga meraih kemenangan yang luar biasa.

“Bangsa Iran telah mengubah kesedihan menjadi tekad kuat, yang membuat musuh kami takjub, dan menginspirasi dunia yang tengah mengamati kami,” katanya.

Selain deklarasi kemenangan, Mojtaba Khamenei juga memberikan peringatan keras terkait tindak lanjut dari gencatan senjata yang baru saja tercapai dengan Amerika Serikat.

Meski gencatan senjata sudah disepakati, Khamenei menegaskan bahwa Iran tidak akan melupakan kejahatan perang yang terjadi selama ini.

“Kami jelas tak akan membiarkan penjahat agresor yang menyerang negara kami tak dihukum,” katanya dengan tegas, menambahkan bahwa Iran akan menuntut kompensasi atas kerusakan yang ditimbulkan selama agresi tersebut.

“Kami akan memastikan keadilan bagi para martir kami dan memulihkan infrastruktur yang hancur,” tambahnya.

Sebagai penutup, Khamenei memberikan sinyal mengenai potensi besar di Selat Hormuz.

Tanpa merinci secara teknis, ia mengisyaratkan bahwa Iran akan segera memasuki “fase terbaru” dalam pengelolaan jalur strategis tersebut untuk mempertahankan hak sah negara mereka. Pengumuman ini menambah ketegangan global terkait jalur nadi energi dunia yang sangat vital.

Namun, gencatan senjata yang baru disepakati kini terancam gagal setelah Israel kembali melancarkan serangan ke Lebanon.

Dalam waktu kurang dari 24 jam setelah kesepakatan damai dimulai pada Rabu (8/4/2026), Israel melakukan lebih dari 100 serangan udara ke wilayah Lebanon.

Serangan ini menewaskan sedikitnya 254 orang, dan semakin memperburuk situasi yang sudah rapuh.

Pejabat Iran segera merespons dengan peringatan keras. “Kami tidak bisa diam ketika agresi Israel terus berlanjut, terutama terhadap negara-negara tetangga seperti Lebanon,” ujar seorang pejabat senior Iran.

Menurutnya, pelanggaran ini adalah bukti bahwa kesepakatan damai yang dijanjikan tidak dihormati oleh pihak Israel.

Di dalam negeri, ketegangan juga semakin meningkat. Juru Bicara Parlemen Iran, Mohammad Baqer Qalibaf, menegaskan bahwa kepercayaan Iran terhadap Amerika Serikat telah mencapai titik terendah.

“Kepercayaan kami terhadap Washington kini hampir habis. Mereka bukan hanya melancarkan serangan di Lebanon, tetapi juga melakukan provokasi dengan mengirim drone ke wilayah kami dan menolak hak kami untuk mengembangkan program pengayaan uranium,” ujarnya.

“Keadaan ini jelas membuat kami tidak dapat melanjutkan perundingan atau gencatan senjata lebih lanjut,” tambahnya, seperti dikutip dari Press TV.

Ancaman serius juga datang dari pihak Iran terkait Selat Hormuz. Teheran menyatakan bahwa mereka akan mempertimbangkan penutupan penuh jalur strategis ini jika Israel tidak menghentikan serangan militer terhadap Lebanon.

Ancaman ini menjadi masalah besar bagi upaya diplomasi internasional yang tengah berusaha meredakan ketegangan.

Mojtaba Khamenei juga menegaskan bahwa situasi ini memerlukan tindakan cepat dari negara-negara mediator, terutama Pakistan, yang bertindak sebagai penghubung antara AS dan Iran.

Khamenei menuntut agar gencatan senjata yang mencakup Lebanon dan wilayah sekitar dipatuhi oleh semua pihak.

Dunia kini menunggu apakah mediasi yang dipimpin Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, akan mampu meredakan ketegangan atau justru sebaliknya, akan membawa Timur Tengah kembali ke dalam perang terbuka yang lebih dahsyat.

Hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda bahwa Israel akan menghentikan serangannya, sementara Iran sudah menyiapkan segala langkah untuk merespons serangan tersebut jika situasi terus memburuk.

Dengan latar belakang ini, setiap keputusan yang diambil dalam beberapa hari mendatang berpotensi mengubah arah konflik yang telah berlangsung berbulan-bulan ini.

Sebuah kegagalan dalam perundingan damai bisa mendorong kawasan Timur Tengah menuju perang skala penuh yang akan berdampak jauh lebih luas, baik bagi negara-negara yang terlibat maupun bagi stabilitas global.

Dunia kini menantikan langkah apa yang akan diambil oleh Iran dan Israel, serta apakah mediasi Pakistan akan dapat membawa mereka menuju perdamaian, atau justru memperburuk keadaan yang sudah sangat genting.