INBERITA.COM, Insiden kepulan asap di lokasi tambang emas ilegal kembali menelan korban jiwa. Kali ini, tragedi terjadi di wilayah Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan merenggut nyawa 11 orang.
Peristiwa tersebut langsung mendapat perhatian serius dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mendesak aparat penegak hukum untuk mengusut tuntas aktivitas tambang emas tanpa izin tersebut.
Dedi Mulyadi menilai, kasus ini tidak bisa hanya berhenti pada pekerja di lapangan. Ia meminta kepolisian memburu pihak-pihak yang berada di balik aktivitas penambangan ilegal, terutama mereka yang memberi perintah dan menikmati keuntungan terbesar dari tambang emas liar itu.
“Pak Kapolda sudah bicara ke saya, buru pelakunya. Pelakunya kan yang nyuruh dong, yang membeli,” ujar Dedi saat ditemui di Gedung Pakuan, Kota Bandung, Jumat (23/1/2026) malam.
Menurut Dedi, dalam praktik penambangan emas ilegal, keuntungan utama bukan dinikmati oleh para pekerja, melainkan oleh pihak yang mengendalikan operasi dan membeli hasil tambang.
Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya penegakan hukum yang menyasar aktor utama di balik aktivitas tersebut.
“Mereka yang paling menikmati keuntungan dibanding orang yang melaksanakan tambang ilegalnya,” lanjutnya.
Tragedi ini terjadi di kawasan tambang emas ilegal yang berada di area PT Aneka Tambang (Antam), Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor. Sebanyak 11 orang dilaporkan meninggal dunia setelah terjebak kepulan asap beracun di dalam lubang tambang.
Kapolda Jawa Barat Irjen Pol Rudi Setiawan membenarkan peristiwa tersebut. Ia menyampaikan bahwa para korban meninggal akibat menghirup asap yang mengandung karbon monoksida saat berada di dalam lubang penambangan emas tanpa izin atau PETI.
“Kurang lebih berjumlah 11 orang, dari semuanya itu dan sudah diserahkan atau sudah kembali kepada keluarganya untuk selanjut dilakukan pemakaman,” ujar Rudi, Kamis (22/1/2026).
Rudi menjelaskan, para korban berasal dari tiga kecamatan berbeda, yakni Kecamatan Nanggung, Kecamatan Cigudeg, dan Kecamatan Sukajaya. Seluruh korban telah diserahkan kepada keluarga masing-masing dan telah dimakamkan.
“Iya, meninggal semua dan hari ini kami berempati kepada keluarga korban dengan memberikan sedikit bantuan untuk meringankan kebutuhan sehari-hari,” ungkapnya.
Meski demikian, pihak kepolisian tidak menutup kemungkinan akan melakukan tindakan lanjutan apabila dibutuhkan untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.
“Sementara ini keluarga langsung dikebumikan. Nanti apabila dalam proses-proses lain diperlukan tindakan, itu akan kami lakukan (otopsi),” tutur Rudi.
Dedi Mulyadi juga mengungkapkan bahwa dirinya telah bertemu langsung dengan keluarga korban di Gedung Pakuan pada Jumat siang.
Dari pertemuan tersebut, ia memperoleh informasi bahwa sebagian korban baru bekerja di lokasi tambang emas ilegal itu dalam waktu yang relatif singkat.
“Mereka kan secara umum ya walaupun ada yang mengatakan baru satu bulan, ada yang sudah biasa,” kata Dedi.
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan betapa rentannya para pekerja tambang ilegal, yang kerap bekerja tanpa perlindungan keselamatan memadai dan dalam risiko tinggi.
Dedi pun menyatakan dukungannya terhadap langkah kepolisian untuk mengusut kasus ini hingga ke akar permasalahan.
“Pak Kapolda sudah menyampaikan ke saya akan fokus memburu pelaku, bandar dari tambang emas liar,” tegas Dedi.
Sebelumnya, Kapolda Jabar juga menyampaikan bahwa selain korban meninggal, terdapat beberapa orang yang sempat berhasil diselamatkan dari lokasi kejadian.
“Alhamdulillah untuk Nanggung sudah tiga orang yang kami selamatkan,” ujarnya.
Peristiwa ini menambah daftar panjang korban akibat aktivitas penambangan emas ilegal di Jawa Barat. Pemerintah Provinsi Jawa Barat menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan aparat kepolisian guna menindak tegas praktik tambang ilegal yang membahayakan keselamatan jiwa dan merusak lingkungan.
Tragedi di Nanggung menjadi peringatan keras bahwa aktivitas penambangan tanpa izin bukan hanya melanggar hukum, tetapi juga membawa risiko fatal bagi para pekerja dan masyarakat sekitar.
Pemerintah dan aparat penegak hukum diharapkan dapat mengambil langkah tegas agar kejadian serupa tidak kembali terulang.







