INBERITA.COM, Kasus hantavirus yang muncul di sebuah kapal pesiar internasional kini menjadi perhatian serius dunia kesehatan global setelah Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO mengungkap perkembangan terbaru terkait klaster penyakit paru berat yang dilaporkan sejak awal Mei 2026.
Temuan terbaru tersebut memunculkan kekhawatiran baru karena ada indikasi kuat penularan virus terjadi antarmanusia selama perjalanan kapal berlangsung.
Dalam laporan resmi Disease Outbreak News (DONs) tertanggal 8 Mei 2026, WHO mengonfirmasi bahwa wabah yang terjadi di kapal pesiar tersebut berkaitan dengan Andes virus (ANDV), salah satu jenis hantavirus yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi dan dalam kondisi tertentu dapat menular antarmanusia.
Perkembangan terbaru ini menjadi perhatian komunitas kesehatan internasional karena kasus tidak hanya melibatkan penumpang kapal pesiar, tetapi juga telah menyebar lintas negara melalui proses evakuasi medis.
Ketua Majelis Kehormatan Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Tjandra Yoga Aditama, mengatakan hingga 8 Mei 2026 tercatat enam kasus terkonfirmasi secara laboratorium sebagai hantavirus jenis Andes virus berdasarkan hasil pemeriksaan PCR maupun sekuensing.
“Per tanggal 8 Mei kemarin sudah ada enam kasus terkonfirmasi secara laboratorium dan semuanya adalah Hantavirus jenis Andes virus sesuai hasil pemeriksaan PCR atau sekuensing,” kata Tjandra dalam keterangannya yang diterima awak media pada Sabtu, 9 Mei 2026.
Selain enam kasus terkonfirmasi, terdapat dua kasus probable sehingga total kasus yang berkaitan dengan klaster kapal pesiar tersebut mencapai delapan orang.
Yang paling mengkhawatirkan, tiga pasien dilaporkan meninggal dunia akibat infeksi tersebut. Dengan jumlah itu, angka kematian atau case fatality ratio klaster hantavirus kapal pesiar mencapai sekitar 38 persen.
“Jadi angka kematiannya hampir 40 persen. Ini tentu cukup tinggi dan mengkhawatirkan,” katanya.
Situasi menjadi semakin kompleks karena para penumpang kapal pesiar kini telah tersebar ke berbagai negara setelah dilakukan proses evakuasi medis.
WHO mencatat sedikitnya dua penerbangan evakuasi medis dilakukan dari Cabo Verde menuju Belanda untuk menangani pasien yang terkait dengan klaster hantavirus tersebut.
Beberapa pasien saat ini berada di Johannesburg, Afrika Selatan, Belanda, hingga Zurich, Swiss.
Sementara itu, satu pasien sempat dirawat di Jerman, tetapi hasil pemeriksaan PCR dan serologi menunjukkan negatif hantavirus sehingga tidak lagi dikategorikan sebagai kasus terkait wabah tersebut.
Penyebaran lintas negara membuat investigasi epidemiologi menjadi sangat penting untuk menelusuri sumber penularan awal serta kemungkinan rantai penyebaran virus selama pelayaran berlangsung.
Menurut Tjandra, WHO kini memiliki hipotesis kerja bahwa pasien pertama atau indeks kasus kemungkinan telah terpapar hantavirus sebelum naik ke kapal pesiar.
“Kasus pertama nampaknya sangat mungkin terinfeksi Hantavirus sebelum naik ke kapal pesiar melalui paparan lingkungan saat berada di Argentina dan Chile,” katanya.
Meski demikian, perhatian para ahli kini tertuju pada dugaan penularan antarmanusia yang diduga terjadi selama perjalanan kapal pesiar berlangsung. Dugaan tersebut muncul berdasarkan pola munculnya gejala pada sejumlah pasien dan kaitannya dengan masa inkubasi Andes virus.
Selama ini, sebagian besar jenis hantavirus diketahui menular dari hewan pengerat ke manusia melalui paparan urine, air liur, maupun kotoran tikus yang terkontaminasi.
Namun Andes virus merupakan salah satu varian hantavirus yang berbeda karena memiliki kemampuan penularan antarmanusia dalam kondisi tertentu.
Temuan inilah yang kini menjadi fokus utama WHO dalam investigasi lanjutan. Organisasi kesehatan dunia itu masih melakukan penelitian epidemiologi mendalam serta pemeriksaan sekuensing virus untuk memastikan pola penyebaran yang terjadi dalam klaster kapal pesiar tersebut.
Kekhawatiran global sempat meningkat setelah muncul laporan mengenai seorang pramugari maskapai KLM yang diobservasi karena diduga melakukan kontak dengan pasien terkonfirmasi hantavirus. Namun hasil pemeriksaan laboratorium terbaru menunjukkan hasil negatif.
“Data terakhir menunjukkan hasil pemeriksaan laboratoriumnya negatif Hantavirus,” ujarnya.
Walau demikian, otoritas kesehatan internasional masih terus melakukan pemantauan terhadap kontak erat lain yang berpotensi terpapar virus tersebut. Langkah itu dilakukan untuk memastikan tidak terjadi penyebaran lebih luas lintas negara.
Kasus ini juga menjadi perhatian di kawasan Asia Tenggara karena terdapat warga negara ASEAN di dalam kapal pesiar tersebut, termasuk dari Filipina dan Singapura.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan regional dinilai tetap penting meskipun hingga kini belum ditemukan laporan penyebaran luas di negara-negara Asia Tenggara.
Klaster hantavirus di kapal pesiar ini menambah daftar ancaman penyakit menular global yang memerlukan pengawasan ketat, terutama di lingkungan dengan mobilitas internasional tinggi seperti kapal pesiar dan penerbangan lintas negara.
Tingginya angka kematian serta dugaan penularan antarmanusia membuat kasus ini terus dipantau secara intensif oleh WHO dan berbagai otoritas kesehatan dunia.
Di tengah investigasi yang masih berlangsung, WHO meminta seluruh negara meningkatkan kewaspadaan terhadap gejala penyakit paru berat pada pelaku perjalanan internasional, khususnya mereka yang memiliki riwayat kontak dengan pasien terkait klaster hantavirus kapal pesiar tersebut.