Harga Beras di Mahakam Ulu Tembus Rp 1 Juta per 25 Kg, Distribusi Sungai Lumpuh

INBERITA.COM, Harga kebutuhan pokok di salah satu wilayah Indonesia kembali menjadi sorotan.

Kali ini, lonjakan harga terjadi di Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, dengan angka yang dinilai tidak wajar dan memberatkan masyarakat.

Harga beras di kabupaten tersebut dilaporkan menembus Rp 1 juta per karung berisi sekitar 25 kilogram.

Tak hanya beras, harga gas elpiji ukuran 12 kilogram juga melonjak hingga Rp 800 ribu per tabung.

Kondisi ini terjadi di wilayah pedalaman Mahakam Ulu, khususnya di Kecamatan Long Pahangai.

Berdasarkan laporan warga, harga-harga kebutuhan pokok naik drastis seiring tersendatnya distribusi barang yang selama ini mengandalkan jalur sungai sebagai akses utama.

Jalur tersebut kini terganggu akibat kemarau dan terhentinya operasional kapal angkutan barang.

Di Long Pahangai, harga beras yang biasanya dijual sekitar Rp 450 ribu per karung kini melonjak lebih dari dua kali lipat.

Sementara itu, gas elpiji ukuran 12 kilogram yang umumnya dijual Rp 350 ribu per tabung, kini dibanderol hingga Rp 800 ribu.

Lonjakan harga ini membuat masyarakat semakin kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Lay (33), warga Long Pahangai, mengungkapkan bahwa kenaikan harga terjadi dalam waktu relatif singkat.

Ia menyebut kondisi tersebut sangat memberatkan warga, terutama karena tidak ada alternatif lain untuk mendapatkan bahan pokok dengan harga lebih terjangkau.

“Di tempat kami, harga beras sudah ada yang Rp 1 juta per karung. Gas elpiji 12 kilogram sekarang sampai Rp 800.000. Kalau begini terus, kami makin berat,” ujarnya saat dikonfirmasi pada Senin (2/2/2026).

Lonjakan harga juga dirasakan warga Kampung Long Isun, yang masih berada di Kecamatan Long Pahangai.

Lusia (32), salah satu warga, menjelaskan bahwa kenaikan harga kebutuhan pokok sebenarnya sudah mulai terjadi sejak beberapa waktu lalu, tepatnya ketika kapal-kapal angkutan sungai berhenti beroperasi.

Menurutnya, distribusi barang ke wilayah pedalaman sangat bergantung pada transportasi sungai.

Lusia merinci, sebelum kondisi distribusi semakin terganggu, harga beras masih berada di kisaran Rp 470 ribu per karung.

Sementara bawang dijual Rp 80 ribu, minyak goreng Rp 120 ribu per 5 liter, gula Rp 22 ribu, cabai Rp 100 ribu, gas elpiji ukuran besar Rp 350 ribu, dan elpiji ukuran kecil Rp 100 ribu.

Namun dalam beberapa hari terakhir, harga-harga tersebut kembali merangkak naik karena pasokan barang semakin terbatas.

“Kalau kapal tidak jalan, barang susah masuk. Harga cepat naik, sementara kami di kampung tidak punya banyak pilihan,” kata Lusia.

Kondisi serupa juga dirasakan warga Ujoh Bilang, Kecamatan Long Bagun. Putry (27) mengatakan bahwa kemarau yang berlangsung sekitar dua pekan terakhir memperparah kondisi distribusi barang melalui jalur sungai.

Penurunan debit air sungai membuat kapal-kapal pengangkut barang tidak dapat beroperasi secara optimal.

“Kebanyakan barang masuk lewat kapal karena bisa muat banyak. Mobil ada, tapi mahal dan akses jalannya belum sepenuhnya bagus, jadi orang lebih memilih kapal,” ujar Putry.

Ia menjelaskan, ketika debit air sungai menurun, kapal hanya bisa berlayar sampai titik tertentu.

Jika kondisi semakin parah, distribusi barang terpaksa dialihkan menggunakan speed boat yang memiliki kapasitas lebih kecil dengan biaya operasional jauh lebih mahal.

“Kalau kemarau seperti ini, long boat tidak bisa sampai ke perbatasan, khususnya ke Kecamatan Long Apari,” ujarnya.

Di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok di wilayah pedalaman Mahakam Ulu, masalah distribusi juga semakin diperparah oleh terhentinya operasional kapal angkutan sungai.

Sedikitnya 28 kapal pengangkut barang dan penumpang yang melayani rute Kutai Kartanegara, Kutai Barat, hingga Mahakam Ulu terpaksa berhenti beroperasi sejak Jumat (23/1/2026).

Pemilik kapal sekaligus Ketua Organisasi Angkutan Mahakam Ulu (Orgamu), Husaini Anwar (69), mengatakan bahwa kapal-kapal tersebut tidak dapat berlayar akibat kosongnya stok bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Selain itu, belum terbitnya rekomendasi baru dari instansi terkait turut menghambat operasional armada angkutan sungai.

“Kami sudah diminta melengkapi berkas untuk 28 kapal. Ada penyampaian rekomendasi BBM akan diberikan sementara selama tiga bulan sambil mengikuti aturan baru BPH Migas, Peraturan BPH Migas Nomor 2 Tahun 2023. Tapi sampai sekarang BBM-nya belum ada,” kata Husaini.

Menurut Husaini, ketidakpastian tersebut memicu keresahan di tengah masyarakat, khususnya para buruh kapal dan pekerja angkut.

Sejumlah anak buah kapal (ABK) terpaksa pulang ke rumah masing-masing karena tidak ada aktivitas pelayaran. Sementara itu, buruh angkut kehilangan penghasilan selama lebih dari sepekan terakhir.

Pantauan di dermaga menunjukkan kapal-kapal masih tertambat dan tidak beroperasi. Penumpang serta barang, termasuk kebutuhan pokok, terlihat menumpuk dan belum dapat didistribusikan ke wilayah pedalaman.

Kondisi ini dikhawatirkan akan terus mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok di Mahakam Ulu jika distribusi tidak segera kembali normal.