Jarang Diekspos Media! Berapa Sebenarnya Korban Israel dalam Perang Iran yang Sudah Berlangsung Selama Ini

Ilustrasi bangunan yang rusak akibat perangIlustrasi bangunan yang rusak akibat perang
Korban Israel dalam Perang Iran: Mengapa Data Angka Korban Selalu Berbeda?

INBERITA.COM, Perang antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran memasuki minggu keempat, memicu eskalasi yang semakin mengerikan di kawasan Timur Tengah.

Di balik pemberitaan yang mendominasi dari sisi AS dan Israel, angka korban dari pihak Iran sudah tercatat lebih dari 1.400 jiwa, termasuk lebih dari 200 anak.

Namun, angka korban dari pihak Israel justru jarang diekspos secara menyeluruh di media Barat, dan sering kali menimbulkan klaim yang berbeda-beda.

Sejak dimulainya konflik ini, laporan dari berbagai sumber menyebutkan bahwa korban di Iran telah mencapai angka yang sangat besar.

Menurut laporan yang dirangkum oleh awak media, hingga tanggal 20 Maret 2026, Iran telah kehilangan lebih dari 1.400 jiwa, termasuk lebih dari 200 anak yang tewas akibat serangan udara yang memicu ledakan besar di Teheran dan sekitarnya.

Keadaan ini terjadi meskipun warga Iran sedang merayakan Nowruz, Tahun Baru Persia, yang seharusnya menjadi waktu penuh kebahagiaan dan kedamaian.

Dalam upaya untuk membalas serangan tersebut, Iran meluncurkan gelombang serangan ke-70, yang melibatkan rudal dan drone yang menyasar Israel serta pangkalan militer AS yang tersebar di kawasan Teluk.

Serangan ini juga menghantam infrastruktur energi di negara-negara Teluk, sebagai bentuk balasan atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars, yang merupakan salah satu aset vital Iran.

Di sisi Israel, laporan terkait jumlah korban cenderung tidak konsisten dan kerap berbeda-beda antara satu sumber dengan sumber lainnya.

Menurut media Barat yang dirangkum oleh Al Jazeera, hingga pertengahan Maret, korban tewas di Israel dilaporkan mencapai 18 orang, dengan lebih dari 3.700 lainnya terluka akibat serangan balasan dari Iran.

Namun, laporan dari Middle East Monitor memberikan angka yang jauh lebih tinggi. Pada 4 Maret, misalnya, laporan tersebut menyebutkan bahwa korban tewas di Israel telah mencapai 680 orang, yang jauh melampaui angka yang diumumkan oleh media Barat.

Ketidaksesuaian data korban ini menjadi hal yang membingungkan, mengingat perbedaan mencolok dalam laporan tersebut.

Iran, melalui Tasnim News Agency, juga mengklaim bahwa pasukan Garda Revolusi Iran telah menyebabkan lebih dari 680 korban jiwa dan luka di Israel hanya dalam empat hari pertama perang.

Pernyataan ini datang setelah pelaksanaan operasi besar yang mereka sebut sebagai “Al-Wa’d al-Sadiq 4” atau yang lebih dikenal dengan “True Promise 4.”

Dalam operasi ini, Iran mengklaim bahwa serangan rudal dan drone mereka berhasil mengenai sasaran strategis di wilayah tengah dan utara Israel.

Menurut laporan tersebut, beberapa sasaran yang berhasil dihantam antara lain markas besar militer di Hakirya, infrastruktur penting di Bnei Barak, serta pusat-pusat militer di Galilea Barat.

Serangan-serangan ini menjadi bagian dari strategi balasan besar-besaran Iran yang bertujuan untuk menanggapi serangan-serangan udara yang sebelumnya dilakukan oleh Israel ke wilayah Iran.

Ketidakjelasan mengenai jumlah korban tewas di Israel ini menciptakan ketegangan dalam pemberitaan internasional. Sementara media Barat sering melaporkan angka yang jauh lebih rendah, klaim-klaim dari Iran menunjukkan kerugian yang jauh lebih besar.

Hal ini memunculkan pertanyaan tentang bagaimana data korban dapat berbeda sedemikian besar, dan mengapa laporan-laporan ini tampaknya tidak cukup mengungkapkan kerugian besar yang dialami Israel.

Selain itu, penting untuk dicatat bahwa serangan yang dilakukan Iran tidak hanya melibatkan rudal dan drone, tetapi juga melibatkan strategi serangan yang lebih canggih dengan tujuan merusak infrastruktur penting Israel dan mengirimkan pesan politik yang kuat ke negara-negara Barat.

Dalam hal ini, Iran tidak hanya ingin membalas serangan, tetapi juga ingin menunjukkan kemampuan militer yang semakin berkembang dan siap untuk melawan ancaman besar yang datang dari Israel dan Amerika Serikat.

Salah satu alasan mengapa angka korban Israel jarang mendapat sorotan dalam laporan internasional mungkin berkaitan dengan narasi media yang lebih fokus pada dampak serangan terhadap Iran, sebagai pihak yang lebih banyak menderita kerugian.

Media Barat sering kali lebih fokus pada penderitaan yang dialami oleh pihak Iran, sementara korban dari pihak Israel kerap dilaporkan dengan angka yang lebih rendah atau tidak terlalu diberitakan dengan mendalam.

Selain itu, dengan adanya perbedaan klaim dari berbagai sumber, sulit untuk mengetahui secara pasti berapa jumlah korban tewas yang sebenarnya di pihak Israel.

Ini membuat publik internasional kesulitan untuk mendapatkan gambaran yang jelas mengenai sejauh mana dampak dari serangan balasan Iran terhadap Israel, dan seberapa besar kerugian yang dialami oleh negara Zionis tersebut.

Perang antara AS-Israel dan Iran menunjukkan tanda-tanda eskalasi yang semakin besar. Dengan jumlah korban yang terus meningkat dari kedua belah pihak, dan ketidakjelasan dalam laporan-laporan internasional, konflik ini semakin memperburuk ketegangan di kawasan Timur Tengah.

Saat ini, baik Iran maupun Israel tampaknya tidak akan mundur, dan serangan-serangan balasan yang dilakukan oleh kedua pihak hanya akan semakin memanaskan situasi.

Dalam konteks ini, penting untuk terus memantau perkembangan lebih lanjut dan mencari kebenaran di balik klaim-klaim yang beredar.