Miris! Satu Peserta SPPI Kembali Meninggal, Total 5 Korban Jiwa dalam Latsarmil Calon Manajer Kopdes Merah Putih

Jenazah peserta sppi kopdes merah putihJenazah peserta sppi kopdes merah putih
Latsarmil SPPI Kembali Makan Korban, Kemhan Sebut Seluruh Peserta Sudah Lolos Tes Kesehatan

INBERITA.COM, Perkembangan terbaru ini menambah sorotan terhadap pelaksanaan program SPPI yang disiapkan pemerintah untuk mencetak calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).

Seiring bertambahnya korban, evaluasi terhadap sistem pelatihan, pemeriksaan kesehatan, hingga mekanisme penanganan medis menjadi perhatian berbagai pihak.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Pertahanan Kemhan, Mayjen TNI Ketut Gede Wetan Pastia, menyampaikan duka cita atas meninggalnya para peserta yang sedang menjalani pendidikan.

“Atas nama Kementerian Pertahanan Republik Indonesia, Panitia Seleksi Nasional dan seluruh penyelenggara Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia, menyampaikan dukacita yang sedalam-dalamnya atas wafatnya lima peserta Program SPPI KDKMP KNMP 2026 yang sedang mengikuti pelatihan bela negara dan manajerial,” ujar Ketut dalam keterangannya di Kantor Kementerian Pertahanan, Jakarta, Sabtu.

Korban terbaru diketahui bernama Nola Dya Sari yang mengikuti pendidikan di Satuan Pendidikan Dodik Bela Negara Kalimantan.

Menurut Kemhan, sebelum kondisi kesehatannya menurun, Nola masih mengikuti kegiatan pembelajaran mengenai teknik perkebunan di ruang kelas pada Jumat (26/6/2026).

Namun pada sore harinya, sekitar pukul 18.45 WIB, Nola mulai mengeluhkan sesak napas yang disertai kondisi tubuh terasa panas.

Tim kesehatan di satuan pendidikan kemudian memberikan penanganan awal sebelum memutuskan merujuknya ke Instalasi Gawat Darurat Rumah Sakit Singkawang.

“Tim kesehatan satdik segera memberikan penanganan awal dan merujuk yang bersangkutan ke IGD Rumah Sakit Singkawang,” kata Ketut.

Nola tiba di rumah sakit sekitar pukul 19.20 WIB dan langsung mendapatkan penanganan medis. Karena membutuhkan perawatan lebih lanjut, ia kemudian dirujuk ke RSUD Abdul Azis Singkawang yang memiliki fasilitas lebih lengkap.

Setibanya di rumah sakit rujukan sekitar pukul 20.20 WIB, tim medis kembali melakukan penanganan intensif. Dalam proses tersebut, kondisi Nola memburuk hingga mengalami henti jantung.

“Dalam proses penanganan terjadi henti jantung sehingga dilakukan resusitasi jantung,” ujar Ketut.

Meski tim dokter telah melakukan berbagai upaya penyelamatan, nyawa Nola tidak berhasil diselamatkan.

“Meskipun berbagai upaya medis telah dilakukan, kondisi pasien tidak dapat dipulihkan dan pada pukul 21.03 WIB almarhumah dinyatakan meninggal dunia,” lanjutnya.

Kemhan menjelaskan bahwa sebelum mengikuti pendidikan, Nola telah menjalani pemeriksaan kesehatan sebagaimana prosedur seleksi peserta SPPI. Berdasarkan hasil pemeriksaan tersebut, ia dinyatakan memenuhi persyaratan kesehatan dengan catatan mengalami kelebihan berat badan.

Meski demikian, penyebab pasti kondisi yang dialami peserta masih terus didalami. Kemhan menyatakan evaluasi medis tetap dilakukan agar diperoleh gambaran yang lebih komprehensif mengenai faktor-faktor yang memengaruhi kondisi kesehatan peserta selama pelatihan berlangsung.

“Saat ini hasil evaluasi medis terus didalami untuk memperoleh gambaran yang lebih komprehensif terkait kondisi yang dialami,” kata Ketut.

Meninggalnya Nola menambah daftar peserta SPPI yang wafat selama mengikuti latsarmil. Sebelumnya, empat peserta lain lebih dahulu dilaporkan meninggal dunia dalam pelaksanaan program yang sama.

Empat peserta tersebut adalah Yonanda Muhammad Taufiq yang berdasarkan hasil pemeriksaan medis meninggal akibat cardiac arrest atau henti jantung, Anisa Muyassaroh yang meninggal karena heat stroke, Novia Rahmadhani Sihotang akibat komplikasi tuberkulosis (TB), serta Muhammad Rifki Renaldi Gunawan yang sebelumnya juga meninggal setelah sempat menjalani perawatan medis intensif.

Bertambahnya jumlah korban memunculkan perhatian terhadap aspek keselamatan peserta selama mengikuti latihan dasar militer.

Sejumlah kalangan sebelumnya telah mendorong adanya evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan latsarmil, mulai dari proses seleksi kesehatan, pengawasan kondisi fisik selama pendidikan, hingga prosedur penanganan medis apabila peserta mengalami gangguan kesehatan.

Program SPPI sendiri merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan menyiapkan sumber daya manusia untuk mendukung pengelolaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih dan Kampung Nelayan Merah Putih.

Para peserta tidak hanya mendapatkan pembekalan manajerial, tetapi juga mengikuti pelatihan bela negara sebagai bagian dari proses pendidikan.

Di tengah bertambahnya korban jiwa, Kemhan memastikan proses evaluasi akan terus dilakukan untuk meningkatkan aspek keamanan dan keselamatan peserta.

Hasil evaluasi tersebut diharapkan menjadi dasar penyempurnaan penyelenggaraan program sehingga pelaksanaan pendidikan berikutnya dapat berlangsung lebih aman tanpa mengurangi tujuan utama pembentukan calon manajer koperasi yang memiliki kompetensi serta kedisiplinan tinggi.