Kemenkes Tekankan Pentingnya Imunisasi Campak Lengkap, Waspadai Risiko Kematian dan Komplikasi Serius

INBERITA.COM, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia kembali menegaskan urgensi pemberian vaksin campak secara lengkap kepada anak-anak sebagai langkah preventif untuk mencegah risiko komplikasi berat hingga kematian. Hal ini disampaikan oleh Kepala Biro Informasi dan Komunikasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman, saat dihubungi dari Jakarta, Sabtu (14/9).

“Untuk memberikan perlindungan yang optimal terhadap penyakit campak, maka imunisasi campak diberikan sebanyak tiga kali,” kata Aji.

Pemberian vaksin campak, menurut Aji, dilakukan dalam tiga tahap yakni saat anak berusia 9 bulan, 18 bulan, dan saat duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD), Madrasah Ibtidaiyah (MI), atau sederajat. Anak-anak yang tidak bersekolah juga menjadi sasaran imunisasi tersebut guna memastikan cakupan perlindungan menyeluruh di tingkat populasi.

Campak dikenal sebagai penyakit yang sangat menular, disebabkan oleh virus campak yang menyebar dengan cepat melalui droplet yang keluar dari mulut, hidung, atau tenggorokan orang yang terinfeksi saat batuk, bersin, atau berbicara. Aji menjelaskan bahwa tingkat penularan penyakit ini sangat tinggi dengan reproduction number (Ro) mencapai 12 hingga 18. Ini berarti satu kasus campak berpotensi menulari antara 12 hingga 18 orang lain yang belum memiliki kekebalan terhadap virus tersebut.

“Campak merupakan penyakit sangat menular yang disebabkan oleh virus campak dan dapat mengakibatkan kematian. Penularan campak sangat cepat dengan nilai reproduction number (Ro) 12-18 orang, yang artinya 1 kasus campak bisa menularkan kepada 12 sampai 18 orang lainnya yang rentan,” ujarnya.

Gejala campak umumnya diawali dengan demam tinggi, biasanya di atas 38 derajat Celsius yang berlangsung selama tiga hari atau lebih, disertai dengan ruam kemerahan (rash) berbentuk makulopapular yang biasanya dimulai dari belakang telinga. Gejala ini sering kali dibarengi dengan batuk, pilek, dan mata merah.

Vaksinasi lengkap sangat dianjurkan untuk mencegah penyakit ini. Selain memberikan perlindungan terhadap gejala utama campak, vaksin juga terbukti dapat menurunkan risiko komplikasi serius yang dapat membahayakan jiwa. Beberapa komplikasi yang sering terjadi akibat campak meliputi pneumonia (radang paru-paru), diare berat, infeksi telinga, kerusakan otak (ensefalitis), kehilangan pendengaran atau penglihatan, serta gizi buruk.

“Vaksin itu sangat bermanfaat karena dapat memberikan proteksi pada anak untuk mencegah penyakit campak yang bisa menyebabkan demam tinggi, ruam kulit, batuk, pilek, dan mata merah. Sementara pada komplikasi serius, campak dapat berupa pneumonia, radang otak (ensefalitis), dan bahkan kematian,” jelas Aji.

Selain itu, ia menekankan bahwa sebagian besar penderita campak bisa sembuh tanpa pengobatan, terutama bila mereka telah memiliki kekebalan yang biasanya didapat melalui imunisasi lengkap. Namun demikian, risiko tetap tinggi bagi populasi rentan, seperti anak-anak dengan status gizi buruk atau yang belum pernah divaksin.

“Sebagian besar penderita campak akan sembuh tanpa pengobatan, terutama pada orang yang telah memiliki kekebalan yang biasanya didapatkan melalui imunisasi campak yang lengkap,” ucap dia.

Kematian akibat campak, kata Aji, biasanya terjadi akibat komplikasi berat yang menyertai penyakit ini, terutama diare, pneumonia, dan ensefalitis. Fakta ini memperkuat urgensi kampanye imunisasi nasional yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, termasuk yang tinggal di daerah terpencil atau yang tidak memiliki akses pendidikan formal.

Dalam rangka meningkatkan sensitivitas sistem surveilans dan mempercepat deteksi dini kasus campak, Kementerian Kesehatan saat ini menerapkan definisi operasional gejala campak yang mencakup minimal demam dan ruam makulopapular. Strategi ini bertujuan untuk memastikan identifikasi kasus lebih cepat sehingga rantai penularan bisa segera diputus sebelum menyebar lebih luas di masyarakat.

Upaya pencegahan melalui imunisasi massal ini menjadi krusial mengingat tingginya tingkat penularan serta potensi komplikasi serius dari penyakit yang sebenarnya bisa dicegah ini. Masyarakat diimbau untuk tidak menunda imunisasi anak-anak dan segera melengkapi jadwal vaksinasi campak yang telah ditentukan.

Dengan cakupan imunisasi yang optimal dan kesadaran publik yang tinggi, kasus campak berat serta kematian akibat komplikasinya dapat ditekan secara signifikan. Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan terus mendorong kolaborasi lintas sektor dan partisipasi aktif masyarakat untuk mendukung keberhasilan program imunisasi nasional.(fdr)