INBERITA.COM, Investor kawakan Lo Kheng Hong kembali menunjukkan ketertarikannya pada saham PT Gajah Tunggal Tbk (GJTL) dengan melakukan pembelian 1,35 juta lembar saham perusahaan produsen dan penjual ban terkemuka tersebut.
Berdasarkan data yang diterbitkan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) pada Selasa (4/11), kepemilikan saham Lo Kheng Hong di GJTL meningkat menjadi 5,73%, atau setara dengan 199,54 juta saham.
Ini menunjukkan kenaikan kecil dari posisi sebelumnya yang tercatat sebesar 5,69%, atau sekitar 198,19 juta saham.
Langkah ini menggambarkan minat yang konsisten dari Lo Kheng Hong terhadap GJTL, meskipun saham perusahaan tersebut tengah mengalami penurunan.
Saham GJTL tercatat ditutup turun 0,96% pada level Rp 1.035 per saham, dengan volume perdagangan mencapai 4,32 juta saham.
Nilai transaksi tersebut setara dengan Rp 4,50 miliar, sementara kapitalisasi pasar perusahaan kini berada di angka Rp 3,61 triliun.
Jika dihitung berdasarkan harga penutupan tersebut, Lo Kheng Hong mengeluarkan sekitar Rp 1,39 miliar untuk menambah jumlah kepemilikan sahamnya di GJTL.
Meskipun sahamnya mengalami penurunan, keberadaan Lo Kheng Hong sebagai salah satu investor utama di Gajah Tunggal menjadi sorotan.
Investor yang dikenal dengan gaya investasi jangka panjang ini kini berada di peringkat ketiga sebagai pemegang saham terbesar di GJTL.
Denham Pte Ltd, yang mengendalikan perusahaan, masih mendominasi dengan kepemilikan saham terbesar mencapai 1,72 miliar saham atau 49,50%.
Sementara itu, Compagnie Financiere Michelin Scma menempati posisi kedua dengan total kepemilikan sebanyak 348,48 juta saham.
Kinerja Keuangan GJTL Lesu di Kuartal Ketiga 2025
Meski Lo Kheng Hong meningkatkan kepemilikannya di GJTL, kinerja keuangan perusahaan hingga kuartal ketiga 2025 menunjukkan adanya tekanan.
Berdasarkan laporan keuangan yang dipublikasikan pada 30 September 2025, PT Gajah Tunggal Tbk mencatatkan laba bersih sebesar Rp 789,69 miliar, yang turun sekitar 20,12% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat Rp 988,55 miliar.
Penurunan laba bersih ini sejalan dengan merosotnya penjualan bersih perusahaan yang mengalami penurunan 2,38% secara tahunan (year on year/yoy), dari Rp 13,44 triliun pada kuartal III 2024 menjadi Rp 13,12 triliun pada periode yang sama di tahun 2025.
Melihat penurunan kinerja GJTL, berbagai pihak mulai bertanya-tanya mengenai prospek jangka panjang emiten ini, terlebih dengan kondisi ekonomi yang masih penuh tantangan.
Penurunan laba dan penurunan penjualan bisa menjadi indikasi bahwa sektor otomotif, khususnya di industri ban, menghadapi tantangan tersendiri.
Namun, bagi investor seperti Lo Kheng Hong, penurunan harga saham justru mungkin dianggap sebagai peluang untuk membeli lebih banyak saham di harga yang lebih rendah.
Hal ini sejalan dengan pendekatan investasi jangka panjang yang biasanya dianut oleh Lo Kheng Hong, yang lebih melihat pada fundamental perusahaan daripada fluktuasi harga saham jangka pendek.
Langkah Lo Kheng Hong menambah kepemilikan saham di Gajah Tunggal Tbk juga menggarisbawahi pentingnya diversifikasi portofolio investasi.
Sebagai salah satu investor tersukses di Indonesia, Lo Kheng Hong memiliki kemampuan untuk memilih saham-saham dengan fundamental yang kuat, meskipun pada saat yang sama dihadapkan pada kinerja yang kurang baik dalam jangka pendek.
Melihat bagaimana Lo Kheng Hong terus melakukan pembelian saham GJTL, ini dapat menunjukkan bahwa ia melihat potensi pemulihan di masa depan.
Hal ini dapat dilihat dari keputusan Lo Kheng Hong untuk tetap berinvestasi meskipun perusahaan menghadapi tantangan dalam kinerjanya.
Dengan kapitalisasi pasar yang besar dan posisi dominan dalam industri, GJTL tetap merupakan perusahaan yang menarik untuk pemegang saham jangka panjang.
Meskipun kinerja keuangan pada kuartal ketiga 2025 menunjukkan adanya penurunan, Gajah Tunggal memiliki prospek yang bisa jadi lebih baik seiring dengan pulihnya kondisi pasar dan pemulihan sektor otomotif.
Secara keseluruhan, meskipun saham GJTL mengalami penurunan harga pada sesi terakhir, investor seperti Lo Kheng Hong tampaknya melihat potensi dalam perusahaan ini, dengan meningkatkan kepemilikan sahamnya.
Kinerja keuangan yang kurang memuaskan tidak menghentikan minat investor kawakan tersebut untuk tetap mempercayakan investasinya pada emiten ini.
Perkembangan ini juga menunjukkan bagaimana saham Gajah Tunggal Tbk bisa menjadi pilihan menarik bagi investor yang berorientasi pada jangka panjang, meskipun perusahaan harus menghadapi tantangan di kuartal terakhir tahun 2025. (xpr)







