Menkes Budi Ungkap Alasan Relawan Kesehatan Masuk Aceh Lewat Malaysia, Tiket Lebih Murah

Menkes Minta Tiket Khusus Relawan, Ungkap Pernah Kirim Tim Kesehatan Lewat MalaysiaMenkes Minta Tiket Khusus Relawan, Ungkap Pernah Kirim Tim Kesehatan Lewat Malaysia
Budi Gunadi Sadikin Ungkap Strategi Kirim Relawan ke Aceh, Lewat Malaysia Lebih Murah

INBERITA.COM, Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan fakta menarik di balik strategi pengiriman relawan kesehatan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra, khususnya Aceh.

Dalam rapat koordinasi Satuan Tugas (Satgas) Pemulihan Bencana DPR bersama pemerintah yang digelar pada Sabtu (9/1), Budi menyampaikan bahwa Kementerian Kesehatan (Kemenkes) sempat mengirim relawan melalui jalur Malaysia. Langkah tersebut diambil bukan tanpa alasan, melainkan pertimbangan efisiensi biaya tiket penerbangan yang dinilai jauh lebih terjangkau.

Pernyataan itu disampaikan Budi secara terbuka dalam rapat yang disiarkan melalui kanal YouTube DPR RI. Ia menjelaskan bahwa dalam kondisi darurat, prinsip utama yang dipegang Kemenkes adalah memastikan relawan kesehatan bisa segera tiba di lokasi bencana.

Oleh karena itu, jalur pengiriman yang lebih murah dan cepat menjadi pilihan, meskipun harus melalui negara lain terlebih dahulu.

“Karena kita, yang penting jalan kan, kita kirim lewat Malaysia, karena murah tuh kirim lewat Malaysia, tiketnya bisa Rp2 juta, Rp3juta,” ujar Budi dalam rapat tersebut.

Menurut Budi, setiap dua pekan Kemenkes secara rutin mengirimkan sekitar 700 hingga 800 relawan kesehatan ke wilayah Sumatra. Jumlah tersebut mencerminkan kebutuhan besar akan tenaga medis dan pendukung kesehatan di daerah terdampak bencana, terutama di wilayah yang aksesnya terbatas dan membutuhkan penanganan intensif.

Pengiriman relawan secara berkelanjutan dinilai penting agar layanan kesehatan tetap berjalan dan proses pemulihan masyarakat bisa dipercepat. Dalam penjelasannya, Budi juga menceritakan satu peristiwa yang sempat menjadi sorotan publik di media sosial.

Ia mengungkapkan bahwa pernah ada sekitar 400 relawan Kemenkes yang masuk ke Aceh melalui Malaysia dengan mengenakan seragam berwarna biru. Momen tersebut terekam dalam sebuah video dan kemudian beredar luas di berbagai platform media sosial.

Akibat kurangnya konteks informasi, banyak warganet yang salah paham dan mengira para relawan tersebut berasal dari Malaysia. Narasi yang berkembang di media sosial bahkan menyebut seolah-olah relawan kesehatan dari Negeri Jiran datang membantu Aceh, padahal mereka adalah tenaga kesehatan Indonesia yang dikirim oleh Kemenkes.

“Masuk tuh relawan Kemenkes tuh 400 dari Malaysia dengan baju biru-biru kayak gini keluar di IG ‘Alhamdullilah relawan kesehatan Malaysia datang’,” kata Budi menirukan reaksi yang beredar di media sosial saat itu.

Cerita tersebut menjadi ilustrasi nyata bagaimana jalur pengiriman relawan melalui Malaysia memang pernah dilakukan dan berdampak pada persepsi publik. Meski demikian, Budi menegaskan bahwa fokus utama pemerintah tetap pada efektivitas penanganan bencana dan pemenuhan kebutuhan tenaga kesehatan di lapangan, bukan pada polemik yang muncul di dunia maya.

Pada kesempatan terpisah, Budi juga sempat menyinggung persoalan mahalnya harga tiket penerbangan domestik, khususnya rute Jakarta–Medan. Ia menyebut bahwa harga tiket untuk rute tersebut kerap kali lebih mahal dibandingkan penerbangan melalui Malaysia.

Kondisi ini menjadi tantangan tersendiri bagi Kemenkes yang harus mengirim relawan dalam jumlah besar dan membawa berbagai perbekalan medis. Situasi tersebut mendorong Budi untuk menyampaikan permintaan khusus kepada Kepala Satgas agar dapat mempertimbangkan kebijakan harga tiket khusus bagi relawan kesehatan.

Menurutnya, dengan adanya skema harga khusus atau subsidi tiket, proses pengiriman relawan ke wilayah terdampak bencana di Sumatra akan jauh lebih mudah dan efisien. Budi menekankan bahwa relawan kesehatan bukan hanya membawa diri mereka sendiri, tetapi juga logistik dan peralatan medis yang jumlahnya tidak sedikit.

Biaya transportasi yang tinggi akan sangat membebani upaya pemerintah dalam merespons bencana secara cepat dan tepat.

“Mudah mudahan kalau bisa dibantu, diatur, agar untuk relawan relawan ini tiketnya harga ini lah harga apa harga khusus, apalagi kan mereka bawa bawa banyak perbekalan segala macem,” ucap dia.

Lebih jauh, Budi menjelaskan bahwa daerah-daerah terpencil serta posko-posko bencana sangat membutuhkan kehadiran relawan kesehatan. Tanpa dukungan tenaga medis yang memadai, upaya percepatan pemulihan pascabencana akan sulit tercapai.

Oleh karena itu, Kemenkes berupaya mencari berbagai solusi praktis agar pengiriman relawan tidak terhambat oleh persoalan teknis, termasuk biaya dan akses transportasi. Pernyataan Menkes Budi Gunadi Sadikin ini memberikan gambaran mengenai kompleksitas kerja pemerintah dalam menangani bencana, khususnya di sektor kesehatan.

Di satu sisi, negara dituntut bergerak cepat dan sigap, sementara di sisi lain harus berhadapan dengan keterbatasan anggaran dan mahalnya biaya logistik. Strategi pengiriman relawan melalui Malaysia menjadi salah satu contoh langkah taktis yang diambil demi memastikan pelayanan kesehatan tetap berjalan di wilayah terdampak.

Dengan pengalaman tersebut, Budi berharap ke depan ada kebijakan lintas sektor yang lebih mendukung mobilisasi relawan kesehatan. Dukungan tersebut dinilai krusial agar setiap kali bencana terjadi, tenaga medis dapat segera hadir di garis depan untuk membantu masyarakat, tanpa terkendala persoalan tiket penerbangan dan biaya perjalanan yang tinggi.