INBERITA.COM, Upaya Indonesia mengakselerasi ketertinggalan di sektor kesehatan kembali menunjukkan langkah signifikan. Pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) terus mempercepat hadirnya layanan kesehatan berkelas internasional yang mampu menjadi alternatif nyata bagi masyarakat yang selama ini memilih pengobatan di luar negeri.
Salah satu langkah paling strategis datang dari PT Aviasi Pariwisata Indonesia (Persero) atau InJourney, yang resmi memulai pembangunan pusat layanan fertilitas internasional pertama di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Sanur, Bali.
Proyek ini digadang-gadang menjadi motor utama transformasi The Sanur sebagai ‘international health and wellness destination’ yang mengintegrasikan layanan medis modern, pariwisata, dan kekayaan budaya lokal.
Melalui anak usahanya, PT Hotel Indonesia Natour atau InJourney Hospitality, perusahaan menggandeng mitra strategis Alpha IVF Group, jaringan klinik fertilitas terkemuka asal Malaysia.
Kerja sama ini ditandai dengan pelaksanaan groundbreaking ceremony pembangunan fasilitas kesehatan seluas 6.343 meter persegi, sebuah kompleks layanan fertilitas yang dirancang untuk memenuhi standar medis global sekaligus menjawab tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia terhadap layanan bayi tabung berteknologi maju.
Pusat layanan fertilitas ini dikembangkan bersama PT Alpha IVF dan SPOG Bali (ASPOBA), dengan fokus pada pelayanan In Vitro Fertilization (IVF) atau program bayi tabung, serta layanan kesehatan wanita dan anak secara komprehensif. Fasilitas tersebut ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2027.
Direktur Utama InJourney, Maya Watono, menyampaikan bahwa pembangunan pusat IVF ini bukan sekadar proyek fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi tonggak penting dalam penguatan posisi The Sanur sebagai destinasi kesehatan global.
Maya menegaskan bahwa pusat fertilitas tersebut akan menjadi fasilitas unggulan pertama di KEK Sanur yang berorientasi internasional dan diharapkan mampu menarik pasien domestik maupun mancanegara.
“Kehadiran pusat IVF ini akan menjadi pusat fertilitas unggulan pertama di KEK Sanur, sekaligus menegaskan posisi The Sanur sebagai international health and wellness destination,” ujar Maya lewat keterangan pers, Sabtu (6/12/2025).
Di balik pembangunan tersebut, InJourney menaruh perhatian besar terhadap dampak ekonomi makro. Maya mengungkapkan bahwa transformasi The Sanur diyakini sanggup menekan potensi devisa yang selama ini keluar akibat besarnya jumlah masyarakat Indonesia yang berobat ke luar negeri.
Nilainya diperkirakan mencapai Rp 86 triliun setiap tahun. Dengan pembangunan layanan kesehatan terpadu berstandar dunia di Sanur, potensi kebocoran devisa itu dapat ditekan secara signifikan, sekaligus memberi kontribusi positif bagi pendapatan negara.
“Visi kami untuk mengurangi ketergantungan masyarakat pada layanan kesehatan luar negeri, sehingga kontribusi The Sanur terhadap GDP (Produk Domestik Bruto/PDB) nasional diperkirakan dapat menahan laju devisa yang ke luar mencapai Rp 86 triliun dan menambah devisa negara sekitar Rp 19 triliun,” paparnya.
Pengembangan The Sanur sebagai kawasan kesehatan terpadu tidak hanya menempatkan kualitas layanan sebagai fokus utama, tetapi juga mempertahankan nilai budaya lokal sebagai identitas kawasan. Dengan standar internasional yang dipadukan kearifan lokal, kawasan ini diharapkan menjadi landmark baru industri kesehatan Indonesia
Sebuah kawasan yang menyatukan sains, tradisi, serta pariwisata kesehatan dalam satu ekosistem terintegrasi yang mendukung pertumbuhan ekonomi Bali dan nasional.
Selain pusat fertilitas internasional, InJourney turut mengembangkan International Medical Facility yang dirancang untuk menjawab meningkatnya kebutuhan masyarakat akan layanan medis berkualitas tinggi yang selama ini banyak dicari di luar negeri.
Direktur Utama InJourney Hospitality, Christine Hutabarat, menegaskan bahwa pengembangan pusat layanan fertilitas di KEK Sanur merupakan bukti nyata keseriusan perusahaan menghadirkan wisata kesehatan kelas dunia di Indonesia.
Menurut Christine, pembangunan ini adalah solusi bagi ribuan masyarakat Indonesia yang setiap tahun mencari layanan fertilitas berkualitas di negara lain.
“Ini adalah terobosan untuk menjawab tantangan ribuan masyarakat Indonesia yang mencari layanan fertilitas berkualitas,” katanya.
“Kolaborasi dengan top-notch brand internasional, penggunaan teknologi dan obat terbaik, serta keterlibatan tenaga kesehatan asing menunjukkan komitmen kami membangun destinasi kesehatan global dari Indonesia,” lanjutnya.
Christine juga menambahkan bahwa kehadiran Alpha IVF akan memperkuat daya tarik The Sanur tidak hanya bagi wisatawan mancanegara tetapi juga bagi masyarakat domestik yang membutuhkan layanan fertilitas modern.
Alpha IVF sendiri dipilih melalui proses seleksi ketat untuk memastikan hanya pusat layanan berstandar dunia yang dapat beroperasi di kawasan KEK Sanur. Setelah pemenuhan persyaratan awal, pembangunan fasilitas akan berlanjut dengan target operasional komersial dalam waktu 18 bulan sejak perjanjian berlaku.
Dengan berbagai pengembangan tersebut, KEK Sanur semakin menunjukkan posisinya sebagai pusat wisata kesehatan (medical tourism) paling ambisius di Indonesia.
Jika seluruh rencana berjalan sesuai target, kawasan ini bukan hanya membuka peluang ekonomi baru bagi Bali, melainkan juga menghadirkan akses layanan kesehatan berkelas dunia tanpa harus membawa pasien ke luar negeri.
The Sanur diharapkan menjadi magnet wisata kesehatan baru, menggabungkan pelayanan medis modern, kawasan resort berstandar internasional, serta kekayaan budaya Bali yang selama ini menjadi daya tarik wisatawan global.







