Trump Siap Akhiri Perang Iran, Soroti Keamanan Selat Hormuz

Setelah Serangan Besar, Trump Pertimbangkan Hentikan Operasi di IranSetelah Serangan Besar, Trump Pertimbangkan Hentikan Operasi di Iran
Trump Sebut Ancaman Iran Hampir Diberantas, Operasi Militer Segera Dihentikan.

INBERITA.COM, Presiden Donald Trump mengisyaratkan rencana untuk mengakhiri operasi militer Amerika Serikat di Iran setelah konflik yang memicu dampak besar di kawasan Timur Tengah dan ekonomi global.

Pernyataan ini muncul di tengah eskalasi perang yang telah menimbulkan ribuan korban jiwa serta gangguan signifikan terhadap pasokan energi dunia.

Dalam pernyataannya, Trump menyebut bahwa Amerika Serikat hampir mencapai seluruh target utama dalam operasi militernya di Iran.

Ia menyampaikan hal tersebut melalui unggahan di platform media sosial Truth Social pada Jumat (20/3/2026) malam waktu setempat.

“Kami sudah sangat dekat untuk memenuhi target kami saat kami mempertimbangkan untuk menyudahi upaya militer besar kami di Timur Tengah terkait Iran,” tulis Trump dalam unggahannya.

Konflik ini bermula dari serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.

Serangan tersebut memicu eskalasi besar, termasuk gugurnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei. Sebagai respons, Teheran melancarkan serangan balasan yang memperluas skala konflik di kawasan.

Salah satu langkah paling berdampak yang diambil Iran adalah menutup Selat Hormuz, jalur pelayaran sempit yang memiliki peran vital dalam distribusi energi global.

Penutupan ini berdampak langsung terhadap sekitar 20 persen pasokan minyak dunia, memicu lonjakan harga energi dan mengguncang stabilitas ekonomi global.

Dampak kemanusiaan dari perang ini juga sangat signifikan. Lebih dari 1.000 orang dilaporkan tewas, termasuk warga sipil dan anak-anak, sementara ribuan lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara yang terus berlangsung sejak konflik pecah.

Dalam pernyataannya, Trump juga merinci empat target utama yang menjadi fokus operasi militer Amerika Serikat di Iran.

Pertama, melumpuhkan kemampuan rudal Iran. Kedua, menghancurkan kekuatan militer udara dan laut, termasuk sistem pertahanan antipesawat.

Ketiga, memastikan Iran tidak mencapai kemampuan nuklir. Keempat, melindungi sekutu Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah, termasuk Israel, Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Bahrain, dan Kuwait.

Langkah-langkah tersebut, menurut Trump, menjadi indikator utama keberhasilan operasi militer yang kini disebutnya hampir rampung.

Hal ini membuka peluang bagi Amerika Serikat untuk mulai menarik diri dari konflik yang telah berlangsung selama beberapa pekan tersebut.

Selain itu, Trump juga menyoroti masa depan keamanan di Selat Hormuz.

Ia menegaskan bahwa tanggung jawab untuk menjaga keamanan jalur tersebut seharusnya tidak lagi sepenuhnya berada di tangan Amerika Serikat.

“Selat Hormuz harus dijaga dan diawasi, jika perlu, oleh negara-negara lain yang menggunakannya, AS tidak (menggunakannya),” papar Trump.

Meski demikian, ia menegaskan bahwa Amerika Serikat tetap membuka kemungkinan untuk memberikan dukungan jika diminta oleh negara-negara terkait.

Bantuan tersebut dapat berupa dukungan teknis maupun pengamanan tambahan guna memastikan stabilitas jalur perdagangan energi global tetap terjaga.

“AS akan membantu negara lain dalam menjaga selat tersebut jika diminta, tetapi hal itu seharusnya tidak diperlukan lagi setelah ancaman Iran diberantas,” jelas Trump.

Pernyataan ini memperkuat sinyal bahwa Amerika Serikat tengah bersiap mengakhiri keterlibatan militernya secara langsung dalam konflik Iran.

Namun, dinamika di lapangan serta respons dari Iran dan negara-negara sekutu masih akan menjadi faktor penentu dalam proses deeskalasi konflik ke depan.