Gen Z Tinggalkan Doomscrolling demi Aktivitas Luar Ruangan, Sulawesi Utara & Yogyakarta Cetak Rekor di Strava 2025

Laporan Strava 2025 Ungkap Gen Z Tinggalkan Media Sosial demi Aktivitas Fisik NyataLaporan Strava 2025 Ungkap Gen Z Tinggalkan Media Sosial demi Aktivitas Fisik Nyata
Gen Z Beralih dari Doomscrolling ke Aktivitas Fisik, Sulawesi Utara & Yogyakarta Catat Prestasi di Strava 2025

INBERITA.COM, Strava kembali menegaskan posisinya sebagai aplikasi gaya hidup aktif dengan merilis edisi ke-12 laporan tahunan Year In Sport: TrenD yang memotret kebiasaan baru para penggunanya.

Laporan ini menampilkan gambaran jelas tentang bagaimana perubahan perilaku generasi muda mulai membentuk arah baru aktivitas fisik global.

Dokumen tahunan tersebut menyoroti pergeseran nyata di kalangan Gen Z yang kini lebih memilih hubungan sosial berbasis aktivitas dibandingkan menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar. Pergeseran ini menjadi bagian penting dari perubahan kultur yang makin menonjol sepanjang 2025.

Melalui analisis miliaran aktivitas pengguna dan survei terhadap lebih dari 30.000 responden, Strava menemukan bahwa generasi muda semakin meninggalkan kebiasaan pasif seperti scrolling media sosial. Mereka beralih pada rutinitas aktif yang mendorong keterlibatan fisik nyata setiap harinya.

Sepanjang tahun ini, Gen Z menunjukkan konsistensi dalam bergerak, berlari, hingga mengikuti lomba dengan berbagai jarak yang sebelumnya kurang diminati kelompok usia muda. Mereka membuktikan bahwa aktivitas fisik memberi ruang bagi kebersamaan, bukan hanya pencapaian pribadi.

Komunitas lari menjadi salah satu medium yang paling banyak dipilih generasi ini untuk membangun koneksi baru. Di sisi lain, minat pada angkat beban meningkat karena dianggap mampu memberikan dampak signifikan pada performa tubuh dan kepercayaan diri.

Laporan itu juga memaparkan perubahan prioritas di kalangan generasi muda yang kini semakin menjadikan olahraga sebagai kebutuhan inti dalam rutinitas harian mereka. Bahkan saat berlibur, aktivitas fisik tetap menjadi agenda yang tak terpisahkan dari gaya hidup mereka.

Gen Z juga menunjukkan kecenderungan mengalokasikan lebih banyak pengeluaran untuk kebutuhan kebugaran dibandingkan biaya kencan atau aktivitas sosial pasif lainnya.

Fenomena ini memperlihatkan fokus baru yang menempatkan kesehatan sebagai pilar dalam gaya hidup modern.

Pada 2025, pengguna Strava dari berbagai generasi memanfaatkan aplikasi tersebut untuk mempererat hubungan dan merayakan progres latihan bersama komunitas digital. Total 14 miliar kudos dibagikan, menandakan apresiasi masif yang menghubungkan jutaan pengguna di seluruh dunia.

Pengguna Strava juga semakin sering menjelajahi dunia sambil tetap beraktivitas, dengan rata-rata satu jam latihan fisik untuk setiap dua menit penggunaan aplikasi. Data tersebut memperlihatkan bagaimana teknologi mendukung kebiasaan bergerak tanpa mengubah esensi aktivitas di kehidupan nyata.

“Lebih dari setengah Gen Z berencana untuk lebih sering menggunakan Strava pada 2026, sementara sebagian besar dari mereka menyatakan bahwa penggunaan Instagram dan TikTok akan tetap sama atau justru berkurang,” ujar Kepala Eksekutif Strava Michael Martin.

Ia menekankan bahwa Gen Z kini mencari pengalaman nyata, bukan waktu layar yang lebih panjang.

Martin juga menambahkan bahwa generasi ini sedang membentuk ulang tatanan hidup yang lebih aktif dan terhubung. Ia menegaskan komitmen Strava untuk terus membangun platform yang menjaga para pengguna tetap bergerak bersama di masa mendatang.

Dalam laporan tersebut, Strava turut memaparkan rangkaian data menarik dari kompetisi kota vs kota yang menampilkan performa aktivitas dari berbagai belahan dunia pada 2025. Daftar ini menunjukkan bagaimana karakteristik setiap kota memengaruhi kebiasaan beraktivitas para penggunanya.

Uri di Swiss merebut posisi teratas sebagai lokasi paling Instagramable pada 2025 karena 42 persen aktivitas di wilayah itu diunggah bersama foto. Temuan ini menunjukkan bagaimana lanskap alam memengaruhi motivasi pengguna untuk membagikan perjalanan olahraga mereka.

Cuaca ekstrem juga tidak menghalangi antusiasme pengguna Strava di banyak wilayah. Di Kepulauan Riau, mereka tetap aktif meski berhadapan dengan panas terik, sementara di Greater Reykjavík, Islandia, aktivitas terus berlangsung meski suhu sangat dingin.

Di Indonesia, Sulawesi Utara tercatat sebagai wilayah paling aktif secara nasional dengan median 5.392 langkah per hari. Posisi berikutnya ditempati Banten dengan 5.342 langkah dan Sulawesi Selatan dengan 5.308 langkah yang menunjukkan konsistensi aktivitas harian yang tinggi.

Untuk kategori kecepatan berjalan, Sulawesi Tenggara menjadi wilayah dengan pace tercepat dengan rata-rata 00.12.37/km. Sulawesi Utara menyusul dengan 00.12.44/km dan Sumatera Selatan di posisi berikutnya dengan 00.12.48/km.

Namun dari sisi jarak tempuh, Nusa Tenggara Timur menjadi wilayah dengan jangkauan terpanjang yakni 3,9 km per sesi. Gorontalo mencatat jarak rata-rata 3,7 km dan Sulawesi Tengah berada pada angka 3,6 km.

Seluruh temuan ini menunjukkan bahwa tiap wilayah memiliki ritme berolahraga yang berbeda tetapi tetap kompak dalam menjaga budaya aktif. Pola ini menjadi cerminan bahwa kebiasaan bergerak terus tumbuh di berbagai daerah di Indonesia.

Secara global, Copenhagen di Denmark merebut gelar area metro tercepat dengan kecepatan lari rata-rata mencapai 8:52 menit per mil. Pengguna di Afrika Selatan dan Kolombia tercatat paling sering berlari dalam kelompok dengan angka 18,5 persen.

Strava juga mencatat perbedaan waktu latihan yang cukup mencolok di berbagai kota, termasuk di Asia. Yogyakarta menjadi kota dengan aktivitas pagi terbanyak karena 55,4 persen penggunanya memilih bergerak antara pukul 4–7 pagi.

Sementara itu, Seoul di Korea Selatan menjadi kota dengan aktivitas malam tertinggi yang mencapai 11 persen setelah pukul 9 malam. Data tersebut mencerminkan preferensi ritme harian yang dipengaruhi budaya dan kondisi lingkungan setempat.

Secara keseluruhan, laporan Year In Sport: TrenD 2025 memperlihatkan bagaimana generasi muda menjadi pendorong terbentuknya kebiasaan baru yang lebih aktif dan berbasis koneksi nyata. Pergeseran ini membuka peluang besar bagi industri kebugaran dan teknologi untuk menghadirkan solusi yang selaras dengan tren dunia yang terus berkembang.