INBERITA.COM, Militer Korea Selatan mengambil langkah strategis baru dengan mempersiapkan pengerahan pasukan secara konkret menuju kawasan perairan Selat Hormuz. Kebijakan militer terbaru ini mencakup pengiriman pesawat patroli maritim P-8, tim penjinak bahan peledak, serta kapal pendukung logistik.
Langkah taktis tersebut dikonfirmasi langsung oleh seorang pejabat Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan kepada lembaga penyiaran Australia, SBS.
“Kami sedang melakukan persiapan konkret untuk mengirim pasukan angkatan laut ke Selat Hormuz,” kata seorang pejabat Kementerian Pertahanan Nasional Korea Selatan kepada lembaga penyiaran Australia, SBS.
Perubahan sikap militer ini terjadi setelah pemerintah sebelumnya menyatakan baru akan mempertimbangkan pengerahan setelah perang antara Amerika Serikat dan Iran berakhir. Tapi dinamika geopolitik berubah drastis akibat tekanan eksternal dari Washington.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya melayangkan kritik terbuka terhadap Seoul karena menolak ikut serta dalam tindakan terhadap Iran. Kritik itu muncul ketika Amerika Serikat mengurangi skala latihan militer bersama Korea Selatan.
Koordinasi internasional juga terus berjalan intensif di balik layar persiapan militer ini.
“Saya memahami bahwa pembicaraan mengenai pelabuhan pangkalan dan pangkalan operasional juga sedang berlangsung dengan negara-negara terkait,” kata seorang pejabat tinggi militer yang dikutip SBS.
Namun, implementasi rencana militer ini masih harus melalui mekanisme konstitusional yang ketat di dalam negeri. Dewan Keamanan Nasional harus mengeluarkan keputusan resmi terlebih dahulu.
Langkah berikutnya memerlukan resolusi dalam rapat kabinet pemerintahan. Majelis Nasional Korea Selatan juga wajib memberikan persetujuan akhir sebelum pasukan benar-benar diberangkatkan.
Respons keras langsung datang dari Teheran begitu rencana pengerahan militer Seoul tercium publik. Iran secara tegas memperingatkan Korea Selatan agar tidak mengerahkan atau menghadirkan kekuatan militernya di Teluk Persia dan Selat Hormuz.
Pemerintah Iran menilai langkah pengiriman pasukan tersebut sebagai bentuk dukungan langsung terhadap Amerika Serikat di tengah eskalasi konflik yang sedang berlangsung.
Peringatan diplomatik tingkat tinggi itu disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei.
Pernyataan resmi tersebut disiarkan langsung melalui unggahan berbahasa Korea di platform X. Baghaei membuka pesannya dengan menyoroti sejarah diplomatik kedua negara.
Ia mengatakan hubungan Iran dan Korea Selatan telah terjalin selama lebih dari 64 tahun dan selama ini didasarkan pada rasa saling menghormati.
“Iran sangat menghargai hubungan persahabatannya dengan Korea Selatan,” tulis Baghaei.
Tapi ia langsung menegaskan bahwa kondisi keamanan kawasan saat ini menuntut sikap politik yang berbeda dari Seoul. Pemerintah Iran mengklaim saat ini sedang berupaya mempertahankan diri dari tindakan agresif Amerika Serikat.
“Namun, jelas bahwa dalam situasi saat ini, di mana bangsa Iran membela diri terhadap tindakan agresif dan menanggapi secara tegas kejahatan perang AS terhadap perempuan dan anak-anak,” tulisnya.
Teheran juga memberikan penegasan mengenai batasan keterlibatan kekuatan asing di jalur logistik energi vital tersebut. Kehadiran militer negara lain akan dipandang sebagai bentuk keberpihakan nyata dalam konflik bersenjata.
“Partisipasi operasional atau kehadiran militer apa pun oleh pihak lain di Teluk Persia dan Selat Hormuz akan dianggap sebagai dukungan langsung kepada pihak agresor dan akan memiliki konsekuensi serius,” tambahnya.
Baghaei menutup pernyataannya dengan memberikan kritik terbuka terhadap cara diplomasi Washington terhadap negara-negara sekutunya. Pemerintah yang berdaulat diminta agar tidak tunduk pada tekanan maupun pemaksaan dari pihak luar.
“Tidak ada pemerintah yang berdaulat dan bertanggung jawab yang tunduk pada tekanan dan pemerasan AS untuk ikut serta dalam tindakan agresif dan keji terhadap bangsa Iran yang agung,” katanya.