INBERITA.COM, Sensasi panas di dada setelah makan, rasa asam di mulut, hingga nyeri di ulu hati sering kali dianggap keluhan ringan yang akan hilang dengan sendirinya.
Karena gejalanya umum terjadi, banyak orang menganggap penyakit asam lambung atau Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) bukan masalah kesehatan yang serius.
Padahal, para ahli mengingatkan bahwa GERD tidak boleh disepelekan. Meskipun umumnya tidak menyebabkan kematian mendadak, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan yang lebih serius apabila tidak ditangani secara tepat dan berkelanjutan.
GERD merupakan penyakit yang terjadi ketika asam lambung secara berulang naik ke kerongkongan atau esofagus. Naiknya cairan asam tersebut menimbulkan iritasi pada lapisan kerongkongan dan memicu berbagai gejala yang mengganggu aktivitas sehari-hari.
Keluhan yang paling sering dirasakan adalah heartburn atau sensasi terbakar di area dada, terutama setelah makan atau saat berbaring.
Selain itu, penderita juga dapat mengalami rasa asam di mulut, sulit menelan, batuk kronis, suara serak, hingga gangguan tidur akibat refluks yang terjadi pada malam hari.
Dalam kondisi normal, tubuh memiliki mekanisme alami yang mencegah isi lambung naik ke kerongkongan. Peran tersebut dijalankan oleh otot yang disebut Lower Esophageal Sphincter (LES), yaitu cincin otot yang berada di perbatasan antara lambung dan esofagus.
Otot LES bekerja layaknya katup satu arah. Saat seseorang makan atau minum, katup ini akan membuka agar makanan masuk ke lambung. Setelah itu, LES akan menutup kembali untuk mencegah asam lambung bergerak ke atas.
Masalah muncul ketika fungsi otot tersebut melemah atau tidak dapat menutup secara sempurna. Akibatnya, cairan asam dari lambung lebih mudah naik ke kerongkongan dan menyebabkan iritasi yang berulang.
Berbagai faktor dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami GERD. Salah satu yang paling sering ditemukan adalah kelebihan berat badan atau obesitas. Tekanan yang lebih besar pada rongga perut dapat mendorong isi lambung naik ke esofagus.
Selain itu, kehamilan juga menjadi faktor pemicu karena perubahan hormon dan meningkatnya tekanan pada area perut. Risiko GERD juga cenderung meningkat pada kelompok usia lanjut akibat berkurangnya fungsi otot dan sistem pencernaan.
Kebiasaan langsung berbaring setelah makan termasuk salah satu penyebab yang sering diabaikan. Posisi tubuh yang datar mempermudah asam lambung mengalir kembali ke kerongkongan, terutama jika seseorang baru saja mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.
Faktor lain yang dapat berkontribusi terhadap munculnya GERD meliputi gangguan pengosongan lambung atau gastroparesis, penyakit jaringan ikat seperti lupus dan skleroderma, hingga kelainan bawaan tertentu yang memengaruhi struktur saluran pencernaan.
Beberapa jenis obat juga diketahui dapat meningkatkan risiko refluks asam lambung. Di antaranya obat antiinflamasi seperti aspirin dan ibuprofen, obat penenang golongan benzodiazepin, antidepresan tertentu, serta terapi hormon pada masa menopause.
Lalu, apakah GERD benar-benar bisa menyebabkan kematian mendadak?
Secara medis, GERD tidak termasuk penyakit yang secara langsung memicu kematian mendadak. Namun, bukan berarti kondisi ini sepenuhnya aman untuk diabaikan.
Masalah utama terletak pada komplikasi yang dapat muncul apabila refluks asam lambung berlangsung dalam jangka panjang tanpa pengobatan yang memadai.
Paparan asam yang terus-menerus dapat merusak lapisan esofagus dan menimbulkan berbagai gangguan serius.
Salah satu komplikasi yang cukup sering ditemukan adalah esofagitis, yaitu peradangan pada kerongkongan akibat iritasi berkepanjangan. Pada kasus yang lebih berat, peradangan ini bahkan dapat menyebabkan luka dan perdarahan.
Komplikasi lain adalah striktur esofagus. Kondisi ini terjadi ketika jaringan parut terbentuk akibat kerusakan berulang pada lapisan kerongkongan. Akibatnya, saluran makanan menjadi menyempit sehingga penderita mengalami kesulitan menelan.
Yang paling mendapat perhatian adalah kondisi yang dikenal sebagai Barrett’s Esophagus atau Esofagus Barrett. Pada gangguan ini, sel-sel normal yang melapisi kerongkongan mengalami perubahan akibat paparan asam lambung kronis.
Perubahan tersebut dianggap sebagai kondisi pra-kanker karena dapat meningkatkan risiko berkembangnya kanker esofagus di kemudian hari. Meskipun tidak semua penderita Barrett’s Esophagus akan mengalami kanker, kondisi ini memerlukan pemantauan medis secara berkala.
Ahli gastroenterologi Indonesia, Ari Fahrial Syam, menjelaskan bahwa GERD pada dasarnya bukan penyakit yang menyebabkan kematian mendadak.
Namun, kondisi yang tidak terkontrol dapat memperburuk situasi ketika penderita mengalami masalah kesehatan lain.
Menurutnya, komplikasi tertentu dapat memicu infeksi yang berkembang menjadi lebih serius. Jika infeksi menyebar secara luas ke seluruh tubuh atau menyebabkan sepsis, kondisi tersebut berpotensi mengancam nyawa pasien.
“Yang paling dekat bisa menyebabkan kondisi infeksi, kemudian terjadi infeksi sistemik atau sepsis. Itu memang bisa berujung kepada kematian. Nah, kondisi-kondisi lain itu bisa saja memperburuk keadaan,” ujarnya.
Karena itu, pengobatan dan pengendalian GERD menjadi langkah penting yang tidak boleh diabaikan. Penanganan yang tepat tidak hanya bertujuan meredakan gejala, tetapi juga mencegah kerusakan jangka panjang pada saluran pencernaan.
Selain penggunaan obat sesuai anjuran dokter, perubahan gaya hidup juga berperan besar dalam mengendalikan penyakit ini.
Menjaga berat badan ideal, menghindari makan berlebihan, tidak langsung berbaring setelah makan, membatasi makanan pemicu refluks, serta menghentikan kebiasaan merokok dapat membantu mengurangi frekuensi kekambuhan.
Prof Ari juga mengingatkan bahwa GERD yang belum terkontrol dapat kambuh ketika tubuh menghadapi kondisi tertentu, termasuk selama masa kehamilan atau ketika seseorang mengalami penyakit lain yang memengaruhi sistem pencernaan.
Karena itu, penderita GERD dianjurkan menjalani pengobatan secara teratur dan melakukan kontrol kesehatan sesuai anjuran tenaga medis. Dengan penanganan yang tepat, risiko komplikasi serius dapat ditekan dan kualitas hidup penderita tetap terjaga.
Kesimpulannya, GERD memang bukan penyakit yang secara langsung menyebabkan kematian mendadak. Namun, menganggapnya sebagai gangguan ringan tanpa perlu pengobatan juga merupakan kesalahan.
Ketika dibiarkan berlangsung lama, GERD dapat memicu komplikasi yang berdampak serius terhadap kesehatan. Oleh sebab itu, mengenali gejala sejak dini dan melakukan penanganan yang tepat menjadi langkah penting untuk mencegah risiko yang lebih besar di kemudian hari.







